Laskar Pelangi – Sang Pemimpi (Novel)

Baru sempat baca novelnya liburan natal n tahun baru ini, karena entah mengapa hobi membaca novel gwe seakan tenggelam oleh aliran-aliran motion picture.

Gwe akan memulai dengan laskar pelangi.  Gwe melakukan kesalahan yang besar saat membaca novel pertama dari Andrea Hirata ini.  Gwe membiarkan imajinasi gwe terikat dengan film yang sebelumnya sudah gwe tonton duluan sehingga saat membaca novel ini, yang gwe rasakan adalah perasaan terbelengu. Tidak bebas berkelana ke tanah Belitong sana, tidak bebas bermainan dengan anak-anak Melayu Pedalaman yang menamakan mereka Laskar Pelangi.

Laskar Pelangi, seperti yang sudah kita ketahui, menceritakan bagaimana Ikal (Andrea Hirata) sewaktu SD-SMP.  Bagaimana ia menjalankan kehidupan anak-anaknya meraih cita-cita, penuh petualangan, penuh kenakalan dan canda tawa meskipun ia hanyalah seorang anak dari buruh dari pabrik timah yang miskin.

Dalam buku ini diceritakan bagaimana Ikal (panggilan Andrea Hirata sendiri semasa kecilnya) dan teman-temannya belajar di SD Muhamaddiyah.  Tempat pertama mereka menggantungkan cita-cita dan mempelajari ilmu untuk meraih cita-cita tersebut.  Diceritakan bagaimana jeniusnya seorang Lintang.  Ilmu-ilmu yang seharusnya dipelajari saat tingkat perguruan tinggi sudah dikuasainya sejak SMP.  Siswa terpandai dikelasnya meskipun termasuk siswa yang paling tak mampu secara materil dikelasnya.  Ia lah yang membuat dan mendorong teman-temannya untuk memiliki cita-cita dan belajar giat untuk meraihnya. Lintang selalu berhasil mendapatkan nilai 10-9 untuk hampir keseluruhan mata pelajaran, akan tetapi ada satu pelajaran untuk lintang yang bernilai 8 yaitu pelajaran kesenian.  Angka 9 hanya untuk seorang Mahar.  Ia sangat berbakat dalam seni.  Ia yang mengangkat martabat sekolahnya dalam lomba karnaval antar sekolah.  Dalam buku ini benar-benar dilukiskan kehidupan yang indah untuk anak-anak melayu pedalaman di daerah Belitong yang menamakan dirinya Laskar Pelangi tersebut.

Andrea Hirata menggunakan paduan kata yang cerdik untuk tiap kalimat yang ia tuliskan pada tiap kalimatnya di novel ini.  Dari istilah-istilah dasar/bahasa daerah seperti Dul Muluk, Nipah, Atap Sirap hingga istilah-istilah rumit seperti Pittosporum, Cassiopeia, Galena dan sebagainya dirangkai oleh Andrea Hirata menjadi satu rangkaian cerita yang menghanyutkan.  Kita bisa dibuatnya merasakan berada di dalam ruang kelas SD Muhammadiyah, di tengah-tengah pasar, atau ikut bermain bersama para laskar pelangi menikmati euforia musim hujan.  Semua diceritakan begitu detil dan gamplang sehingga keindahan akan terlihat, harum akan tercium, dan sejuk akan terasa.

Sedangkan Sang Pemimpi menceritakan saat Ikal bersama sepupu jauhnya yang bernama Arai menempuh pendidikan SMA di sebuah daerah bernama Magai.  Di sini diceritakan bagaimana Arai dan Ikal menentukan cita-citanya yaitu menjejakkan kaki ke benua Eropa dan keliling Eropa hingga Afrika, dan belajar di altar suci almamater terhebat Sorbonne, Perancis.

Untuk meraih cita-citanya itu, Ikal, Arai dan Jimbron (Sahabat Ikal) harus bekerja sambil sekolah.  Mereka harus bekerja sebagai kuli ngambat dan bangun pukul 2 tiap paginya sebelum ke sekolah.  Semua pekerjaan yang halal dikerjakan agar mereka dapat menabung untuk melanjutkan sekolah ke Jakarta hingga ke Perancis.  Meski mereka sering berbuat onar disekolah tapi Ikal dan Arai termasuk siswa terpandai di sekolahnya.  Demi mengejar mimpi-mimpinya, mereka rela bekerja keras dan belajar yang giat.

Di novelnya yang kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata menuturkan banyak kejadian-kejadian yang lucu yang dialami oleh dirinya, Arai dan Jimbron sewaktu SMA.  Bagaimana kenakalan-kenakalan mereka atau usaha Arai dan Jimbron untuk mendapatkan cintanya.  Seperti di buku pertama, Laskar Pelangi, tiap adegan diceritakan dengan detil dan menggunakan kata-kata cerdik sehingga membuat kita terpikat kedalamnya.  Beda dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi berhasil menarik belengu imajinasi yang disebabkan telah menonton filmnya terlebih dahulu.  Novel ini berhasil membiarkan gwe merasakan apa yang diceritakan oleh Andrea.

Ada percakapan lucu yang ingin gwe kutip dari novel ini.  Kutipan ini diambil dari bab When I Fall in Love yang menceritakan Arai yang mengejar wanita pujaannya, Zakiah Nurmala.

“Nurmala adalah tembok yang kukuh, Kal…,” kilah Arai diplomatis.

“Dan usahaku ibarat melemparkan lumpu ke tembok itu,” sambungnya optimis.

“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.

“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apa pun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya,” kesimpulannya filosofis.

Akan tetapi, ada yang aneh dari rangkaian tetralogi, khususnya 2 novel pertama ini.  Di Sang Pemimpi diceritakan ayah Ikal mengangkat Arai sebagai anak sejak Ikal kelas 3 SD.  Dengan umur yang sama dengan Ikal, seharusnya Arai juga bersekolah di SD Muhammadiyah.  Tetapi, mengapa Arai sama sekali tidak disebut dalam Laskar Pelangi (yang rentangnya adalah saat SD-SMP)? Mengapa Arai sama sekali tidak termasuk dalam Laskar Pelangi?  Jika Arai masuk kedalam Laskar Pelangi, pasti kehidupan Laskar Pelangi akan lebih seru dengan adanya Arai yang (tampaknya) memiliki sifat Sanguinis-Koleris seperti Arai.  Tentu Ikal dapat lebih cepat bertemu dengan A Ling seandainya Arai ada disampingnya, karena Arai selalu ingin membantu teman-temannya. 

Gwe lebih suka dengan alur yang ditawarkan di filmnya.  Karena alurnya lebih masuk akal dan dapat langsung diterima oleh orang-orang yang belum membaca novelnya.  Bahkan gwe yang membaca novelnya setelah menonton pun masih terngiang-ngiang oleh gambaran yang ditawarkan oleh filmnya.

Well, masalah mana yang lebih baik apakah filmnya atau novelnya, semua itu terserah bagi penikmatnya.  Yang jelas, baik novel maupun filmnya tidak boleh dilewatkan begitu saja jika kalian mengaku sebagai “anak daerah” Indonesia.

Aku, Film dan Novel

Dua hal yang mewarnai hidupku.  Ada di saat aku sedih, senang, marah, stress, bahkan biasa saja.  Dua hal yang melengkapi hobiku.  Ya, aku hobi membaca novel dan menonton film.  Keduanya kudapatkan dari orang tuaku.  Ibuku dengan hobi membacanya dan ayahku yang tidak akan bisa diganggu jika sudah menonton film.

Dari kecil aku sudah memperlihatkan hobi membaca.  Tidak pernah lupa saat pertama kali mampu membaca kerjaanku adalah membaca semua tulisan yang ada di papan reklame pinggir jalan.  Atau saat pertama kali mengenal dunia internet saat kelas 2 SD, salah satu situs yang sering aku kunjungi adalah situs yang menyajikan cerpen2 untuk anak.  Ya, aku sangat suka membaca.  Dari komik sampe novel.  Bacaan berat? hm, aku suka membaca buku2 self improvement, psikologi, dan aku juga pernah tergila-gila dengan buku sastra dan biografi Soe Hok Gie.  Tapi jujur saja yang paling kusuka adalah novel, dengan segala jenis genrenya.  Tak lebih karena aku suka berkhayal dan bermimpi.

Dengan novel, aku bebas berimajinasi, berkhayal, bermimpi.  Mengimajinasikan bagaimana wujud Voldemort dalam pikiranku, merealisasikan aksi anti-terorisme Jack Ryan, dan bertualang bersama Dr. Robert Langdon memecahkan kode-kode rahasia vatikan.  Aku suka berusaha menyelami pikiran-pikiran Dan Brown, J.K Rowling, Tom Clancy, John Grisham, bahkan Enid Blyton.  Tentu saja aku juga ingin mengenali makna-makna bahasa Marah Roesli, Sutan Takdir Alisyahbana, HAMKA, atau Djenar Maesa Ayu, Seno Gumira Ajidarma, bahkan Andrea Hirata.  Semakin susah bahasa mereka, dengan anehnya aku semakin suka mencoba menyelami dunia seperti apa yang mereka tawarkan, karakter dan tokoh seperti apa yang mereka perkenalkan.

Mungkin karena itulah aku sering kecewa dengan film yang diadaptasi dari cerita novel.  Akan sangat berbeda dari bayanganku.  Tapi ya, aku hanya bisa bersungut-sungut jengkel, karena mimpi,khayalan dan imajinasi orang tentu berbeda.  Bisa saja aku salah membayangkan apa yang dimaksudkan oleh pengarang.  Tapi bagaimana pun juga aku tetap mencintai film.

Dengan film, aku tak perlu capek2 membayangkan apa maksud sang sutradara, tidak perlu mengkhayalkan apa yang mereka ceritakan.  Aku cukup perlu menyelami perasaan, tiap tutur kata dari naskah yang diucapkan para karakter, tiap makna dari adegan-adegan yang disuguhkan.  Aku cukup terlena, membiarkan mereka membuat aku menangis, tertawa bahagia, menggeram sebal, atau mungkin merinding ketakutan.  Aku menikmati jutaan perasaan dan emosi yang mereka tawarkan.  Hanya dengan melihat, sedikit mencerna, dan aku pun akan masuk ke dunia yang sama dengan mereka.  Aku juga berada dalam ruang operasi Meredith Grey, aku juga berada dalam hutan vietnam Rescue Dawn, aku berada di tengah peperangan antar robot Transformer, atau mungkin aku pun merasa dikejar-kejar zombie Rec dan menangis di kantor NASA melihat Bruce Willis dalam Armageddon.  Ya, Aku menyukai semua jenis film.  Karena itu tadi, aku seorang pengkhayal, pemimpi, dan orang yang sangat suka berimajinasi.  Dengan  suguhan visualisasi yang sudah jelas itu, tidak mungkin akan kulewatkan begitu saja.   

Film dan Novel, mungkin tampanya aku akan mengalami hidup yang biasa-biasa saja.  Tidak ada mimpi, tidak ada khayalan.  Mereka lah sahabat-sahabatku yang membawaku menyelami segala perasaan dan emosi yang pernah ada.

The Fourth Kind

Gwe udah lama banget nungguin film ini main di blitz PVJ.  Berhubung waktu inafff gk diputer di Bandung, terpaksa harus nungguin deh…

Karena itu, begitu tau udah diputer, gwe n beberapa anak kosan gwe memutuskan untuk ntn walopun masih midnite.  Ditengah orang2 ngantri Avatar dan Sang Pemimpi,gwe ke blitz tengah malam (bener2 sampe jam12 di PVJ) untuk ntn The Fourth Kind.

Film ini menceritakan suatu case study yang pernah dilakukan (katanya).  Dmana suatu kota di Alaska mengalami kejadian misterius dimana banyak orang yang dilaporkan menghilang secara misterius.  Orang2 tersebut hilang dengan pola yang sama, sama2 mengalami hal aneh yang menyebabkan mereka gk bisa tidur.  Karena itu lah mereka menceritakan masalah mereka ke Dr. Abbey yang menyelidiki masalah ini…untuk selebihnya mungkin bisa dilihati di trailer ini kali ya..

Gwe suka sama ni film, mungkin karena didasari real case studies, bisa dibilang, fact-based. well, percaya gk percaya, toh Mila Jovovich yang memerankan tokoh Dr. Abigail Tyler udah bilang dari awal, ” What you decide is up to you”.  Gwe sih slesai ntn juga masih antara percaya gk percaya apa bener hilangnya orang2 di Nome, Alaska itu benar atau tidak, karena begitu gwe googling, g ada situs resmi yang membahas tentang fenomena tersebut.  Yang ada situs2 yang membahas sedikit ttg fenomena itu karena adanya film ini.  Tapi, gmana kalo kita bahas filmnya aja?

Mila Jovovich emang gk terlalu bisa akting kayaknya.  Bisa, tp gk hebat.  Karena memang aktingnya biasa2 aja.  Malah bagusan orang2 yang memerankan pasien2 Dr. Abbey saat mereka di bawah alam sadar pegaruh hipnotis Dr. Abbey.

Film ini memasukkan courtesy dan archive berupa rekaman suara dan gambar yang (katanya) asli dari apa yang pernah dilakukan Dr.Abbey dan temannya.  Jadi ada orang2 yang berakting, lalu layar dibagi 2 untuk memperlihatkan rekaman2 gambar yang sesuai dengan adegan yang difilmkan.  Adegan dan dialog bener2 disesuaikan dengan archive itu tadi.  Bagian yang memperlihatkan archive itu lah yang menurut gwe daya tarik film ini.  Tapi sayang, secara sinematografi, gwe sangat terganggu dengan cara pengambilan gambar. Gwe gk ngerti mksdnya apa, knapa juga harus digoyang-goyangin di adegan apapun?mksdnya dokumenter?gk juga, itu adegan sehari2 biasa orang lagi ngebahas pekerjaan.  toh, di film ini, dokumentasi dilakukan dengan kamera yang menggunakan tripod, jadi gk akan goyang2…terlalu lebay kayaknya.

Yang menarik adalah bagian credit di akhir cerita. yang biasanya diisi dengan score untuk mengiri credit nama2 crew, tp di film ini score diganti dengan rekaman orang2 yang menelepon melaporkan kalo mereka melihat UFO, alien dan sebangsanya.  Hal ini menyebabkan (anjir bahasa gwe udah kaya bikin TA aje) para penonton di bioskop bner2 tidak beranjak untuk ntn  credit sampe habis.  Hal yang jarang terjadi di film apapun.  Gwe juga bingung knapa ni orang gk sadar ya?hahaha…

yaaa…ditunjang archive yang menarik perhatian dan intens, akting kurang bagus, sinematografi kurang oke, credit yang kreatif…i give this movie 6.5/10

Andrea Hirata, Lukman Sardi, dan Sang Pemimpi

Baru aja sampe kosan…dari petualangan seru dalam bbrp jam terakhir..here it is..
*gw post dari BB gw,jd jgn slhin kalo gw nulia make bhs sms..:p *

Bermula dari ngerjain PLO bareng di tempat Hanief. Dari jam1 smp jam5 yg gw dapet adlh satu pabrik KK3. Bukan template. Pabrik. ditengah rasa (sedikit) panik,ym dari Tati masuk…n gw yakin dia ngajakin berimpulsif ria. Bener aja dia ngajakin ntn Sang Pemimpi midnite hari ini juga. Weits,jgn panggil gw yoan klo gk berani menjawab tantangan impulsif! Dan hanief yg akhir2 ini trkena korban sanguinis macam gw n tati pun segera setuju untuk ikut ntn mlm ini jg. Jadilah jam 5 gw jmput tati untuk beli tiket film biar dpt.

Pas pjlnan,yg biasanya gw masang CD,somehow gw bosen n gw muter prambors bandung 98.4 fm. Dan trnyata lagi ada wawancara sama crew Sang Pemimpi. Waaahh..ada kmungkinan untuk ktemu dong! Dengan hrpn itu,gw n tati mutusin u/ ntn d pvj..

Sanpe d pvj,gw sngaja lewat pintu blkg biar ngelewatin prambors. Pas naik, yaaakkk…mbak Mira Lesmana n Mas Riri Riza lg duduk nangkring d teras prambors (ber2 aja smntara crew lain d dlm,prikitiiiww!). Gw n tati bingung antara pngen ngajak foto ato gk…jujur sih,gw lebih ngejar Lukman Sardinya..Tati menganjurkan untuk beli tiket dl,nnt bgtu kluar baru samperin. Tp sayangnya bgtu keluar,2 org itu udah gk ada!waaahh….akhirnya kami pun kluar dari pvj..

Tp bgtu gw lwtin prambors dgn pln2,gw ngeliat Lukman Sardi yg tersenyum dr balik kaca. Spontan gw teriak histeris macam abg labil ktemu charlie ST12! Kita udah smp kluar pvj,byr parkir,smp prempatan cemara……….dan kami pun memutar untuk kmbali k pvj,memutuskan urat malu,serang para Sang Pemimpi itu!

Gw n tati bener2 nyamperin prambors n d dpnnya ada kru prambors. Bgtu kita tyk blh potoan,tanpa d duga,kami diijinin!diblhn nunggu skitar stgh jam kurang smp acrnya beres……dan acr pun beres.

Satu2 wajah terkenal keluar. 3 anak pemeran remaja di film Sang Pemimpi, riri riza,mira lesmana dan tntu saja lukman sardi. Sampe tiba2 mas Andrea Hirata lewat d samping kita,nyapa n berdiri d teras. Segera lah gw n tati nyamperin……dan kami pun ngobrol!bneran ngobrol!ngomongin kuliah,ntn film,smp belitong. Wew! N gw pun smpet fotoan sama dia…dan gw masih berharap bs fotoan sama lukman sardi.

Dan…….tb2..rombongan pada kluar dari dan prambors. Dan gw pun lgs nyamperin lukman sardi yg msh di ambang pintu. Nyapa,nanyak boleh fotoan, dan dia pun tersenyum (super duper gk masuk akal charming) dan bilang boleh………….
Dan kami pun berhasil mengambil foto berdua dgn lukman sardi! 😀 😀 😀

Lukman sardi ganteng,baik hati, gk sombong,lucu n asik!!!!!!bahkan pas rombongan pergi pun dia sempet ngliat gw,ngangkat tgn n blg “yuk” khas org pamitan. Kyaaa!

Jam10, gw,tati,hanif,senia,ayu ntn filmnya. Film sederhana yg mnampilkan detil dan kekuatan akting tiap2 pemerannya. Mungkin untuk org yg g sk drama bakal ngantuk,tp gw sgt terpesona dgn khbtan akting yg disungguhin. Superb for Mathias Muchus n Rieke Dyah Pitaloka. Dan ketiga pemeran ikal (kcil,remaja,dewasa) yg bisa akting sm persis untuk mmerankan tokoh mrk. Kita seolah dliatin perkembangan tokoh ikal yg konsisten sikapnya meski diperanin dgn 3 tokoh yg brbeda pengalaman n pribadinya. Bener2 bisa sinergis!
Oy,gk lupa jg ada tokoh Nazril Irham aka ariel peter pan. Jujur,gw ucapin slmt k dia. Ken berani ngelepas nama ariel peter pan n muncul dgn nama aslinya dan mmperlihatkan niat dlm akting. Emang standar,tp emg bgan dia g prlu akting yg berlebihan. Plg dibuat trlihat sgt tdak keren n gk catchy n kusam. Yaaa…bgs lah untuk permulaan..

Scara keseluruhan gw beri nilai 8/10 untuk film ini…..

Dan dengan Lukman Sardi, gw beri rating 10/10 untuk malam ini…:)

saat kamu mendarat

Saat duniamu berputar cepat
Kamu pun hanya terbang
Tinggi berputar-putar
Tanpa merasakan gerakan dunia
Semua sudah terlambat
Saat kamu mendarat

Kemana kamu terbang?
Sadarkah kamu burungpun segan menemani?
Kemana kamu melayang?
Bahkan sejengkal tanahpun tak kau singgahi…
Semua sudah terlambat
Saat kamu mendarat

Berhentilah kamu melayang
Berjalanlah bersama putaran dunia
Berhentilah kamu terbang
Sebelun semua sudah terlambat
Saat kamu mendarat