When being asked, “which one you prefer, mountain or beach?”, I always answered “City!”
Oh, please don’t judge me as a spoilt city person. The main reason I’d answer that is because I just love civilization! I love visiting museums, learning cultures and native languages, exploring local market or simply sitting down at the plaza or park just to feel the neighborhood ambiance.
There are many places I’d love to visit. But if I must choose, here are the top list on my bucket list.
Pyramid, sphinx and The Museum of Egyptian Antiquities,
British Museum
Petra, Jordan
Jerusalem
Acropolis & Acropolis Museum – Athens, Greece
Well, all of them, history and culture related. Haha!
I have the same reasons for Egypt, Jordan, Jerusalem and Greece. All of them are one of the oldest civilization in the world. Many great stories, myths, philosophies, and learnings from each of them. We can say those civilization built the way the world we know nowadays. Knowing the reason behind all of those stories or some small details of their thoughts, it already excites me just to think about it.
But why British Museum? Even visiting their website and seeing their online collection already gives me chills. It provides us direct access to 4.5 million objects. Each collection reveal the fascinating stories that transcend time. From china dynasties, Americas stories, and most importantly, I found so many historical objects from my country. They have more than 1,500 objects that is related to Indonesia culture and history. From the domestic tools, weaponry, bank notes, cloths, and figures from several ethnics. Don’t get me wrong. Considering most of Indonesia Museum’s condition and Indonesian people who are not really interested in visiting museums, I should be grateful those historical objects kept in British Museum.
Sewaktu mencoba aplikasi “World”, salah satu aplikasi semacam traveling advisor di Android, iseng-iseng saya mencoba download penjelasan tentang Indonesia. Di penjelasan itu lengkap berbagai macam pilihan tujuan traveling di Indonesia, mulai dari Bali, Jogja, Krakatau, sampai Jakarta. Berhubung saya sudah sekitar 7 bulan tinggal di Jakarta tapi sama sekali belum merasa meng-eksplor Jakarta, saya pun mencari-cari bagian mana dari Jakarta yang belum pernah saya kunjungi. Dan mata saya pun melotot begitu membaca sala satu tujuan wisata, “Museum Nasional Indonesia”. Bukannya apa, saya kaget…..Indonesia punya museum nasional?!?! (eah!)
Mengaku sebagai penggemar museum, saya pun memutuskan untuk mengunjungin museum ini. Dan ternyata, gak cuma saya yang baru tau tentang museum ini. Tiap saya tanya teman, mereka pasti bingung dimana letaknya. Belum lagi ada beberapa yang mengira museum nasional ini menjadi satu dengan Monas. Yah, mau bagaimana lagi, museum tidak pernah terkenal di Indonesia, kan?
Museum Nasional Indonesia
Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Museum Nasional pada hari Sabtu. Dan ternyataaa…ramai sekali! Kalau tidak salah hitung, ada sekitar 2 rombongan sekola yang datang. Yang bikin seneng, banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka mengunjungi museum sebagai acara akhir minggu mereka. Cukup banyak mobil pribadi yang parkir di tempat parkir museum. Ah, seandainya antusias mengunjungi museum di Indonesia semakin membesar, jadi museum-museum yang lain pun akan semakin banyak pengunjungnya, terawat, dan berkembang.
Museum Nasional Indonesia berlokas di Jalan Merdeka Barat no.12. Untuk mencapai sana sangat lah mudah dengan menggunakan busway. Cukup turun di halte Monas dan Museum Nasional ada di seberang Monas persis. Atau kalau menggunakan kendaraan pribadi, tinggal menyusuri jalan Thamrin, terus saja di bundaran sapta pesona, Museum Nasional berada di sebelah kiri jalan dan tepat setelah kementrian pertahanan.
Arca Gajah yang merupakan lambang khas dari Museum Nasional Indonesia
Biaya parkir Museum Nasional 4000 dan langsung dibayar di awal. Kita akan diberikan tempat parkir di basement atau di halaman belakang untuk bus yang bisa menampung sekitar 10 bus. Dari tempat parkir ke museum tidak ada tangga tembus sehingga kita harus jalan kaki, naik melalui jalan mobil turun ke basement. Biaya masuk Museum terbagi menjadi perorangan (dewasa Rp 5000, anak-anak Rp 2000), rombongan untuk minimum 20 orang (dewasa Rp 3000, pelajar TK-SMA Rp 1000), dan wisatawan asing dengan biaray Rp 10.000. Sangat disayangkan tidak ada brochure atau pun flyer sebagai panduan yang diberikan di pintu masuk untuk pengunjung. Padahal area museum termasuk besar.
Coba taruhan, dari mereka mana yang bakal terus mengingat apa yang mereka catat? 😛
Gedung museum terbagi menjadi dua bagian, Gedung Gajah (old wing) dan Gedung Arca (new wing). Agak lucu juga sistem penamaanya, karena justru di Gedung Gajah lah banyak ditemukan arca-arca. Di Gedung gajah, koleksi-koleksi museum dibagi dan disusun berdasarkan beberapa kategori :
Stone culture collection. Kabarnya, Museum Nasional indonesia memiliki koleksi arca peninggalan Hindu-Buddha terlengkap di Indonesia. Berasal dari berbagai macam daerah seperti jawa, bali, sumatera dan kalimantan, memang terlihat sekali banyaknya koleksi arca-arca yang dimiliki. Dan saat awal masuk, saya pun disambut oleh archa Ganeca yang membuat saya melonjak girang hanya gara-gara teringat almamater 😛
Memasuki ruangan yang ada di belakang, kita bakal disuguhi koleksi-koleksi dari Ceramic collection, Ethnography collection, dan Prehistory Collection. Dari namanya aja udah kelihatan ya, kalau dibagian ini kita bakal disugui koleksi-koleksi keramik dari zaman beheula (ada koleksi piring antik yang bikin saya teringat sama koleksi mama saya 😀 ), lalu ada juga koleksi barang-barang keseharian yang dipakai di zaman dulu dari seluruh wilayah indonesia. Di sini, barang koleksi diatur berdasarkan wilayah, mulai dari nias & batak, badui di jawa, bali, dan dayak di kalimantan.
Di lantai 2, terdapat 2 ruangan yang bernama Treasure Rooms. Ruangan ini juga terbagi menjadi dua, secara archaelogical dan ethnology. Di ruangan ini sebenarnya dilarang mengambil gambar. Tapi dasar bandel, teman saya iseng mengambil gambar di sini…hahaha! Banyak peninggalan emas dan harta benda dari kerjaan terdahulu seperti Mataram. Sayangnya, dibagian Ethnology, ruangan agak bau pengap. Dan saya yang kebetulan sedang flu langsung merasa sesak dan buru-buru keluar ruangan tanpa melihat-lihat lagi.
Taman tengah Gedung Gajah yang dipenuhi berbagai macam arca
Memasuki Gedung Arca, suasana agak berubah mengingat ini merupakan gedung baru. Gedung pun dibuat bertingkat hingga lantai 4 untuk memerkan koleksinya. Di lantai 1, kita dapat mempelajari mengenai Man & Environment. Mulai dari article pembentukan pulau-pulau Indonesia hingga sejarah perkembangan manusia lengkap dengan beberapa replika ataupun rangka temuan arkeolog (disini saya mendengar “nama lama”, si Mr. Eugene Dubois, si penemu rangka-rangka homo sapiens. “Nostalgia” zaman SD yang unik ya 😛 ). Sementara di lantai 2, adalah bagian Knowledge, Technology, & Economy. Mulai dari batu-batu bertulis tentang perkembangan bahasa, hingga alat-alat perekenomian yg dipakai sejak zaman dahulu. Ada juga koleksi berbagai macam senjata, meriam dan pistol dari zaman Belanda. Sedangkan di lantai 3 adalah bagian Social Organization & Settlement Patterns. Di lantai 4 adalah tempat penyimpanan koleksi Treasures & Ceramics.
Lantai 2 Gedung Arca yang memamerkan prasasti-prasasti batu tulis
Gedung Gajah dan Gedung Arca dihubungkan oleh jembatan yang menggunakan dinding berkaca. Melalui jembatan ini kita juga bisa melihat pemetaan bahasa dan suku bangsa di Indonesia. Wuiihh,,canggih juga ya ada orang yang rajin memetakan ribuan bahasa di Indonesia. Jembatan ini juga kabarnya sering dipakai untuk pameran-pameran.
Museum ini, biarpun termasuk museum terbesar di Indonesia, bisa dibilang tidak terawat dengan layak. Bagian pameran dibiarkan gelap dan berdebu. Gak ada satupun ruangan yang dibuat nyaman untuk benar-benar memperhatikan barang koleksi. Padahal, biasanya yang namanya Museum Nasional itu bisa dibilang museum utama dari satu negara. Sayang banget, padahal museum ini punya hingga 140ribuan barang koleksi. Yaa..kalau panutannya aja begini, gimana museum-museum lainnya ya?
Mungkin ini memang turunan dari kakek saya, tapi saya memang mempunyai ketertarikan sendiri dengan Museum. Jika berjalan-jalan ke daerah tertentu dan bingung bagaimana menghabiskan waktu, saya akan memilih untuk mencari museum yang ada pada kota tersebut. Hal ini terjadi sewaktu saya ke Singapore baru-baru ini.
Terus terang, saya tidak suka belanja. Begitu tau kalau 6 jam sisa waktu di Singapore sebelum kami harus ke airport akan dihabiskan oleh rombongan untuk belanja, saya mulai mencari-cari alternativ tempat yang bisa dikunjungi. Untung saja layanan Blackberry tidak mati, karena itu saya bisa googling untuk mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan di Singapore selain belanja. Yang benar saja, berkali-kali ke Singapore gak mungkin hanya dihabiskan di Orchard Road. Perhatian saya pun tertuju pada National Museum of Singapore.
Altes Museum, one of the museum at the Museuminsel
Gwe kali ini ngotot pengen masuk ke museuminsel. Sebuah kawasan museum yang terdiri dari gabungan-gabungan salah satu museum besar di dunia. Museum yang paling terkenal dari kawasan museum ini adalah Altes Museum (old museum) dan Neues Museum (Old Museum). Hari itu gwe dan dona pun berencana masuk ke 2 museum tersebut. dan sayang sekali mas kamal yang sebenernya juga pengen banget masuk gk bisa ikutan karena punya tugas dari pak dubes. Wie schade, mas! :))
Kami cukup membayar 7 euro untuk masing-masing orang dan mendapatkan tiket terusan untuk seluruh museum yang ada disitu. Sayang, kami berangkatnya udah siang, sehingga memang gak cukup waktunya untuk memasuki semua museum. Untung 2 museum utama tersebut berhasil kita masuki.
Inside the Altes Museum
Memasuki altes museum, kita akan disambut dengan ruangan oval dimana terletak patung-patung dewa yunani yang seolah-olah sedang berkumpul untuk membahas sesuatu. Di Altes Museum sini, kita bisa melihat peradaban romawi dan yunani kuno. Mulai dari kehidupan sehari-harinya, sampai ke para raja-rajanya. Mulai dari benda sehari-hari yang digunakan sampai sarkofagus berukir sangat indah sebagai peti mati. Gak habis pikir, hanya untuk orang mati saja peti matinya benar-benar terukir indah dan memiliki cerita. Bagian terkocak, ada satu ruangan yang disebut dengan ruangan cinta. Dan isinya adalah benda-benda seni yang menampilkan adegan bersetubuh dengan aneka gaya 😀 Uniknya, banyak gwe jumpai gambar-gambar adegan seks sesama jenis, khususnya pria sama pria. Halah!
Setelah puas di Altes museum, kami pun menyusuri gerimis ke Neues Museum. Untuk masuk ke Neues museum ini pengunjung yang sudah memiliki tiket untuk semua museum, diharuskan meminta tiket khusus untuk masuk ke neues museum. Di museum yang satu ini, pengunjung dibatasi hanya boleh berada di dalam selama 1,5 jam. Mungkin karena termasuk museum baru di kawasan sini dan pengunjung pun masih sangat ramai. Sebagai tambahan, Neues Museum memberikan fasilitas headphone yang bisa kita pakai untuk mendengarkan penjelasan mengenai barang-barang yang ada.
Di Neues Museum kita bisa melihat peradaban mesir kuno. Disini lebih diperlihatkan patung raja-raja mesir,
Listening to the explanation of the King’s statue
batu-batu besar yang digunakan sebagai dinding dulunya dan diukir tulisan-tulisan mesir kuno (gambar-gambar seperti yang biasa ditunjukkan di film),
Bisa baca tulisan yang ada di belakang dona??kaya di film Mummy Return deh 😛
dan tentu saja yang paling ramai dikunjungi orang, peti mummy!
Hmm..muminya sebesar apa ya??
Gwe bingung, kenapa sih peti mati zaman dulu harus seukuran raksasa? Apa mungkin memang manusia zaman dulu seukuran segitu? Mungkin, untuk ukuran tinggi sudah pas, tapi peti mati yang gwe liat benar-benar besar dan dalam. Kaya bak mandi gitu…Dan gwe pun melihat mumi bayi…hii!
Setelah puas dari neues museum, sambil menunggu waktu, kami pun memasuki National Gallery. Seperti halnya national gallery pada umumnya, di sini kita dapat melihat lukisan-lukisan. Tapi tampaknya yang dipajang disini adalah lukisan karya-karya pelukis terkenal Jerman. Sebenarnya gwe kurang suka dengan lukisan-lukisan, tapi karena disini juga dikasi headphone untuk mendengarkan penjelasan beberapa lukisan, gwe pun cukup menikmati memandangi lukisan sambil mendengarkan maksud dari lukisan tersebut.
National Galery, dalam kawasan Museuminsel
Sekitar pukul 5, gwe dan dona pun dijemput mas kamal (sayang sekali mas kamal gk bisa ikut masuk ke museum, padahal dia juga pengen 😛 ), dan melanjutkan perjalanan ke kaarstadt, ku’damm karena dona n mas kamal mau nyari parfum…weleh!