Terkadang, yang namanya kesialan pun bisa menjadi cerita lucu. Seperti yang saya dan Tati alami pada hari kedua kami di Siam Reap. Hari itu, kami berencana untuk menyaksikan sun rise di Angkor Wat. Hari sebelumnya, kami sudah mengutarakan niat kami ke Yoyo, supir tuktuk langganan kami selama di Seam Reap. Menurut saran dia, kami harus sudah siap di jemput sebelum pukul 5 pagi.
Sesuai dugaan, saya dan Tati agak kesiangan dan baru berangkat dari hotel sekitar 5.15. Yoyo pun langsung memacu tuktuknya membelah udara pagi Siam Reap yang dingin. Dingin yang membuat saya dan Tati khawatir, karena sebenarnya dingin itu berasal dari mendung yang menaungi langit. Sebenarnya saya agak yakin kalau hujan masih lama. Tapi yang bikin tambah panik adalah saat Yoyo berteriak dari kemudinya kepada kami, “It won’t be raining soon, but I’m afraid you can’t see the sun rise because it will be blocked by clouds!” …arrgh! Sudah bangun pagi (meskipun tidak mandi :P) tapi kalau tidak dapat sunrise rasanya percuma. Dasar sableng, kami pun hanya cengir-cengir pasrah sambil menyilangkan jari berharap mujur.
Sesampainya di Angkor Wat, ternyata sudah ramai sekali dengan turis-turis yang juga ingin menonton sunrise. Yoyo pun menyuruh kami untuk buru-buru masuk kompleks Angkor wat agar tidak terlewat sunrise dan bisa mencari spot yang bagus. Di dalam, sudah banyak sekali turis-turis yang menggelar tikar, membawa kursi lipat, memanjat reruntuhan dan segala macam tingkah lain demi mendapatkan spot yang bagus untuk menonton sunrise. Saya dan Tati pun duduk di salah satu reruntuhan yang dulunya mungkin pintu masuk Angkor Wat. Dari foto-foto, mondar-mandir, sampai duduk-duduk bengong sudah kami lakukan demi menanti sunrise. Lama-kelamaan, langit semakin terang tapi sama sekali tidak ada sosok matahari yang keliatan dari balik awan. Pasrah, kami pun hanya memotret samar-samar bayangan matahari yang sepertinya lebih memilih selimutan di balik awan. Sial, tau gitu kami juga masih lanjut selimutan kalii!
Hanya semburat tipis dari matahari yang muncul dibalik langit yang mendung 😦
Setelah mengabiskan 1 malam 1hari di PNH, saya dan Tati pun melanjutkan perjalanan ke Siam Reap. Kami memutuskan untuk pergi ke siam reap dengan bis pada pagi keesokan harinya. Hari sebelumnya, saat baru sampai dari airport, kami sudah diantarkan Nora ke stasiun bus. Sebenarnya agak mahal kalau dibandingkan dengan info2 yang saya temukan di internet. Kami harus merogoh kantong sebesar $10 untuk bis yang akan mengantarkan kami ke Siam Reap. Sengaja kami memilih jadwal keberangkatan sepagi mungkin agar kami masih dapat menikmati Siam Reap di siang hari, mengingat perjalanan akan memakan waktu sekitar 6-7 jam. Bisnya agak unik. Dari luar, terlihat seperti bus tingkat. Memang bus tingkat sih, tapi semua penumpang duduk di bagian atas, karena bagian bawah seluruhnya dipakai untuk barang-barang. Saking luasnya tu tempat penyimpanan barang, bahkan saya sempat melihat beberapa motor yang diparkir di situ…weleh.
Tidak banyak yang bisa saya jelaskan tenang perjalanan Phnom Penh – Siam Reap…tepatnya, tidak ada sama sekali!! Sepanjang perjalanan kami hanya dihadapi dengan hamparan sawah atau rerumputan yang sangat gersang. Sama sekali tidak ada rumah penduduk ataupun kota-kota kecil yang menghubungkan dua kota tersebut. Kalau pun ada rumah penduduk, tampaknya dibangun seadanya oleh partai setempat. Saking tidak ada satupun yang bisa dibaca selama perjalanan, saya pun sampai hapal dengan nama salah satu partai yang ada di Kamboja : Cambodain People Party. Sampai-sampai saya salah baca menjadi cambodain party people….yoooww, party people in the house, yooow!!
Hanya inilah sajian pemandangan yang ditawarkan..gimana gak mati gaya??
Saking lamanya perjalanan dan tidak ada yang bisa dilakukan, saya dan Tati pun mati gaya. Ngobrol, sampai kehabisan topik. Mau tidur, lumayan dapat tidur 2 jam, eehh perjalanan masih jauh dan mau tidur lagi juga bosan. Kami memang sempat berhenti untuk istirahat sejenak dan ke toilet. Saya dan Tati bahkan sempat memesan kelapa muda dan kelakukan kami yang makan langsung di buahnya, cukup menarik cewek-cewek turis dari Jerman yang cengar-cengir ngeliatin. Akhirnya di sisa perjalanan saya pun menguping atau memperhatikan penumpang lainnya. Dibelakang kami, 2 cewek Jerman, saling curhat tentang gebetannya (saya jadi sedikit melatih pendengaran bahasa jerman saya :P). Tapi berhubung mereka berbicara dengan bahasa Jerman yang sangat cepat, saya pun dengan cepat pula menyerah. Setelah itu, 2 cowok jepang yang duduk di samping kami. Mereka tampaknya juga kehabisan ide. Setelah tidur, mereka ngobrol2, trus dengerin lagu sendiri2, trus dengerin lagu bareng2 and akhirnya nyanyi2 bareng! hahahaha…
Ada satu kejadian unik. Ditengah jalan, beberapa kali bis berhenti untuk menurunkan atau mengangkut penumpang. Kalau mengangkut, ya masih masuk akal aja sih. Tapi kalau menurunkan….ini yang bikin saya heran. Di tengah antah berantah dan kegersangan tingkat tinggi gitu, si penumpang yang turun itu bisa tau dari mana kalau mereka turun di tempat yang bener?? secara segalanya terlihat bener2 sama….ajaib!!
Kamboja? Mengapa kamboja? mungkin itu yang banyak dipertanyakan orang begitu saya memutuskan Kamboja sebagai tujuan berlibur mengisi libur panjang di bulan Maret kemarin. Keinginan untuk pergi ke kamboja sebenarnya bermula saat saya membaca buku Life Traveler by Windy Ariestanty yang menjelaskan bagaimana perjalanan dia keliling Indochina. Begitu selesai membaca bukunya, saya jadi mikir, lah, kenapa pusing-pusing mikirin tempat jauh-jauh dengan biaya yang seabrek, kalau asia tenggara sendiri aja belum pernah terjamah semuanya. Jadilah pilihan jatuh ke Vietnam atau Kamboja. Alasan utama? biar lucu aja gituh, eksotis-eksotis gimanaaa gituh…(heeaa)
Sebenarnya waktu saya dan Tati (korban impulsif traveling kali ini) sedang sibuk-sibuknya mencari tiket, pesawat menuju Vietnam banyak yang sedang promo. Tapi saya termasuk agak picky kalau udah masalah tujuan. Dengan waktu liburan yang terbatas (waktu itu sebisa mungkin gak boros-boros sama cuti) dan duit yang juga agak terbatas, saya gak mau merasa liburan jadi terkesan dipaksakan dengan hasil yang kurang memuaskan. Setelah search sana-sini, buka trip advisor & lonely planet, ngitung-ngitung bujet dan keterbatasan waktu untuk buat itinerary yang pas, maka diputuskan lah Kamboja! Nah, bagi yang nanyak, ada apa aja sih di kamboja?? Bukannya disana bahaya yak kondisinya? Mungkin, akan sedikit saya ingatkan, tau Angkor Wat? Kompleks candi yang dijadikan tempat syuting Tomb Raider? Itu ya terletak di Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap looh…Kondisi di sana aman atau nggak, bakal saya ceritain di post-post berikutnya yaahh…:)
Saya dan Tati memanfaatkan long weekend saat libur Nyepi. Kami pun memutuskan berangkat pada tanggal 21 Maret, malam harinya. Dimana kami cuti sehari pada tanggal 22 Maret. Jadi total kami punya 4 hari full perjalanan. Dan dikarenakan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta – Kamboja, pilihannya adalah transit lewat Singapur atau Malaysia. Dengan mempertimbangkan waktu, akhirnya beginilah itinerary yang dipilih :
Jakarta – Kuala Lumpur : 20.35 WIB, 21 Maret 2012
Kuala – Lumpur – Phnom Penh : 07.00 (waktu kuala lumpur = WITA), 22 Maret 2012
Siem Reap – Kuala Lumpur : 08.35 (waktu siem reap = WIB), 25 Maret 2012
Kuala Lumpur – Jakarta : 17.30 (waktu kuala lumpur), 25 Maret 2012
Jadi total ada 4 hari 3 malam, 1 hari 1 malam di Phnom Penh dan 3 hari 2 malam di Siem Reap 🙂
Yang cukup seru adalah waktu berangkatnya. Karena berangkatnya malam jadi lah terpaksa menginap di airport Kuala Lumpur untuk menunggu pesawat ke Phnom Penh. Dengan sok yakinnya saya berasumsi kalau kehidupan malam di Airport Kuala Lumpur kurang lebih akan sama dengan Changi di Singapur. 24 Jam non-stop. Bayangan saya, palingan bisa lah jalan dari LCCT ke KLIA untuk mengisi waktu sambil duduk-duduk di kafe. Dengan PDnya, berangkat lah saya dan Tati dengan bis ke KLIA jam 11 malam. Melewati sirkuit sepang dan jalan tol yang tidak ada apa-apa, kami pun mulai merasa agak ragu. Jalanan benar-benar sepi. Dan benar saja, begitu sampai di KLIA, yang kami lihat hanyalah orang-orang yang mengantri dan kondisi airport KLIA begitu lengang dan mulai gelap. Saat kami tanya, apakah bis ini akan kembali ke LCCT, supir pun berkata kalau bis ini akan ke central dan baru ada bis ke LCCT besok pagi pukul 5.30. Jiah! Nekat, kami pun tetap turun ke KLIA, dan berharap ada cara untuk bisa ke LCCT malam itu juga.
KLIA di waktu malam benar-benar kosong. Semua kafe tutup, hanya ada satu toko semacam convenience store yang buka. Aneh, padahal masih banyak penerbangan yang akan tiba pada malam/dini hari. Memang sih, tampaknya tidak ada penerbangan keluar. Terlihat bingung, kami pun didatangi petugas airport. Penjelasan sama pun kembali dilontarkan dia, kalau bis mengarah ke LCCT sudah tidak ada lagi jam segini (waktu itu sudah setengah 12 malam). Akhirnya dia pun menyarankan untuk naik taksi airport dan mengantarkan kami kembali ke LCCT. Setelah membeli roti dan susu sebagai bekal cemilan, kami pun terpaksa merogoh 60 MYR (180,000 IDR) untuk biaya taksi ke LCCT. Damn! =))
Simpang siur dihadapan penumpang yang "terdampar"
Lalu, dari jam 1 sampai jam 7 di LCCT ngapain coba?? Berhubung semuuuaa toko dan bahkan airport tutup, terpaksa kami bergabung dengan ratusan penumpang terdampar di selasar-selasar dan teras airport. Benar-benar “ngegembel” dalam artian sepenuhnya. Jadilah kami duduk di selasar, di depan kios Body Shop berdampingan dengan pasangan bule yang juga sama-sama udah gak jelas bentuknya, si istri tidur beralaskan selendang, di suami bermain ipod sambil jaga barang. Agak-agak shock sebenarnya, masak kita akan terus berada dalam keadaan mengenaskan begitu hingga jam 5? Kalau melihat jadwal penerbangan, harusnya pintu airport kembali dibuka pada pukul 2, karena ada penerbangan pukul 3 lebih. Untung ada wi-fi umum, jadilah saya bisa mengisi waktu dengan bbm-an sambil menunggu pintu dibuka. Kalau seandainya tidak ada wi-fi gratisan di airport LCCT, ntah itu bagaimana kami mengisi waktu. Paling tidak, bisa mengirit biaya untuk saling bertukar kabar dengan keluarga & pacar di Indonesia
Sesuai dugaan, pintu airport dibuka sekitar jam setengah 2. Kami pun segera masuk dan mencoba mencari tempat yang enak untuk duduk atau tidur sekenanya. Jadilah tema “ngegembel” berubah menjadi “ngedeprok” 😛
Tati yang sudah mendeprok setelah berjam-jam menggembel
Setelah menyempatkan diri makan di restoran cepat saji Malaysia bernama Marrybrown, lalu bolak-balik ke kamar kecil dengan agak panik karena tidak bisa BAB tapi takut kalau-kalau baru berasa di pesawat, ubah2 posisi duduk, punggung & bahu pegal karena bawa-bawa tas ransel dan tas kamera yang lumayan berat, akhirnya Air Asia AK-1472 yang membawa kami ke Phnom Penh pun terbang tepat waktu, mengantarkan kami yang sudah ntah bagaimana wujudnya namun semakin excited.
Cambodia, here we come!
Notes for the one who should spend a nite in LCCT :
Meskipun LCCT ataupun KLIA (dua airport utama di Kuala Lumpur) tidak sepenunya aktif 24 jam, tapi ternyata banyak juga traveler yang sengaja menggembel nunggu jadwal penerbangan di sana. Padahal sebenarnya banyak restoran cepat saji yang tersedia, tapi memang sayang sekali, restoran-restoran itu juga gak sepenuhnya buka 24 Jam. Berikut tips-tips yang mungkin bisa dipakai kalau harus bermalam di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur :
Segera cari tempat yang enak buat selonjoran di selasar/teras airport. Gak perlu malu, toh semua orang begitu. Cari tempat yang ada senderannya, enak buat naro troli, atau paling nggak bisa dipakai buat tidur-tiduran
Cek penerbangan terpagi yang ada. Waktu kasus saya, penerbangan terpagi ada sekitar pukul 4 kurang. Karena biasanya tempat check-in buka 2 jam sebelum keberangkatan, kita bisa memperkirakan pukul berapa pintu utama airport dibuka untuk umum. Terus kalau udah dibuka gimana? ya pindah tidur-tiduran di dalam! lebih dingin dan kursi yang bisa dipakai duduk/tidur juga banyak..hehehe!
Restoran cepat saji seperti Marrybrown atau McD tidak buka 24 jam. Begitu juga dengan cafe seperti Starbuck dan Coffee Bean. Jadi untuk berjaga-jaga, beli roti atau air mineral dari toko yang buka sampai tengah malam.
LCCT sangat berbeda dengan Changi! Jangan membayangkan kita bisa tidur-tiduran dengan nyaman atau mudah mencari makan. Yeah, namanya juga Low Cost Carrier Terminal, KLIA saja gak ada apa-apa, aplg LCCT. Jadi, bagi yang gak kuat sama angin malam, mending bawa senjata jaket/kain tipis deh.
LCCT punya free wi-fi yang open untuk semua pengunjung.Nama wi-finya FREE_WIFI@KLIA. Bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau sekedar mengirimkan kabar ke keluarga di rumah. Tapi wi-fi ini agak ribet, karena begitu tersambung, kita harus mengaktifkan via browser dahulu. Jaringannya juga sering mati-hidup mengingat pastinya ada ratusan atau bahkan ribuan pengguna wi-fi ini.
Gak bisa tidur-tiduran disembarang tempat atau takut badan malah jadi drop sebelum liburan dimulai? Di sekitar LCCT kalau nggak salah ada beberapa hotel transit, salah satunya Tube Hotel. Kemarin saya nggak sempet ngecekin tarifnya. Tapi bisa lah, cek-cek sama mbah Google 😛
Nah, kira-kira begitu lah gambarannya. Happy ngegembel di negeri jiran! 😀