Saat ini aku sedang merajut mimpi
Saat ini aku sedang menyusun puzzle kisah
Mimpi dan kisah kita berdua
Aku rajut sepenuh hati
Aku susun sepenuh jiwa
Dari untaian benang tawa
Ataupun kotak-kotak kebahagiaan
Dari untaian benang air mata
Ataupun kotak-kotak kesedihan
Semua untuk mimpi dan kisah kita
Jangan pernah kau gunting rajutan setengah jadi itu
Jangan pernah kau serak-serakkan puzzle belum sempurna itu
Karena aku ingin melihat dan merasakan mimpi dan kisah kita nantinya…
Nantinya…
Saat mimpi dan kisah kita telah berbaur dan berjalan bersama
Sangat menarik. Orang-orang bandung memang juaranya kalau disuru berkreatif ria. Gak tau siapa yang mengadakan, tapi kalo seminggu lalu kalian melewati sumur bandung, kalian akan melihat ini
Awalnya, jujur saja, gwe benar-benar berpikir akan ada perlombaan off-road dengan mobil-mobil besar. Yang dilanjutkan ke taman sari ataupun siliwangi. Wah, kapan? batin gwe. Hingga suatu saat, saat gw menyusuri jalan sumur bandung dengan jalan kaki, gwe pun melihat ini (dan selama ini merasakannya)
Menurut kalian, apa sih sahabat itu? Seseorang yang selalu ada di saat senang maupun susah? Seseorang tempat kalian curhat? atau Seseorang yang “tingkatannya” lebih dari teman tapi kurang dari pacar?…dan kapan kalian merasa pantas menyebut seseorang tersebut adalah sahabat kalian?
Bagi gwe sendiri, ya, sahabat seharusnya ada di saat senang maupun susah. Ya, sahabat adalah orang yang bisa gwe percaya sebagai tempat curhat, yang gwe yakini, tidak hanya sebagai pendengar setia, tp bisa memberi solusi. Tapi kalo masalah “tingkatan”, tunggu dulu. Yang jelas, dia memang lebih dari sekedar teman biasa, biasanya ia lebih mengenal kita sehingga kita akan merasa lebih nyaman berbagi cerita kepadanya. Tapi apa memang kurang dari pacar? hmm..tergantung. Tapi bukan itu yang ingin gwe bahas sekarang
Barusan gwe chatting sama temen gwe, sebut saja si mr.cinta-kaltim. Dia bilang :
Temen-temen tu pasti ada. Tapi kan kita ngga bisa ngasih predikat seseorang sebagai sahabat dalam hitungan hari atau bulan
Sudah lama mau nonton film ini, tapi baru kesampaian beberapa hari yang lalu.
Memang sudah seperti kewajiban rasanya untuk nonton film-film Denzel Washington. Sampai sekarang setelah menonton hampir semua filmnya, gwe masih terheran-heran dengan kemampuan aktingnya. Meskipun film yang dimainkan memiliki cerita sederhana atau sudah ada beberapa film lainnya yang menceritakan hal yang sama, tapi karena adanya Denzel Washington film tersebut akan menjadi luar biasa
Begitu juga dengan The Book of Eli. Awal-awal cerita gwe masih kurang mengerti apa yang terjadi di Bumi. Semua seperti hancur, gersang, dan kehidupan yang tersisa sangat mengenaskan. Orang-orang saling merampok, membunuh, bahkan terpaksa memakan daging manusia saking susahnya makan. Sempat diperlihatkan ada lubang besar di permukaan tanah, kendaraan-kendaraan perang yang hangus dipinggir jalan. Apa mungkin film ini menceritakan apa yang terjadi pada bumi jika kita terus berperang? Atau ada suatu ledakan besar, karena meteor mungkin?gwe pun menonton dengan sabar. Hingga tiba seperempat film, masih tidak jelas kemana alur cerita. Gwe pun mulai bosan. Tapi, lagi-lagi harus gwe bilang karena Danzel, semakin lama film diputar,semakin banyak ia muncul pada film, semakin menarik film tersebut.
Untuk orang yang telah tinggal di Bandung sejak tahun 2006 lalu, mungkin termasuk telat untuk baru secara gamblang memperhatikan dan menceritakan tentang Sumber Hidangan.
Seperti yang udah banyak orang tau, Buaaanyaaakk orang tau, Sumber Hidangan adalah sebuah toko Roti dan kue yang telah buka dari 1929. Hampir seumur sama ITB. Terletak di Jalan Braga, zaman itu Sumber Hidangan adalah Cafe yang tersohor, tempat nongkrongnya kalangan atas, didominasi oleh kalangan Belanda. Apa yang terjadi dengan Sumber Hidangan sekarang??
Beberapa waktu yang lalu, gwe dan mama iseng jalan-jalan menyusuri jalan braga. Dan tentu saja kami mengunjungi Toko Roti Sumber Hidangan. Adakah perubahan berarti sejak tahun 1929? dari foto yang gwe lihat terpampang di sana, jawabannya, tidak ada. Atau sangat minim sekali.
Roti-roti diletakkan di lemari-lemari kuno, bahkan furniture di sana terlihat seperti furniture tahun 70-80an. Nih, beberapa foto yang berhasil gwe ambil
Kue-kue Sumber HidanganAneka bentuk roti sumber hidanganBerbagai jenis roti Sumber Hidangan, isi maupun kosong
Tekstur dari roti yang dihidangkan sangat berbeda dari roti kebanyakan. Warnanya kuning, seratnya besar-besar, tidak lembut sama sekali justru terkesan agak keras dan agak susah digigit. Katanya mama, roti disini sama sekali tidak menggunakan pelembut sama sekali dan tentu saja tidak menggunakan pengeras. Rasanya juga unik. Baunya wangi banget. Bagi gwe, ini pengalaman pertama gwe makan roti seperti itu. Kasarnya, makan aslinya roti kalau kata mama. See what else at there, keep reading 😉