Release your mind, fullfil your appetite at Angkor Wat’s Sunset & Samara Dance

Setelah 7 jam menahan pegal, kaki ketekuk, sampai salah tingkah saking bingungnya, akhirnya sampai juga saya dan Tati di Siam Reap, kota dimana Angkor Wat terletak. Jujur saja, kami sempat heran karena bis tiba-tiba berhenti di suatu tempat antah berantah, yang tampaknya merupakan stasiun atau tempat pemberhentian bis tersebut. Sama sekali tidak ada apa-apa disekitar tempat pemberhentian itu. Gersang, bahkan tidak ada bangunan sama sekali. Yang ada hanyalah puluhan supir tuktuk yang langsung mengerubungi penumpang bis untuk menawarkan jasanya mengantarkan ke pusat kota. Saya dan tati sempat panik, karena ternyata tempat kami turun jauh dari kehidupan. Beberapa penumpang bis ternyata sudah memesan tuktuk untuk menjemput mereka. Baru lah saya sadar, mengapa begitu banyak hotel di Siam Reap yang menawarkan jasa antar jemput pelanggan.

Untunglah banyak supir-supir tuktuk yang memang standby dan belum di booking di tempat pemberhentian bus tadi (saya tetap tidak menganggap itu stasiun, karena memang sama sekali tidak layak disebut sebuah stasiun). Mata saya tertuju pada seorang pria, dengan paras khas khmer. Senyumnya terlihat ramah dan cara bicaranya lucu dan menyenangkan. Dia meyakinkan saya dan Tati bahwa dia supir tuktuk yang terdaftar dan punya rompi khusus yang menandakan dia bukan supir tuktuk asal-asalan yang sering mangkal di pinggir jalan. Setelah nego-nego, maka kami pun memutuskan untuk menggunakan jasa tuktuk darinya selama kami di Siam Reap. Nama supir tuktuk tersebut Yoyo, dan dia ataupun kami mungkin tidak menyadari seberapa bersyukurnya saya dan Tati mendapatkan supir tuktuk sebaik dia selama di Siam Reap.

Saat kami tiba di Siam Reap, hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kami pun memutuskan untuk check-in di Hotel terlebih dahulu untuk sekedar meletakkan tas dan istirahat sejenak. Hotel yang kami pilih untuk tinggal di Siam Reap adalah Golden Temple Villa. Kami harus mengeluarkan dana sebesar $20 semalam tanpa mendapatkan sarapan. Untuk sarapan, kita harus menambahkan $5 lagi tiap kamarnya. Saat datang, kami mendapatkan welcome drink berupa Lemon Tea. Lemon Tea tersebut disajikan dingin dengan gelas seng yang diukir seperti ukiran candi. Somehow, rasanya segeeer banget! Agar tidak ribet, saya dan tati pun makan di café yang terdapat di Hotel. Karena ketagihan dengan rasa Amok yang kami makan di PNH, kami pun memesan lagi Amok Set. Tapi sayang, bentuk dan rasanya jauuuh banget bedanya sama yang kami makan di PNH. Huhuhu…

Amok yang disajikan di Golden Temple Villa. Rasanya tidak seenak yang disajikan di Khmer Saravan, Phnom Penh 😦
Ice Lemon Tea ini bener-bener berasa segeeer banget disantap setelah perjalanan jauh dan hawa panas yang menyengat waktu itu

Untuk bule, mungkin mereka akan menganggap hotel ini sangat eksotis. Desainnya dibuat tropis dengan beberapa sentuhan khmer. Tempat tidurnya bahkan ada kelambu! Jujur sih, saya dan Tati lebih prefer dengan konsep modern minimalis Silver River hotel sewaktu di PNH. Tapi ya sudah lah, toh hotel hanya sebagai tempat tidur dan mandi doang 😀

Suasana kafe di Golden Temple Villa

Sekitar pukul 4, kami pun bergerak menuju Angkor Wat. Atas saran Yoyo, cara yang paling pas untuk berkunjung ke Angkor Wat adalah membeli tiket pada sore hari, masuk untuk menikmati sunset, lalu karena tiket pada sore hari dapat digunakan lagi keesokan harinya, maka kita tidak perlu lagi membeli tiket saat ingin menyaksikan sunrise di Angkor Wat. Bahkan setelah menikmati sunrise, kita bisa langsung mengeksplore kompleks Angkor Wat sebelum matahari sudah mulai panas. Ini merupakan cara yang lebih praktis daripada kita meemilih untuk menikmati sunrise terlebih dahulu, karena biasanya, turis jadi bolak-balik keluar-masuk Angkor Wat saat mau menyaksikan Sunset. Tidak mungkin kita dari subuh hingga petang terus-terusan di Kompleks Angkor Wat kan?? Selain mungkin kita punya tujuan lain, panaaass boooo setelah di atas jam 12! Kecuali, ya kalian adalah arkeolog yang bener-bener hobi ngecekin reruntuhan candi secara detil 😛

Pose pertama di depan angkor wat sembari menunggu Sunset 😀

Tiket masuk ke Angkor Wat yang one day pass seharga $20. Untuk berjalan-jalan di kompleks Angkor Wat, kita memang membutuhkan kendaraan. Yoyo pun segera memacu tuktuknya ke Candi utama Angkor Wat. Disebut candi juga mungkin kurang tepat yah, karena dulu katanya Angkor Wat merupakan tempat kediaman raja. Saat kami sampai di sana, Angkor Wat sudah rama dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati sunset. Karena saat itu masih pukul 5 kurang, saya dan Tati pun memutuskan untuk sedikit mengintip ke dalam candi Angkor Wat. Dan kami pun hannya bisa terperangah. Kompleks istana Angkor Wat sangat teramat luas. Dikeliling oleh danau, kami harus menyusuri jalan setapak yang disusun dari batu-batu besar untuk masuk melalui gerbang. Setelah gerbang yang sangat lebar, ternyata bangunan utamanya masih jauuuh banget. Ada pemisah pelataran yang sangat luas antara gerbang dengan bangunan utama. Ada banyak batu-batu reruntuhan yang tampaknya belum disusun kembali saat proses restorasi.
Pada bangunan utama Angkor Wat, terdapat kolam yang tampaknya dulu digunakan sebagai tempat pemandian. Terdapat juga pelataran lagi yang mengantarkan kita ke puncak Angkor Wat. Sayangnya, tangga curam yang mengantarkan ke puncak sudah tutup diatas jam 5. Jadi lah kami hanya berkeliling sejenak sebelum kembali lagi ke bawah untuk mencari spot terbaik menikmati sunset. Toh, besok kami akan datang lagi 😉

Sunset at the lake in front of Angkor Wat

Begitu “pertunjukkan” sunset usai, kami segera kembali mencari Yoyo. Lucunya, selama kami di sana, yoyo selalu bisa menemukan kami untuk selanjutnya datang menghampiri dari antah berantah. Berhubung sudah malam, kami pun meminta Yoyo mengantarkan ke tempat makan dimana kami bisa sekalian menikmati Samara dance. Memang bukan hobi saya untuk menikmati pertunjukkan tari begitu, tapi biarlah, biar lebih afdol mengunjungi Siam Reap-nya. Hahaha!
Kami diantarkan Yoyo ke salah satu tempat terkenal yang menyajikan makanan dimana kita bisa sekaligus bisa menikmati pertunjukan Samara, bernama Koulen Restaurant. Untungnya kami masih bisa mendapatkan tempat karena biasanya kita harus reservasi terlebih dahulu. Saran saya, minta tempat duduk di tengah, tapi paling belakang, agar bisa dengan mudah bolak-balik mengambil makanan. Hehehe! Tenang saja, toh pertunjukan tetap bakal terlihat kok, karena kan semua orang duduk sambil menikmati makanan 😀

Samara Dancers last pose after the show

Untuk menikmati Samara di Koulen, kita diharuskan membayar sebesar $12 sudah termasuk makan malam sepuasnya yang disajikan secara buffet. Tapi unutk minuman kita harus memesan lagi yaahh…Makanannya lumayan, banyak macamnya. Tapi yang paling benar-benar menggugah selera adalah spring roll khas kamboja yang berisi sayuran dan tidak digoreng. Rasanya segeer….Begini nih, bentukannya

Cambodian Spring Rolls

Selesai makan, kami pun meminta Yoyo untuk diantarkan ke Hotel. Kami berencana untuk jalan ke Night Market dari hotel. Golden Villa Temple ini termasuk memiliki posisi yang sangat strategis. Cukup dengan berjalan kaki, kita bisa berpergian ke night market, central market, atau bahkan ke Pub Street tempat berkumpulnya cafe-cafe di siam reap. Karena sudah lelah, kami pun memutuskan untuk ke night market terlebih dahulu. Night market ini menarik. Dan ingat, semakin kedalam semakin malam, semakin murah barang-barang yang dijual. Untuk kalian yang suka membeli kaos-kaos, sayang sekali di kamboja kaos-kaos yang dijual bahannya sangat gak bagus dan tidak menyerap keringat. Saya menemukan kios kecil milik orang jepang di pojok belakang Night Market dekat Island Bar. Dia menjual beberapa kaos yang menurut saya sangat layak untuk dijadikan oleh-oleh. Sayang tidak bisa ditawar, tp toh harganya memang termasuk yang paling murah untuk kaos berbahan baik disekitar night market situ. Island bar sendiri merupakan bar ditengah-tengah night market. Bentuknya cozy, membuat kesan seperti di carribean. Buat para pria-pria yang mau melepas lelah sembari nunggu para wanita selesai belanja, Island Bar ini bisa jadi pilihan tempat yang seru buat duduk-duduk dan minum-minum. Di sekitarnya juga banyak ko tempat-tempat yang menyediakan jasa pijat refleksi. Tapi saya dan Tati tidak terlalu lama berjalan-jalan di Night Market malam itu. Kami memutuskan untuk cepat istirahat mengingat besoknya harus bangun subuh untuk mengejar sunrise di Angkor Wat. Banyak hal-hal yang menarik pastinya yang bisa dilakukan esok harinya 😉

Tati at the night market. Selusuh apapun, secapek apapun, tetep nenteng belanjaan 😀

Phnom Penh – Siam Reap by Bus : All you need is just close your eyes!

Setelah mengabiskan 1 malam 1hari di PNH, saya dan Tati pun melanjutkan perjalanan ke Siam Reap.  Kami memutuskan untuk pergi ke siam reap dengan bis pada pagi keesokan harinya. Hari sebelumnya, saat baru sampai dari airport, kami sudah diantarkan Nora ke stasiun bus. Sebenarnya agak mahal kalau dibandingkan dengan info2 yang saya temukan di internet. Kami harus merogoh kantong sebesar $10 untuk bis yang akan mengantarkan kami ke Siam Reap.  Sengaja kami memilih jadwal keberangkatan sepagi mungkin agar kami masih dapat menikmati Siam Reap di siang hari, mengingat perjalanan akan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Bisnya agak unik. Dari luar, terlihat seperti bus tingkat. Memang bus tingkat sih, tapi semua penumpang duduk di bagian atas, karena bagian bawah seluruhnya dipakai untuk barang-barang. Saking luasnya tu tempat penyimpanan barang, bahkan saya sempat melihat beberapa motor yang diparkir di situ…weleh.

Tidak banyak yang bisa saya jelaskan tenang perjalanan Phnom Penh – Siam Reap…tepatnya, tidak ada sama sekali!! Sepanjang perjalanan kami hanya dihadapi dengan hamparan sawah atau rerumputan yang sangat gersang. Sama sekali tidak ada rumah penduduk ataupun kota-kota kecil yang menghubungkan dua kota tersebut. Kalau pun ada rumah penduduk, tampaknya dibangun seadanya oleh partai setempat. Saking tidak ada satupun yang bisa dibaca selama perjalanan, saya pun sampai hapal dengan nama salah satu partai yang ada di Kamboja : Cambodain People Party.  Sampai-sampai saya salah baca menjadi cambodain party people….yoooww, party people in the house, yooow!!

Hanya inilah sajian pemandangan yang ditawarkan..gimana gak mati gaya??
From Kamboja Trip 2012

Saking lamanya perjalanan dan tidak ada yang bisa dilakukan, saya dan Tati pun mati gaya. Ngobrol, sampai kehabisan topik. Mau tidur, lumayan dapat tidur 2 jam, eehh perjalanan masih jauh dan mau tidur lagi juga bosan.  Kami memang sempat berhenti untuk istirahat sejenak dan ke toilet. Saya dan Tati bahkan sempat memesan kelapa muda dan kelakukan kami yang makan langsung di buahnya, cukup menarik cewek-cewek turis dari Jerman yang cengar-cengir ngeliatin.  Akhirnya di sisa perjalanan saya pun menguping atau memperhatikan penumpang lainnya.  Dibelakang kami, 2 cewek Jerman, saling curhat tentang gebetannya (saya jadi sedikit melatih pendengaran bahasa jerman saya :P). Tapi berhubung mereka berbicara dengan bahasa Jerman yang sangat cepat, saya pun dengan cepat pula menyerah. Setelah itu, 2 cowok jepang yang duduk di samping kami. Mereka tampaknya juga kehabisan ide. Setelah tidur, mereka ngobrol2, trus dengerin lagu sendiri2, trus dengerin lagu bareng2 and akhirnya nyanyi2 bareng! hahahaha…

Ada satu kejadian unik. Ditengah jalan, beberapa kali bis berhenti untuk menurunkan atau mengangkut penumpang. Kalau mengangkut, ya masih masuk akal aja sih. Tapi kalau menurunkan….ini yang bikin saya heran.  Di tengah antah berantah dan kegersangan tingkat tinggi gitu, si penumpang yang turun itu bisa tau dari mana kalau mereka turun di tempat yang bener?? secara segalanya terlihat bener2 sama….ajaib!!

Cambodia, here we come!

Royal Palace, Phnom Penh

Kamboja? Mengapa kamboja? mungkin itu yang banyak dipertanyakan orang begitu saya memutuskan Kamboja sebagai tujuan berlibur mengisi libur panjang di bulan Maret kemarin.  Keinginan untuk pergi ke kamboja sebenarnya bermula saat saya membaca buku Life Traveler by Windy Ariestanty yang menjelaskan bagaimana perjalanan dia keliling Indochina.  Begitu selesai membaca bukunya, saya jadi mikir, lah, kenapa pusing-pusing mikirin tempat jauh-jauh dengan biaya yang seabrek, kalau asia tenggara sendiri aja belum pernah terjamah semuanya.  Jadilah pilihan jatuh ke Vietnam atau Kamboja. Alasan utama? biar lucu aja gituh, eksotis-eksotis gimanaaa gituh…(heeaa)

Sebenarnya waktu saya dan Tati (korban impulsif traveling kali ini) sedang sibuk-sibuknya mencari tiket, pesawat menuju Vietnam banyak yang sedang promo.  Tapi saya termasuk agak picky kalau udah masalah tujuan.  Dengan waktu liburan yang terbatas (waktu itu sebisa mungkin gak boros-boros sama cuti) dan duit yang juga agak terbatas, saya gak mau merasa liburan jadi terkesan dipaksakan dengan hasil yang kurang memuaskan.  Setelah search sana-sini, buka trip advisor & lonely planet, ngitung-ngitung bujet dan keterbatasan waktu untuk buat itinerary yang pas, maka diputuskan lah Kamboja! Nah, bagi yang nanyak, ada apa aja sih di kamboja?? Bukannya disana bahaya yak kondisinya? Mungkin, akan sedikit saya ingatkan, tau Angkor Wat? Kompleks candi yang dijadikan tempat syuting Tomb Raider? Itu ya terletak di Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap looh…Kondisi di sana aman atau nggak, bakal saya ceritain di post-post berikutnya yaahh…:)

Saya dan Tati memanfaatkan long weekend saat libur Nyepi. Kami pun memutuskan berangkat pada tanggal 21 Maret, malam harinya.  Dimana kami cuti sehari pada tanggal 22 Maret.  Jadi total kami punya 4 hari full perjalanan.  Dan dikarenakan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta – Kamboja, pilihannya adalah transit lewat Singapur atau Malaysia. Dengan mempertimbangkan waktu, akhirnya beginilah itinerary yang dipilih :

    1. Jakarta – Kuala Lumpur : 20.35 WIB, 21 Maret 2012
    2. Kuala – Lumpur – Phnom Penh : 07.00 (waktu kuala lumpur = WITA), 22 Maret 2012
    3. Phnom Penh – Siem Reap (by bus) : 07.15 (waktu Phnom Penh = WIB), 23 Maret 2012
    4. Siem Reap – Kuala Lumpur : 08.35 (waktu siem reap = WIB), 25 Maret 2012
    5. Kuala Lumpur – Jakarta : 17.30 (waktu kuala lumpur), 25 Maret 2012

Jadi total ada 4 hari 3 malam, 1 hari 1 malam di Phnom Penh dan 3 hari 2 malam di Siem Reap 🙂

Yang cukup seru adalah waktu berangkatnya. Karena berangkatnya malam jadi  lah terpaksa menginap di airport Kuala Lumpur untuk menunggu pesawat ke Phnom Penh.  Dengan sok yakinnya saya berasumsi kalau kehidupan malam di Airport Kuala Lumpur kurang lebih akan sama dengan Changi di Singapur. 24 Jam non-stop. Bayangan saya, palingan bisa lah jalan dari LCCT ke KLIA untuk mengisi waktu sambil duduk-duduk di kafe.  Dengan PDnya, berangkat lah saya dan Tati dengan bis ke KLIA jam 11 malam.  Melewati sirkuit sepang dan jalan tol yang tidak ada apa-apa, kami pun mulai merasa agak ragu.  Jalanan benar-benar sepi.  Dan benar saja, begitu sampai di KLIA, yang kami lihat hanyalah orang-orang yang mengantri dan kondisi airport KLIA begitu lengang dan mulai gelap.  Saat kami tanya, apakah bis ini akan kembali ke LCCT, supir pun berkata kalau bis ini akan ke central dan baru ada bis ke LCCT besok pagi pukul 5.30. Jiah! Nekat, kami pun tetap turun ke KLIA, dan berharap ada cara untuk bisa ke LCCT malam itu juga.

KLIA di waktu malam benar-benar kosong.  Semua kafe tutup, hanya ada satu toko semacam convenience store yang buka.  Aneh, padahal masih banyak penerbangan yang akan tiba pada malam/dini hari.  Memang sih, tampaknya tidak ada penerbangan keluar.  Terlihat bingung, kami pun didatangi petugas airport.  Penjelasan sama pun kembali dilontarkan dia, kalau bis mengarah ke LCCT sudah tidak ada lagi jam segini (waktu itu sudah setengah 12 malam).  Akhirnya dia pun menyarankan untuk naik taksi airport dan mengantarkan kami kembali ke LCCT.  Setelah membeli roti dan susu sebagai bekal cemilan, kami pun terpaksa merogoh 60 MYR (180,000 IDR) untuk biaya taksi ke LCCT. Damn! =))

Simpang siur dihadapan penumpang yang "terdampar"

Lalu, dari jam 1 sampai jam 7 di LCCT ngapain coba?? Berhubung semuuuaa toko dan bahkan airport tutup, terpaksa kami bergabung dengan ratusan penumpang terdampar di selasar-selasar dan teras airport.  Benar-benar “ngegembel” dalam artian sepenuhnya.  Jadilah kami duduk di selasar, di depan kios Body Shop berdampingan dengan pasangan bule yang juga sama-sama udah gak jelas bentuknya, si istri tidur beralaskan selendang, di suami bermain ipod sambil jaga barang.  Agak-agak shock sebenarnya, masak kita akan terus berada dalam keadaan mengenaskan begitu hingga jam 5? Kalau melihat jadwal penerbangan, harusnya pintu airport kembali dibuka pada pukul 2, karena ada penerbangan pukul 3 lebih.  Untung ada wi-fi umum, jadilah saya bisa mengisi waktu dengan bbm-an sambil menunggu pintu dibuka. Kalau seandainya tidak ada wi-fi gratisan di airport LCCT, ntah itu bagaimana kami mengisi waktu.  Paling tidak, bisa mengirit biaya untuk saling bertukar kabar dengan keluarga & pacar di Indonesia

Sesuai dugaan, pintu airport dibuka sekitar jam setengah 2.  Kami pun segera masuk dan mencoba mencari tempat yang enak untuk duduk atau tidur sekenanya. Jadilah tema “ngegembel” berubah menjadi “ngedeprok” 😛

Tati yang sudah mendeprok setelah berjam-jam menggembel

Setelah menyempatkan diri makan di restoran cepat saji Malaysia bernama Marrybrown, lalu bolak-balik ke kamar kecil dengan agak panik karena tidak bisa BAB tapi takut kalau-kalau baru berasa di pesawat, ubah2 posisi duduk, punggung & bahu pegal karena bawa-bawa tas ransel dan tas kamera yang lumayan berat, akhirnya Air Asia AK-1472 yang membawa kami ke Phnom Penh pun terbang tepat waktu, mengantarkan kami yang sudah ntah bagaimana wujudnya namun semakin excited.

Cambodia, here we come!

Notes for the one who should spend a nite in LCCT :

Meskipun LCCT ataupun KLIA (dua airport utama di Kuala Lumpur) tidak sepenunya aktif 24 jam, tapi ternyata banyak juga traveler yang sengaja menggembel nunggu jadwal penerbangan di sana.  Padahal sebenarnya banyak restoran cepat saji yang tersedia, tapi memang sayang sekali, restoran-restoran itu juga gak sepenuhnya buka 24 Jam.  Berikut tips-tips yang mungkin bisa dipakai kalau harus bermalam di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur :

  1. Segera cari tempat yang enak buat selonjoran di selasar/teras airport. Gak perlu malu, toh semua orang begitu.  Cari tempat yang ada senderannya, enak buat naro troli, atau paling nggak bisa dipakai buat tidur-tiduran
  2. Cek penerbangan terpagi yang ada. Waktu kasus saya, penerbangan terpagi ada sekitar pukul 4 kurang.  Karena biasanya tempat check-in buka 2 jam sebelum keberangkatan, kita bisa memperkirakan pukul berapa pintu utama airport dibuka untuk umum.  Terus kalau udah dibuka gimana? ya pindah tidur-tiduran di dalam! lebih dingin dan kursi yang bisa dipakai duduk/tidur juga banyak..hehehe!
  3. Restoran cepat saji seperti Marrybrown atau McD tidak buka 24 jam.  Begitu juga dengan cafe seperti Starbuck dan Coffee Bean.  Jadi untuk berjaga-jaga, beli roti atau air mineral dari toko yang buka sampai tengah malam.
  4. LCCT sangat berbeda dengan Changi! Jangan membayangkan kita bisa tidur-tiduran dengan nyaman atau mudah mencari makan.  Yeah, namanya juga Low Cost Carrier Terminal, KLIA saja gak ada apa-apa, aplg LCCT. Jadi, bagi yang gak kuat sama angin malam, mending bawa senjata jaket/kain tipis deh.
  5. LCCT punya free wi-fi yang open untuk semua pengunjung.Nama wi-finya FREE_WIFI@KLIA. Bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau sekedar mengirimkan kabar ke keluarga di rumah.  Tapi wi-fi ini agak ribet, karena begitu tersambung, kita harus mengaktifkan via browser dahulu. Jaringannya juga sering mati-hidup mengingat pastinya ada ratusan atau bahkan ribuan pengguna wi-fi ini.
  6. Gak bisa tidur-tiduran disembarang tempat atau takut badan malah jadi drop sebelum liburan dimulai? Di sekitar LCCT kalau nggak salah ada beberapa hotel transit, salah satunya Tube Hotel.  Kemarin saya nggak sempet ngecekin tarifnya.  Tapi bisa lah, cek-cek sama mbah Google 😛

Nah, kira-kira begitu lah gambarannya. Happy ngegembel di negeri jiran! 😀

Museum Nasional Indonesia

Sewaktu mencoba aplikasi “World”, salah satu aplikasi semacam traveling advisor di Android, iseng-iseng saya mencoba download penjelasan tentang Indonesia. Di penjelasan itu lengkap berbagai macam pilihan tujuan traveling di Indonesia, mulai dari Bali, Jogja, Krakatau, sampai Jakarta.  Berhubung saya sudah sekitar 7 bulan tinggal di Jakarta tapi sama sekali belum merasa meng-eksplor Jakarta, saya pun mencari-cari bagian mana dari Jakarta yang belum pernah saya kunjungi.  Dan mata saya pun melotot begitu membaca sala satu tujuan wisata, “Museum Nasional Indonesia”.  Bukannya apa, saya kaget…..Indonesia punya museum nasional?!?! (eah!)

Mengaku sebagai penggemar museum, saya pun memutuskan untuk mengunjungin museum ini. Dan ternyata, gak cuma saya yang baru tau tentang museum ini.  Tiap saya tanya teman, mereka pasti bingung dimana letaknya.  Belum lagi ada beberapa yang mengira museum nasional ini menjadi satu dengan Monas.  Yah, mau bagaimana lagi, museum tidak pernah terkenal di Indonesia, kan?

Museum Nasional Indonesia

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Museum Nasional pada hari Sabtu.  Dan ternyataaa…ramai sekali! Kalau tidak salah hitung, ada sekitar 2 rombongan sekola yang datang. Yang bikin seneng, banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka mengunjungi museum sebagai acara akhir minggu mereka. Cukup banyak mobil pribadi yang parkir di tempat parkir museum.  Ah, seandainya antusias mengunjungi museum di Indonesia semakin membesar, jadi museum-museum yang lain pun akan semakin banyak pengunjungnya, terawat, dan berkembang.

Museum Nasional Indonesia berlokas di Jalan Merdeka Barat no.12. Untuk mencapai sana sangat lah mudah dengan menggunakan busway. Cukup turun di halte Monas dan Museum Nasional ada di seberang Monas persis.  Atau kalau menggunakan kendaraan pribadi, tinggal menyusuri jalan Thamrin, terus saja di bundaran sapta pesona, Museum Nasional berada di sebelah kiri jalan dan tepat setelah kementrian pertahanan.

Arca Gajah yang merupakan lambang khas dari Museum Nasional Indonesia

Biaya parkir Museum Nasional 4000 dan langsung dibayar di awal.  Kita akan diberikan tempat parkir di basement atau di halaman belakang untuk bus yang bisa menampung sekitar 10 bus.  Dari tempat parkir ke museum tidak ada tangga tembus sehingga kita harus jalan kaki, naik melalui jalan mobil turun ke basement. Biaya masuk Museum terbagi menjadi perorangan (dewasa Rp 5000, anak-anak Rp 2000), rombongan untuk minimum 20 orang (dewasa Rp 3000, pelajar TK-SMA Rp 1000), dan wisatawan asing dengan biaray Rp 10.000. Sangat disayangkan tidak ada brochure atau pun flyer sebagai panduan yang diberikan di pintu masuk untuk pengunjung.  Padahal area museum termasuk besar.

Coba taruhan, dari mereka mana yang bakal terus mengingat apa yang mereka catat? 😛

Gedung museum terbagi menjadi dua bagian, Gedung Gajah (old wing) dan Gedung Arca (new wing).  Agak lucu juga sistem penamaanya, karena justru di Gedung Gajah lah banyak ditemukan arca-arca.  Di Gedung gajah, koleksi-koleksi museum dibagi dan disusun berdasarkan beberapa kategori :

  • Stone culture collection. Kabarnya, Museum Nasional indonesia memiliki koleksi arca peninggalan Hindu-Buddha terlengkap di Indonesia.  Berasal dari berbagai macam daerah seperti jawa, bali, sumatera dan kalimantan, memang terlihat sekali banyaknya koleksi arca-arca yang dimiliki. Dan saat awal masuk, saya pun disambut oleh archa Ganeca yang membuat saya melonjak girang hanya gara-gara teringat almamater 😛
  • Memasuki ruangan yang ada di belakang, kita bakal disuguhi koleksi-koleksi dari Ceramic collection, Ethnography collection, dan Prehistory Collection. Dari namanya aja udah kelihatan ya, kalau dibagian ini kita bakal disugui koleksi-koleksi keramik dari zaman beheula (ada koleksi piring antik yang bikin saya teringat sama koleksi mama saya 😀 ), lalu ada juga koleksi barang-barang keseharian yang dipakai di zaman dulu dari seluruh wilayah indonesia.  Di sini, barang koleksi diatur berdasarkan wilayah, mulai dari nias & batak, badui di jawa, bali, dan dayak di kalimantan.
  • Di lantai 2, terdapat 2 ruangan yang bernama Treasure Rooms.  Ruangan ini juga terbagi menjadi dua, secara archaelogical dan ethnology.  Di ruangan ini sebenarnya dilarang mengambil gambar.  Tapi dasar bandel, teman saya iseng mengambil gambar di sini…hahaha! Banyak peninggalan emas dan harta benda dari kerjaan terdahulu seperti Mataram. Sayangnya, dibagian Ethnology, ruangan agak bau pengap.  Dan saya yang kebetulan sedang flu langsung merasa sesak dan buru-buru keluar ruangan tanpa melihat-lihat lagi.
Taman tengah Gedung Gajah yang dipenuhi berbagai macam arca

Memasuki Gedung Arca, suasana agak berubah mengingat ini merupakan gedung baru.  Gedung pun dibuat bertingkat hingga lantai 4 untuk memerkan koleksinya.  Di lantai 1, kita dapat mempelajari mengenai Man & Environment.  Mulai dari article pembentukan pulau-pulau Indonesia hingga sejarah perkembangan manusia lengkap dengan beberapa replika ataupun rangka temuan arkeolog (disini saya mendengar “nama lama”, si Mr. Eugene Dubois, si penemu rangka-rangka homo sapiens. “Nostalgia” zaman SD yang unik ya 😛 ).  Sementara di lantai 2, adalah bagian Knowledge, Technology, & Economy.  Mulai dari batu-batu bertulis tentang perkembangan bahasa, hingga alat-alat perekenomian yg dipakai sejak zaman dahulu. Ada juga koleksi berbagai macam senjata, meriam dan pistol dari zaman Belanda.  Sedangkan di lantai 3 adalah bagian Social Organization  & Settlement Patterns.  Di lantai 4 adalah tempat penyimpanan koleksi Treasures & Ceramics.

Lantai 2 Gedung Arca yang memamerkan prasasti-prasasti batu tulis

Gedung Gajah dan Gedung Arca dihubungkan oleh jembatan yang menggunakan dinding berkaca.  Melalui jembatan ini kita juga bisa melihat pemetaan bahasa dan suku bangsa di Indonesia.  Wuiihh,,canggih juga ya ada orang yang rajin memetakan ribuan bahasa di Indonesia.  Jembatan ini juga kabarnya sering dipakai untuk pameran-pameran.

Museum ini, biarpun termasuk museum terbesar di Indonesia, bisa dibilang tidak terawat dengan layak.  Bagian pameran dibiarkan gelap dan berdebu.  Gak ada satupun ruangan yang dibuat nyaman untuk benar-benar memperhatikan barang koleksi.  Padahal, biasanya yang namanya Museum Nasional itu bisa dibilang museum utama dari satu negara.  Sayang banget, padahal museum ini punya hingga 140ribuan barang koleksi.  Yaa..kalau panutannya aja begini, gimana museum-museum lainnya ya?

Singapore National Museum and Kampong Glam

Mungkin ini memang turunan dari kakek saya, tapi saya memang mempunyai ketertarikan sendiri dengan Museum.  Jika berjalan-jalan ke daerah tertentu dan bingung bagaimana menghabiskan waktu, saya akan memilih untuk mencari museum yang ada pada kota tersebut.  Hal ini terjadi sewaktu saya ke Singapore baru-baru ini.

Terus terang, saya tidak suka belanja.  Begitu tau kalau 6 jam sisa waktu di Singapore sebelum kami harus ke airport akan dihabiskan oleh rombongan untuk belanja, saya mulai mencari-cari alternativ tempat yang bisa dikunjungi.  Untung saja layanan Blackberry tidak mati, karena itu saya bisa googling untuk mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan di Singapore selain belanja.  Yang benar saja, berkali-kali ke Singapore gak mungkin hanya dihabiskan di Orchard Road.  Perhatian saya pun tertuju pada National Museum of Singapore.

National Museum of Singapore

click here to know what’s inside