Entah kenapa, anak kosan selalu diidentikan dengan kesusahan. Susah makan, namanya juga anak kosan. Seret duit, namanya juga anak kosan. Jarang mandi, namanya juga anak kosan. Tidur n makan gak teratur, namanya juga anak kosan. Lama-lama, kata-kata “anak kosan” bisa jadi semacam excuse untuk kami, para “anak kosan”, untuk hidup secara tidak teratur 😀 . Meskipun tinggal di kosan yang harga sewanya bisa mencapai lebih dari 1,5 jt/bln, ntah mengapa, karena punya predikat “anak kosan”, sering juga dikasihani sama anggota keluarga.
Tapi coba deh, kita-kita ini sebagai si anak kosan, merasa sesengsara itu kah “numpang” di rumah orang lain, berbagi atap dengan orang yang tidak dikenal (bahkan mungkin kamar atau kamar mandi), dan hidup selama bertahun-tahun dengan orang yang benar-benar baru dikenal? Hampir 4 tahun gwe memiliki predikat “anak kosan”, gwe akan menjawab, TIDAK!
See why i said that, keep reading this