Olahraga sebelum traveling? Penting gitu?

Bukan, ini bukan macam artikel-artikel detikhealth. Dan bukan semacam click bait pastinya. Ini cuma cerita untuk berbagi pentingnya olahraga untuk yang doyan traveling. Pure berbagi karena waktu itu Saya dan abang merasakan betulnya untungnya lagi rajin olahraga sewaktu kami sedang traveling.

Emang iya? Apa hubungannya?

Jadi begini….

Saya dan Abang punya tipe traveling yang agak unik. Kami suka sekali mengunjungi temple, reruntuhan kerajaan kuno, mengelilingi museum, dan berbaur dengan warga lokal di keramaian seperti pasar, plaza (suatu pelataran luas dimana banyak warga sekitar berkumpul), dan taman. Tidak jarang kami menemukan temple dan reruntuhan yang mengharuskan kami menaiki bukit yang tinggi, atau bersepeda di tengah hari bolong, atau sekedar kesasar ketinggalan bis.

Sewaktu kami ke Sri Lanka, tepatnya sewaktu kami hendak mengunjungi Sigiriya dan Dambulla, kami merasakan betul manfaat olahraga. Untuk mengunjungi Sigiriya dan Dambula, kami menaiki bus dari Pollonaruwa. Sigiriya ini merupakan icon negara Sri Lanka, dimana terdapat reruntuhan bekas kerajaan di atas sebuah bukit batu yang “dijaga” oleh 2 kaki singa tepat di bawahnya. (Si : Lion, Giriya : Rock. Or Lion Rock). Untuk sampai ke puncak bukit, kami harus berjalan melewati bekas-bekas peninggalan kerajaan yang sekarang sudah berbentuk seperti kolam-kolam. Setelah itu, kami mulai mendaki kaki bukit. Tracknya sih gampang, karena sudah disediakan tangga. Tapi, tinggiiii banget cuy!!!! Tenaga kami mulai tinggal setengah rasanya begitu sampai di kaki singa. Yup, masih harus naik lagi setelah kami menanjak sekitar 30 menit lebih (ya, diselingi foto-foto tentunya). Setelah foto-foto istirahat sejenak, kami pun bersiap untuk menaiki tangga yang lebih terjal dan bagian yang paling susah untuk sampai ke puncak. Total anak tangga yang kami naiki hari itu : 1200 anak tangga. Ha! Waktu itu, sebelum mengunjungi Sri Lanka, kami memang giat-giatnya berlari tiap minggu. Gak kebayang gimana kami bisa kuat sampai di atas kalau fisik lagi tidak kuat-kuatnya. Mana waktu itu jam 12 siang lagi. Haha! Tidak sedikit kami melewati orang-orang yang harus duduk di tengah tangga untuk mengatur nafas.

Bersiap menaiki puncak bukit Sigiriya
Setengah perjalanan : Lion Feet Statue

Disarankan sekali untuk istirahat di sini karena perjanalan berikutnya benar-benar menghabiskan nafas.

View from above. Great ruins with great view.

Yang bikin seru, perjalanan kami hari itu tidak hanya ke sigiriya, tapi juga ke Dambulla. Di Dambulla ini kami berencana untuk mengunjungi Dambulla Cave Temple. Sebuah buddha temple yang terletak di…..atas bukit juga! Kami tidak menyadari saat itu kalau kami harus menaiki bukit yang cukup terjal sebelum kami bisa masuk ke sebuah gua yang disulap menjadi temple dan masih aktif sampai sekarang digunakan untuk beribadah. Mana kami sempat salah jalan. Tampaknya memang ada 2 pintu masuk dan komplek Dambulla Cave Temple ini lumayan besar. Kami sempat harus menaiki tangga tingiii, untuk menuruni bukit yang agak terjal, sebelum menaiki lagi bukit dengan bantuan sekitar 200 anak tangga lagi. Betis dan paha dipastikan kebas hari itu. Di tambah, 1 hari sebelumnya, kami baru saja bersepeda seharian mengitari kompleks Pollonnaruwa Ancient City di bawah sengatan suhu 40 derajat. Hahaha! Mungkin, kalau ada yang mau mengunjungi 2 kota kecil ini, jangan di hari yang sama. Kecuali memang punya fisik yang kuat!

Menaiki bukit terjal…

Untuk sampai di sini….
Untuk bisa lihat ini….fiuh!

Banyak sekali pengalaman jalan-jalan kami yang lumayan menguras fisik. Misalnya saat kami harus bolak-balik dari pintu masuk ke tempat penitipan barang balik lagi ke pintu masuk saat kami mengunjungi The National Museum of China. Kami terpaksa harus keluar lagi dan menitipkan tongsis kami di tempat penitipan karena tongsis di larang masuk National Museum. Masalahnya….jarak tempat penitipan barang dari pintu masuk itu sekitar 500 meter! Yup, saking besarnya kompleks The National Museum of China itu. Belum lagi, setelah dari museum tersebut kami menghabiskan waktu di Forbidden City, yang kalau jalan lempeng ujung ke ujung sekitar 1KM. Sesampainya di hostel, Saya ingat saya menghabiskan sekitar 10Km jalan kaki hari itu sambil membawa tas berisikan macam-macam barang. Huft, untung sehat bugar ya..heheh!

Sejak saat itu, kami sering berpikir sendiri, seandainya waktu itu kami tidak sedang rajin-rajinnya lari / olahraga, mungkin perjalanan yang kami alami waktu itu bisa jadi tidak menyenangkan dan hanya melelahkan saja. Mungkin yang ada kami kebanyakan misuh-misuh (eh, ada sih, misuh-misuh kapan segala tangga ini berakhir), tanpa benar-benar menikmati perjalanannya itu. Jadi, mungkin olahraga bukan syarat utama sebelum melakukan traveling. Tapi olahraga bisa membantu kita mendapatkan banyak kisah menarik dalam suatu perjalanan. Yuk, olahraga! 🙂

Normal Things You Can Find When You’re raveling in China

Mungkin kebanyakan orang kalau ditanya apa yang dibayangkan jika jalan-jalan ke daratan Tiongkok akan menjawab, “Wah, susah bahasanya” atau “Katanya jorok ya?”. Yup, itu juga yang saya alami ketika sedang mempersiapkan perjalanan ke Tiongkok dengan suami bulan April 2015 lalu. Sebelumya saya memang sudah sempat mengunjungi Beijing dalam rangka business trip. Waktu itu aman-aman aja sih, tapi kan segala sesuatu yang sudah diatur dengan travel agent akan berasa aman-aman saja. Hahaha. Jadi lah saya dan suami mempersiapkan segala sesuatu mulai dari belajar sedikit-sedikit kosa kata Mandarin, berbagai makanan kaleng (biar makanan tetap bersih, halal, dan gak ribet mesen-mesen karena kendala Bahasa), segala macam alat sanitasi mulai dari tissue kering, tissue basah, hand sanitizer, tissue basah berbentuk sarung tangan yg bisa dipakai untuk mandi, dll, dsb. Ternyata, sudah dengan persiapan segitunya tetep aja saya dan suami menemukan hal-hal lucu yang tampaknya memang khas kita temukan saat traveling ke negeri Tiongkok.

Continue reading “Normal Things You Can Find When You’re raveling in China”

Something Magical, Something Real

Yang hobinya traveling, pasti sering mengalami tercengang-cengang melihat sesuatu. Entah itu suatu tempat, suatu gedung, ataupun kejadian tertentu. Entah itu buatan manusia ataupun ciptaan Tuhan yang disajikan melalui fenomena alam. Kalau saya sendiri, ada beberapa hal yang masih berbekas hingga sekarang, bagaimana saya terheran-herannya saat melihat suatu hal pada saat saya traveling.

That super great Great Wall, 2013.
That super great Great Wall, 2013.

Saya masih ingat komen saya dan teman-teman saya sewaktu kami mengunjungi Great Wall, China, Atau yang biasa disebut Tembok Besar China. “Ini pasti yang bikin alien. fix, gak masuk akal gimana manusia jaman dulu bisa bikin tembok setinggi dan sepanjang ini!”. Begitu lah kira-kira. Ya bener juga sih…untuk naiknya saja biar gak capek sampai disediakan kereta gantung karena letaknya di atas bukit. Bayangin, di atas perbukitan, ada bangunan setinggi sekitar 30 Kaki, dengan panjang sekitar 8000 KM. Dan pembangunan pertamanya pun dimulai dari tahun 772 SM dan dilanjutkan secara terus-menerus hingga ratusan tahun kemudian, hingga jaman Dinasti Han. Jaman dulu pun segalanya pasti manual kan?? Ratusan ribu orang pasti berkorban untuk membangun tembok ini.  Sewaktu saya mengunjungi great wall, guide saya pun menerangkan kalau di dasar tembok ini, banyak terdapat mayat-mayat rakyat jelata/tahanan perang yang dipaksa bekerja untuk membangun tembok tersebut. Pikiran yang terlintas oleh saya waktu itu..”woh, seru juga malam jumat di sini….”

360 degrees of the magnificent grand canyon
360 degrees of the magnificent grand canyon

Saya juga tidak berhenti-hentinya berdecak kagum saat mengunjungi Grand Canyon, USA. Kali ini dengan tema fenomena alam, otak saya tidak berhenti membayangkan bagaiman proses terjadinya ngarai-ngarai raksasa yang ada di hadapan saya waktu itu. Membayangkan proses tumbukan lempeng pasifik dan lempeng benua amerika utara yang membentuk pegunungan purba, lalu membayangkan air laut yang naik hingga menenggelamkan pegunungan tersebut dan membentuk ngarai yang dalamnya bisa mencapai 1600 M itu. Sepanjang mata memandang, kita hanya bisa melihat lereng-lereng berbatu dengan sungai colorado yang mengalir diantaranya. Baru kali ini saya berada di suatu tempat, pemandangan menakjubkan berada 360 derajat disekeliling saya. Berfoto menghadap kemana pun sama saja pastinya. Apalagi ketika menaiki salah satu titik tinggi di sana. Aiih, cakeeepp banget dah!

Tapi memang sih, kalau yang namanya alam selalu dengan mudah bikin orang nganga. Sesimple apapun, seperti yang saya alami ketika mampir sebentar di bukit Malimbu, lombok. Saya yang berdiri di bukit hijau penuh rerumputan dan pepohonan, terpaksa dibuat terdiam sambil mangap ngeliatin lautan biru dibawah sana. Birunya….biru bangeet!! Mata saya sampai seger berasa kena air gara-gara yang diliat dari ujung ke ujung warnanya biru laut. Saya dan teman-teman sampai minta diantarkan oleh supir untuk mampir sebentar besoknya ke Malimbu lagi sebelum mengantarkan ke airport. Lama-lama duduk di atas bukitnya, kayaknya bisa bikin segala galau hilang. Hahaha!

When blue and green being one, there's no more you can be feeling blue in here
When blue and green being one, there’s no more you can be feeling blue in here

Perjalanan religi biasanya sudah pasti mampu membuat orang berdecak kagum saat melihat langsung tempat bersejarah bagi umatnya. Kalau dalam kasus saya, sewaktu saya diajak beribadah haji oleh orang tua saya saat saya masih berumur 13 tahun. Saya masih ingat saya malas diajak manasik haji karena waktu itu saya tidak mau ikut orang tua saya untuk ke tanah suci. Tapi begitu melihat Ka’bah di hadapan saya langsung……tanpa sadar mata dan pipi saya basah oleh air mata. Too holy and too sacred, itu yang ada dalam benak saya waktu saya pertama kalinya melakukan tawaf. Dan yang selama ini saya hanya bisa terheran-heran bagaimana orang bisa bertahan berdesak-desakan bersama ribuan orang lainnya mengitari ka’bah, saat itu saya pun terheran-heran bagaimana lega dan lapang rasanya saya berada di hadapan Ka’bah bersama ribuan jemaah haji lainnya. Benar-benar Allah maha besar atas segala sesuatunya…

Tidak semua memang tempat yang bisa membuat kita berdecak kagum dan tercengang hingga menimbulkan kesan yang mendalam pada perjalanan kita. Bahkan sesuatu yang kita awalnya tidak bereskpektasi lebih, bisa sanggup membuat kita untuk datang berulang kali dan tetap duduk terdiam untuk menikmati keindahannya. Those are mine, what’s yours?