The Drama called Applying Visa

Harus ngurus visa yah?? duuh..pasti ribet banget!

Mengurus visa memang sudah jadi momok paling malesin dan mungkin nakutin bagi tiap orang yang mau berpergian ke luar negeri.  Apalagi bagi yang sebelumnya sama sekali belum pernah mengurus visa.  Entah mengapa, rasanya tiap kalau mau mengurus visa persiapannya udah kaya ngalah-ngalahin persiapan SPMB (halah, bahasanya. Jadi keliatan umurnya berapa).  Mulai dari cari tau syarat apa aja yang harus dibawa, segala kerepotan nyiapain persyaratan, kekhawatiran ditanya macam-macam saat interview, bahkan sampai deg-degan nungguin passport kembali ke tangan beserta cap atau stiker visa.

Sampai saat ini saya sudah pernah mengurus visa aussie, US, schengen, KSA, UAE, dan korea selatan. Masing-masing proses punya drama tersendiri, kecuali KSA karena waktu itu diurus travel agen buat haji, atau aussie dan US karena waktu itu masih kecil dan ngintil orang tua. Well, yang bener-bener gwe inget dari pengurusan visa aussie dan US adalah, tiap hari gwe selalu diwanti-wanti sama keluarga, “kalau kamu ditanya, mau ngapain disana, jawab aja ‘I’m going to holiday’. Inget yaa!”. I think that was one of my first english sentence other than “hello, my name is Yoan”. Hahaha!

Drama yang paling tidak mungkin saya lupakan adalah UAE. Dua kali saya mengurus UAE. Yang pertama sudah pasti gagal dan yang kedua lolos saat injury time. Yang pertama, hanya gara-gara saya wanita dewasa (tsaaah), belum married dan tidak berangkat dengan orang tua. Padahal saya berangkat dengan Oma. Tidak peduli dengan segala bukti kalau saya adalah cucu kandungnya, pokoknya tolak! hiiiks..:( Tapi ditolak serta-merta itu mungkin gak terlalu bikin stress dibanding di-pending tanpa kejelasan, ditarik ulur, padahal jadwal keberangkatan sudah semakin dekat. Usaha kedua saya apply visa UAE benar-benar sampai menguras emosi. Kali ini, saya merasa PD karena berangkat dengan orang tua. Eeh, ternyata dipermasalahkan dengan alasan gak masuk akal : Di saat pulang, saya dan orang tua saya tidak kembali ke tempat yang sama. Saya kembali ke Indonesia, orang tua melanjutkan perjalanan ke Belanda. Argh! kenapa juga masih dipermasalahkan coba, padahal kami sudah berniat untuk meninggalkan negaranya, kan? Lucunya, begitu visa saya keluar, justru visa orang tua saya yang belum keluar. Lah, katanya kalau masuk harus barengan?? diiih! Untungnya visa ortu saya pun keluar, H-2 menjelang keberangkatan! Jyah…

Waktu saya mengurus visa Schengen, tidak ada drama super heboh seperti UAE. Kecuali saya yang harus keluar lagi karena salah ukuran foto dan mati bosan nunggu antrian gara gak bawa bacaan dan baru inget kalau semua gadget harus dititipin. Tapi rasanya, mengurus visa Korea Selatan adalah yang paling mudah, cepet, dan gak berasa. Bayangannya, antrian bakal panjang dan di dalam bisa berjam-jam nunggu. Jadilah waktu itu saya dan gerombolan datang pagi-pagi banget. Datang jam 9 pagi…jam 9.15 sudah beres!! Tinggal bawa dan masukin syarat-syarat yang diminta, gak ditanya apa-apa, diminta bayar 30 USD (dalam rupiah. Waktu itu saya bayar 294.000 tergantung kurs hari itu), dan voila! kita pun dikasih kuitansi tanda bukti pengambilan. Cukup menunggu 4-5 hari kerja, bisa deh diambil paspor dan visa kita. And what i mean by “masukin syarat-syarat yang diminta” is the only requirments they want. Only those. Gak perlu masukin itinerary pesawat atau bookingan hostel seperti yang biasanya dengan heboh dipersiapkan atau ditanyakan kalau mau apply visa negara lain. Karena ternyata segala macam dokumen kaya gitu disingkirkan. Padahal waktu itu saya sudah sempet lari ke mobil karena dokumen-dokumen itu ketinggalan di mobil. Bisa nih, dicek ke web-nya kedutaan korea buat ngeliat syarat-syarat visa yang dibutuhin di sini

Well, intinya sih buat nyaipin Visa gak perlu terlalu panik. Jangan terlalu percaya berbagai macam takhayul seperti kedutaan yang menolak nama-nama tertentu atau pun paspor yang masih kosong.  Siapin segala macam berkas-berkas yang diperlukan, siapin juga bukti-bukti yang menunjang kalau kita gak akan “ngerepotin” atau mencoba tinggal secara ilegal di negara mereka. Kalau gak mau repot, udah mulai banyak kok travel agen yang melayani pengajuan visa. Tapi tentu saja jadi mahal banget. Biaya Visa mungkin hanya 500 ribu, tapi biaya agen jadi 2 juta. Belum tentu lolos lagi..heaaah! Nikmati aja setiap prosesnya, bisa jadi pengalaman buat ngajuin visa kooo…Ayo, buktiin kalo pemegang paspor ijo Indonesia bisa mandiri dan keliling dunia 😉

[How To] Get a Schengen Visa pt.2

Di post gwe sebelumya yang ini , gwe sempat menyebutkan kalau gwe gak perlu ke kantor kedutaan untuk mengurus pemohonan visa gwe.  Setelah sekitar 4 hari menunggu, tiba2 gwe dapat kabar dari Dona kalau gwe harus ke kedutaan sendiri.  Ternyata, mau bagaimana pun juga, pemegang paspor hijau harus datang sendiri dan tidak boleh diwakilkan.  Beda dengan passport diplomat berwarna hitam milik dona yang memang tidak apa2 diwakilkan.  Bahkan ketika dona bertanya tentang pengurusan permohonan visa, orang kedutaannya justru dengan ketus bertanya mengapa Dona sendiri yang mengurus visanya padahal ia memegang passport diplomat.  Karena selama ini biasanya para diplomat2 itu tentu diurusin sama orang deplu.

Jadilah, jumat pagi gwe pun mengunjungi kantor kedutaan besar Jerman yang beralamat di Jalan MH.Thamrin no.1 (tepat disebelahnya Hotel Oriental Mandarin).  Berhubung orang deplu yang akan membawa berkas-berkas gwe kesiangan, gwe pun menunggu di mobil hingga hampir 2 jam. Wuih, cobaan cukup berat sudah langsung menghampiri.

hint : bagi yang mau datang ke kedutaan jerman, karena tidak diperbolehkan parkir di kedutaan (ya, iya lah), kita harus mencari tempat lain untuk memarkir mobil kita (bagi teman2 yang emang bawa mobil).  Karena kedutaan jerman terletak dekat dengan bunderan HI, tentu banyak lahan parkir yang disediakan.  Tapi menurut gw tempat paling enak untuk ‘numpang’ parkir adalah di parkiran Hotel Mandarin Oriental. Parkir lah di gedung parkir lantai 1. Disitu ada jalur yang mengarah ke hotel dan juga ke pintu keluar hotel yang di jalan MH.Thamrin.  Voila! Keluar dari pintu tersebut, kantor kedutaan ada di samping kiri anda!

 

Sekitar pukul 9, akhirnya gwe pun menemui Pak Musa, orang deplu yang membawa berkas gwe.  Hal pertama yang perlu dilakukan adalah, mengantri! Antri lah di depan gerbang untuk diperiksa passportnya oleh Satpam. Oya, di Satpam ini kalian juga bisa meminta formulir permohonan Visa kalau kalian belum sempat membawanya dari rumah.

Hal kedua yang perlu dilakukan, mengantri! Kali ini kalian harus mengantri untuk melewati bagian keamanan. Matikan HP yang kalian bawa, taruh di dalam keranjang. Taruh tas di atas meja untuk diperiksa oleh satpam. Jika lolos, anda bisa masuk melewati alat pemindai badan.  Setelah itu, ambil tas kalian, tapi jangan ambil HP kalian! Semua kantor kedutaan (yang gwe tau) melarang pengunjung untuk membawa HP. Tapi tenang, HP kalian akan dititipkan di dalam safe deposit box dan kalian akan diberikan kalung yang digantungkan kunci box tersebut dan ID card pengunjung.  Selain itu kalian juga akan mendapat nomor antrian (means, another queuing to do 😛 )

Hal ketiga, mengantri lagi (oh, jangan dulu mulai bosan..ini belum seberapa). Kali ini, kalian mengantri untuk melewati bagian pemeriksaan kelengkapan berkas. Di sini bakal di cek satu- satu berkas-berkas yang kalian bawa dan kalian akan ditanya beberapa pertanyaan mendasar, seperti tinggal di mana nanti di sana, pergi dalam rangka apa, dan sebagainya.

Di sini saya mendapat sedikit kesialan.  ternyata ukuran foto untuk visa gwe salah! ukurannya sudah benar, 3,5×4,5. Tapi sayang, tidak biometrik! yang dimaksud dengan biometrik adalah 80% dari foto itu adalah wajah kita. Jadilah gwe terpaksa keluar dan pergi ke Sabang untuk mengambil foto lagi.  Tapi jangan terlalu khawatir, begitu kalian sudah membawa kelengkapan berkasnya lagi, kalian bisa langsung naik ke lantai dua untuk mengikuti proses selanjutnya, jadi tidak perlu mengantri lagi di bagian pemeriksaan kelengkapan berkas yang pertama.

find out more what to do