Phnom Penh – Siam Reap by Bus : All you need is just close your eyes!

Setelah mengabiskan 1 malam 1hari di PNH, saya dan Tati pun melanjutkan perjalanan ke Siam Reap.  Kami memutuskan untuk pergi ke siam reap dengan bis pada pagi keesokan harinya. Hari sebelumnya, saat baru sampai dari airport, kami sudah diantarkan Nora ke stasiun bus. Sebenarnya agak mahal kalau dibandingkan dengan info2 yang saya temukan di internet. Kami harus merogoh kantong sebesar $10 untuk bis yang akan mengantarkan kami ke Siam Reap.  Sengaja kami memilih jadwal keberangkatan sepagi mungkin agar kami masih dapat menikmati Siam Reap di siang hari, mengingat perjalanan akan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Bisnya agak unik. Dari luar, terlihat seperti bus tingkat. Memang bus tingkat sih, tapi semua penumpang duduk di bagian atas, karena bagian bawah seluruhnya dipakai untuk barang-barang. Saking luasnya tu tempat penyimpanan barang, bahkan saya sempat melihat beberapa motor yang diparkir di situ…weleh.

Tidak banyak yang bisa saya jelaskan tenang perjalanan Phnom Penh – Siam Reap…tepatnya, tidak ada sama sekali!! Sepanjang perjalanan kami hanya dihadapi dengan hamparan sawah atau rerumputan yang sangat gersang. Sama sekali tidak ada rumah penduduk ataupun kota-kota kecil yang menghubungkan dua kota tersebut. Kalau pun ada rumah penduduk, tampaknya dibangun seadanya oleh partai setempat. Saking tidak ada satupun yang bisa dibaca selama perjalanan, saya pun sampai hapal dengan nama salah satu partai yang ada di Kamboja : Cambodain People Party.  Sampai-sampai saya salah baca menjadi cambodain party people….yoooww, party people in the house, yooow!!

Hanya inilah sajian pemandangan yang ditawarkan..gimana gak mati gaya??
From Kamboja Trip 2012

Saking lamanya perjalanan dan tidak ada yang bisa dilakukan, saya dan Tati pun mati gaya. Ngobrol, sampai kehabisan topik. Mau tidur, lumayan dapat tidur 2 jam, eehh perjalanan masih jauh dan mau tidur lagi juga bosan.  Kami memang sempat berhenti untuk istirahat sejenak dan ke toilet. Saya dan Tati bahkan sempat memesan kelapa muda dan kelakukan kami yang makan langsung di buahnya, cukup menarik cewek-cewek turis dari Jerman yang cengar-cengir ngeliatin.  Akhirnya di sisa perjalanan saya pun menguping atau memperhatikan penumpang lainnya.  Dibelakang kami, 2 cewek Jerman, saling curhat tentang gebetannya (saya jadi sedikit melatih pendengaran bahasa jerman saya :P). Tapi berhubung mereka berbicara dengan bahasa Jerman yang sangat cepat, saya pun dengan cepat pula menyerah. Setelah itu, 2 cowok jepang yang duduk di samping kami. Mereka tampaknya juga kehabisan ide. Setelah tidur, mereka ngobrol2, trus dengerin lagu sendiri2, trus dengerin lagu bareng2 and akhirnya nyanyi2 bareng! hahahaha…

Ada satu kejadian unik. Ditengah jalan, beberapa kali bis berhenti untuk menurunkan atau mengangkut penumpang. Kalau mengangkut, ya masih masuk akal aja sih. Tapi kalau menurunkan….ini yang bikin saya heran.  Di tengah antah berantah dan kegersangan tingkat tinggi gitu, si penumpang yang turun itu bisa tau dari mana kalau mereka turun di tempat yang bener?? secara segalanya terlihat bener2 sama….ajaib!!

1st Day Phnom Penh : Take a nap in traveling?!

Baru pertama kali dalam sejarah per-traveling-an saya, saya benar-benar tepar dan menyerahkan diri ke kasur untuk tidur siang.

Saya dan Tati mendarat di Phnom Penh sekitar pukul setengah 10 waktu setempat. Bagian kedatangan airport Phnom Pehn sama sekali gak ada basa-basinya.  Dari turun pesawat, imigrasi, pengambilan bagasi, terus udah gitu aja keluar gedung.  Di luar kita langsung disambut segerombolan supir Tuktuk yang menawarkan pengantaran ke tempat tujuan.  Rata-rata semua supir tuktuk disitu menawarkan 7 USD untuk pengantaran ke tujuan mana pun.  FYI, tuktuk itu semacam becak yang ditarik motor dan bisa muat untuk 4 orang.  Untuk  USD ber-4 sih murah, tapi sayangnya waktu itu kami cuma ber-2.  Sudah mencoba berbagai macam cara untuk menawar, ternyata memang tarif tuktuk airport segitu.  Jadi lah kami minta diantarkan ke hotel kami di Phnom Penh : Silver River.

Kota Phnom Penh (selanjutnya saya singkat PNH saja ya) sekilas pandang meninggalkan kesan : gersang, berderetan pertokoan, dan tidak ada gedung pencakar langit sama sekali.  Layaknya kota yang baru tumbuh. Rasanya seperti ke daerah Jawa Tengah atau Timur di Indonesia.  Sebelum berangkat tadi, supir Tuktuk kami di PNH, Nora (dia lelaki loh! Namanya manis yahh), menawarkan untuk mengantarkan berkeliling-keling PNH dengan bayaran 20 USD berdua seharian dengan tujuan : Tuol Sleng Museum, Royal Palace, National Museum, dan tempat makan siang, dan hotel. Jadilah kami memutuskan untuk mampir ke Tuol Sleng Genocide museum terlebih dahulu sebelum mampir ke hotel.

Pelataran Tuol Sleng. Masih terdapat alat penyikasaan berupa tiang gantung di halaman bekas sekolah ini

Tuol Sleng Genocide Museum dulunya adalah sekolah yang digunakan sebagai penjara S-21 tempat penyiksaan oleh Pol Pot.  Disini kita bisa melihat kamar-kamar penyiksaan yang dulu digunakan untuk penyiksaan, ruangan yang diberi sekat-sekat sebagai bilik penjara, bahkan foto-foto korban penyiksaan lengkap dengan alat-alat penyiksaannya dan tumpukan tengkorak dari korban-korban pemberontakan dulu.

Bekas ruang penyiksaan yang diubah menjadi galeri untuk memperlihatkan kondisi zaman penyiksaan polpot

Jujur, selama berkeliling kompleks sekolah ini, dada saya sesak.  Bukan sedih atau bagaimana, tapi lebih ke perasaan udara disana pengap dan gak nyaman.  Apalagi tiap memasuki ruangan-ruangan yang dibiarkan seperti waktu pertama kali penjara tersebut direbut kembali oleh pemerintah.  Bahkan ada ruangan yang masih disimpan tempat tidur dimana di atasnya ditemukan mayat korban penyiksaan. Uuuhh…udaranya benar-benar bikin jengah dan sesak!

Ruang kelas yang zaman dulu digunakan sebagai penjara. Masih terdapat tempat tidur tempat ditemukannya jenazah korban penyiksaan seperti yang terlihat pada foto di dinding

Setelah dari Tuol Sleng Genocide Museum, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk bebersih. Mengingat bisa dibilang malamnya menggembel, belum mandi sejak kemarin paginya, ditambah udara PNH yang sangat panas, kami pun kembali ke hotel untuk sekedar mandi dan bebersih. Dan ternyata kami tidak salah pilih hotel! Hotel yang kami tempati bernama Silver River dan terletak di  #37, Street# 172, Sangkat Chey Chumneas, Khan Daun Penh(Phsar Kandal).  Cukup dekat dengan pusat kegiatan seperti royal palace, nasional museum, dan dikeliling oleh banyak kafe-kafe.  Sebenarnya harga yang perlu kami bayar termasuk mahal untuk perjalanan berbujet minim, yaitu $35/night. Tapi begitu kami memasuki kamarnya, wah, bersih dan sangat nyaman sekali.  Sesuatu yang nantinya benar-benar tidak kami sesali.  Kalau mau melihat-lihat bagaimana kamarnya, silakan mampir ke websitenya di http://www.silverriverhotel.com 🙂

Setelah selesai bersih-bersih, kami pun mengacuhkan godaan kasur yang terlihat nyaman dan segera melanjutkan perjalanan.  Kami memutuskan untuk makan siang sambil menunggu nasional museum dan royal palace buka.  Kami meminta Nora untuk mengantarkan kami ke restauran khas khmer yang terkenal di kalangan turis dengan harga yang sangat terjangkau.  Nora pun segera memacu tuktuknya mengarah ke sungai Mekong.  Dia pun memarkir tuktuknya tepat di sebuah kafe kecil namun terlihat nyaman bernama Khemer Saravan.  Seluruh dinding Khmer Saravan ditempeli kertas-kertas testimonial turis dari berbagai macam negara.  Kami pun memutuskan untuk mencoba makan di sana dan saya pun memesan makanan khas khmer bernama Amok.  Amok ini seperti kari dengan rasa santan yang cukup kuat dan kita bisa memilih daging campurannya, apakah ikan, sapi, ayam atau babi.  Saya memilih chicken amok, dan dari tulisan testimonial di dinding, tampaknya saya tidak salah pilih. Beginilah suasana di Khmer Saravan :

Khmer Saravan, great place for eat!

dan beginilah bentuk dari Chicken Amok yang saya pesan.

Chicken Amok, the best Khmer Food! :9

Rasanya? sedaaapp!! gurih santannya tidak membuat eneg tapi justru membuat semakin ketagihan.  Saya pun menuangkannya ke atas nasi dan ntah bagaimana perpaduan gurih bumbu amok dengan manisnya nasi membuat saya melicinkan piring di hadapan saya waktu itu…ehehehe!

Selesai mengisi perut, kami pun melanjutkan ke nasional museum karena royal palace belum buka menurut jadwalnya. Ternyata nasional museum Kamboja tidak sebagus nasional museum di Indonesia.  Isinya sama persis dengan gedung gajah di nasional museum Indonesia, penuh dengan arca2. Selain itu? tidak ada sama sekali euy! Rasanya cukup sayang juga sudah merogoh kantong $3 untuk masuk  gedung yang hanya memajang arca-arca yang diambil dari reruntuhan Angkor Wat. Apalagi untuk mengambil foto dilarang dan hanya diperbolehkan memfoto taman ditengah museum, itu pun diharuskan membayar sekitar $1,5 lagi. Wuiiihh…ogaahh! tapi untungnya, saya pun berhasil secara diam-diam mengambil gambar di taman tengah nasional museum kamboja ini..fufufuufu 😀

Taman di tengah Museum Nasional Phnom Penh

Karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat, kami pun memutuskan ke royal palace yang letaknya bersebelahan dengan nasional museum.  Cuaca yang panas membuat kami cukup manja untuk tidak berjalan kaki dan meminta Nora mengantarkan kami ke royal palace. Ada untungnya juga, karena ternyata royal palace masih baru buka 10 menit lagi dan Nora pun mengantarkan kami jalan-jalan di sekitar royal palace. Kami diajak melihat Casino yang terdapat di Nagaworld, satu-satunya bangunan megah yang saya lihat di Phnom Penh sejak turun dari pesawat.  Jalanan yang kami lewati pun termasuk yang terbesar dari yang sudah kami telusuri. Akhirnya saya baru merasakan berada di Ibu Kota suatu negara saat melewati jalan yang dilalui  Nora tersebut.  Setelah berkeliling-keliling baru lah kami turun di gerbang Royal Palace.

Untuk masuk ke royal palace, kami harus membayar $6.5/person.  Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Royal Palace pukul 1.30 di siang hari karena panasnya ampun-ampuuunaaann! Saya dan Tati pun jalan mepet-mepet ke pinggir agar terkena bayangan pohon, yang sebenarnya tindakan yang percuma. Di Royal palace ini sebenarnya banyak terdapat bangunan-bangunan megah berarsitektur khas kamboja, tapi yang benar-benar bisa kami kunjungi hanyalah bangunan utama Royal Palace itu sendiri dan Silver Pagoda.  Royal Palace sendiri merupakan kompleks kerajaan yang sampai sekarang masih sering dipakai untuk menyambut tamu negara ataupun rapat kenegaraan.  Tapi, rasanya, harga $6.5/person itu agak terlalu berlebihan.  Apalagi kita tidak diperbolehkan foto-foto di dalam tiap bangunan yang ada di sana.

Miniatur Angkor Wat di Royal Palace

Selesai dari Royal Palace, rasanya sudah tidak ada yang wajib dikunjungi lagi.  Saya dan Tati pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan berencana untuk isitirahat sebentar.  Ya, kami merencanakan untuk tidur siang dulu membalas dendam karena perjalanan yang melelahkan malam sebelumnya.  Rencananya, malam itu, setelah beristirahat, kami akan berjalan-jalan di sekitar hotel untuk mencicipi makanan di kafe-kafe di dekat situ. Setelah mandi (lagi) kami pun berbaring-baring untuk melepas lelah.  Tempat tidur yang empuk dan dinginnya AC semakin membuat kami nyaman…sangat nyaman hingga kami tidur selama 4 jam! Bangun-bangun sudah jam 9 malam dan rasanya agak malas harus keluar-keluar lagi.  Sehingga kami pun akhirnya hanya memesan makanan Room Service dan melanjutkan leha-leha di kamar.  Gak nyesel deh, bayar kamar agak mahal, toh ternyata kami pakai dengan sangat maksimal. Hahahah!

Cambodia, here we come!

Royal Palace, Phnom Penh

Kamboja? Mengapa kamboja? mungkin itu yang banyak dipertanyakan orang begitu saya memutuskan Kamboja sebagai tujuan berlibur mengisi libur panjang di bulan Maret kemarin.  Keinginan untuk pergi ke kamboja sebenarnya bermula saat saya membaca buku Life Traveler by Windy Ariestanty yang menjelaskan bagaimana perjalanan dia keliling Indochina.  Begitu selesai membaca bukunya, saya jadi mikir, lah, kenapa pusing-pusing mikirin tempat jauh-jauh dengan biaya yang seabrek, kalau asia tenggara sendiri aja belum pernah terjamah semuanya.  Jadilah pilihan jatuh ke Vietnam atau Kamboja. Alasan utama? biar lucu aja gituh, eksotis-eksotis gimanaaa gituh…(heeaa)

Sebenarnya waktu saya dan Tati (korban impulsif traveling kali ini) sedang sibuk-sibuknya mencari tiket, pesawat menuju Vietnam banyak yang sedang promo.  Tapi saya termasuk agak picky kalau udah masalah tujuan.  Dengan waktu liburan yang terbatas (waktu itu sebisa mungkin gak boros-boros sama cuti) dan duit yang juga agak terbatas, saya gak mau merasa liburan jadi terkesan dipaksakan dengan hasil yang kurang memuaskan.  Setelah search sana-sini, buka trip advisor & lonely planet, ngitung-ngitung bujet dan keterbatasan waktu untuk buat itinerary yang pas, maka diputuskan lah Kamboja! Nah, bagi yang nanyak, ada apa aja sih di kamboja?? Bukannya disana bahaya yak kondisinya? Mungkin, akan sedikit saya ingatkan, tau Angkor Wat? Kompleks candi yang dijadikan tempat syuting Tomb Raider? Itu ya terletak di Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap looh…Kondisi di sana aman atau nggak, bakal saya ceritain di post-post berikutnya yaahh…:)

Saya dan Tati memanfaatkan long weekend saat libur Nyepi. Kami pun memutuskan berangkat pada tanggal 21 Maret, malam harinya.  Dimana kami cuti sehari pada tanggal 22 Maret.  Jadi total kami punya 4 hari full perjalanan.  Dan dikarenakan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta – Kamboja, pilihannya adalah transit lewat Singapur atau Malaysia. Dengan mempertimbangkan waktu, akhirnya beginilah itinerary yang dipilih :

    1. Jakarta – Kuala Lumpur : 20.35 WIB, 21 Maret 2012
    2. Kuala – Lumpur – Phnom Penh : 07.00 (waktu kuala lumpur = WITA), 22 Maret 2012
    3. Phnom Penh – Siem Reap (by bus) : 07.15 (waktu Phnom Penh = WIB), 23 Maret 2012
    4. Siem Reap – Kuala Lumpur : 08.35 (waktu siem reap = WIB), 25 Maret 2012
    5. Kuala Lumpur – Jakarta : 17.30 (waktu kuala lumpur), 25 Maret 2012

Jadi total ada 4 hari 3 malam, 1 hari 1 malam di Phnom Penh dan 3 hari 2 malam di Siem Reap 🙂

Yang cukup seru adalah waktu berangkatnya. Karena berangkatnya malam jadi  lah terpaksa menginap di airport Kuala Lumpur untuk menunggu pesawat ke Phnom Penh.  Dengan sok yakinnya saya berasumsi kalau kehidupan malam di Airport Kuala Lumpur kurang lebih akan sama dengan Changi di Singapur. 24 Jam non-stop. Bayangan saya, palingan bisa lah jalan dari LCCT ke KLIA untuk mengisi waktu sambil duduk-duduk di kafe.  Dengan PDnya, berangkat lah saya dan Tati dengan bis ke KLIA jam 11 malam.  Melewati sirkuit sepang dan jalan tol yang tidak ada apa-apa, kami pun mulai merasa agak ragu.  Jalanan benar-benar sepi.  Dan benar saja, begitu sampai di KLIA, yang kami lihat hanyalah orang-orang yang mengantri dan kondisi airport KLIA begitu lengang dan mulai gelap.  Saat kami tanya, apakah bis ini akan kembali ke LCCT, supir pun berkata kalau bis ini akan ke central dan baru ada bis ke LCCT besok pagi pukul 5.30. Jiah! Nekat, kami pun tetap turun ke KLIA, dan berharap ada cara untuk bisa ke LCCT malam itu juga.

KLIA di waktu malam benar-benar kosong.  Semua kafe tutup, hanya ada satu toko semacam convenience store yang buka.  Aneh, padahal masih banyak penerbangan yang akan tiba pada malam/dini hari.  Memang sih, tampaknya tidak ada penerbangan keluar.  Terlihat bingung, kami pun didatangi petugas airport.  Penjelasan sama pun kembali dilontarkan dia, kalau bis mengarah ke LCCT sudah tidak ada lagi jam segini (waktu itu sudah setengah 12 malam).  Akhirnya dia pun menyarankan untuk naik taksi airport dan mengantarkan kami kembali ke LCCT.  Setelah membeli roti dan susu sebagai bekal cemilan, kami pun terpaksa merogoh 60 MYR (180,000 IDR) untuk biaya taksi ke LCCT. Damn! =))

Simpang siur dihadapan penumpang yang "terdampar"

Lalu, dari jam 1 sampai jam 7 di LCCT ngapain coba?? Berhubung semuuuaa toko dan bahkan airport tutup, terpaksa kami bergabung dengan ratusan penumpang terdampar di selasar-selasar dan teras airport.  Benar-benar “ngegembel” dalam artian sepenuhnya.  Jadilah kami duduk di selasar, di depan kios Body Shop berdampingan dengan pasangan bule yang juga sama-sama udah gak jelas bentuknya, si istri tidur beralaskan selendang, di suami bermain ipod sambil jaga barang.  Agak-agak shock sebenarnya, masak kita akan terus berada dalam keadaan mengenaskan begitu hingga jam 5? Kalau melihat jadwal penerbangan, harusnya pintu airport kembali dibuka pada pukul 2, karena ada penerbangan pukul 3 lebih.  Untung ada wi-fi umum, jadilah saya bisa mengisi waktu dengan bbm-an sambil menunggu pintu dibuka. Kalau seandainya tidak ada wi-fi gratisan di airport LCCT, ntah itu bagaimana kami mengisi waktu.  Paling tidak, bisa mengirit biaya untuk saling bertukar kabar dengan keluarga & pacar di Indonesia

Sesuai dugaan, pintu airport dibuka sekitar jam setengah 2.  Kami pun segera masuk dan mencoba mencari tempat yang enak untuk duduk atau tidur sekenanya. Jadilah tema “ngegembel” berubah menjadi “ngedeprok” 😛

Tati yang sudah mendeprok setelah berjam-jam menggembel

Setelah menyempatkan diri makan di restoran cepat saji Malaysia bernama Marrybrown, lalu bolak-balik ke kamar kecil dengan agak panik karena tidak bisa BAB tapi takut kalau-kalau baru berasa di pesawat, ubah2 posisi duduk, punggung & bahu pegal karena bawa-bawa tas ransel dan tas kamera yang lumayan berat, akhirnya Air Asia AK-1472 yang membawa kami ke Phnom Penh pun terbang tepat waktu, mengantarkan kami yang sudah ntah bagaimana wujudnya namun semakin excited.

Cambodia, here we come!

Notes for the one who should spend a nite in LCCT :

Meskipun LCCT ataupun KLIA (dua airport utama di Kuala Lumpur) tidak sepenunya aktif 24 jam, tapi ternyata banyak juga traveler yang sengaja menggembel nunggu jadwal penerbangan di sana.  Padahal sebenarnya banyak restoran cepat saji yang tersedia, tapi memang sayang sekali, restoran-restoran itu juga gak sepenuhnya buka 24 Jam.  Berikut tips-tips yang mungkin bisa dipakai kalau harus bermalam di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur :

  1. Segera cari tempat yang enak buat selonjoran di selasar/teras airport. Gak perlu malu, toh semua orang begitu.  Cari tempat yang ada senderannya, enak buat naro troli, atau paling nggak bisa dipakai buat tidur-tiduran
  2. Cek penerbangan terpagi yang ada. Waktu kasus saya, penerbangan terpagi ada sekitar pukul 4 kurang.  Karena biasanya tempat check-in buka 2 jam sebelum keberangkatan, kita bisa memperkirakan pukul berapa pintu utama airport dibuka untuk umum.  Terus kalau udah dibuka gimana? ya pindah tidur-tiduran di dalam! lebih dingin dan kursi yang bisa dipakai duduk/tidur juga banyak..hehehe!
  3. Restoran cepat saji seperti Marrybrown atau McD tidak buka 24 jam.  Begitu juga dengan cafe seperti Starbuck dan Coffee Bean.  Jadi untuk berjaga-jaga, beli roti atau air mineral dari toko yang buka sampai tengah malam.
  4. LCCT sangat berbeda dengan Changi! Jangan membayangkan kita bisa tidur-tiduran dengan nyaman atau mudah mencari makan.  Yeah, namanya juga Low Cost Carrier Terminal, KLIA saja gak ada apa-apa, aplg LCCT. Jadi, bagi yang gak kuat sama angin malam, mending bawa senjata jaket/kain tipis deh.
  5. LCCT punya free wi-fi yang open untuk semua pengunjung.Nama wi-finya FREE_WIFI@KLIA. Bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau sekedar mengirimkan kabar ke keluarga di rumah.  Tapi wi-fi ini agak ribet, karena begitu tersambung, kita harus mengaktifkan via browser dahulu. Jaringannya juga sering mati-hidup mengingat pastinya ada ratusan atau bahkan ribuan pengguna wi-fi ini.
  6. Gak bisa tidur-tiduran disembarang tempat atau takut badan malah jadi drop sebelum liburan dimulai? Di sekitar LCCT kalau nggak salah ada beberapa hotel transit, salah satunya Tube Hotel.  Kemarin saya nggak sempet ngecekin tarifnya.  Tapi bisa lah, cek-cek sama mbah Google 😛

Nah, kira-kira begitu lah gambarannya. Happy ngegembel di negeri jiran! 😀