Me…goes to Europe!!

Gak bohong!

secara tiba-tiba saja, insya Allah, gwe tidak merayakan lebaran di Jakarta bersama keluarga besar, tapi gwe akan merayakan di Jerman! wow!

mimpi apa coba gwe?
Rencana gwe, gwe akan keliling eropa tahun 2011, backpacking. Dan, dengan segala kerandoman dan keimpulsivan gwe, rencana mengunjungi benua itu dimajukan hingga lebaran nanti! wew!

Semua benar-benar diluar perkiraan.
Gak ada bayangan di benak gwe sebelumnya, saat gwe menerima BBM dari Dona temen gwe.  dia pun bertanya suatu hal sederhana, berapa harga tiket masuk ke dufan. Ya, dufan.

Dan percakapan pun bergulir tentang wahana-wahana di dufan. Antriannya. Yang seru atau yang tidak. Dan mulai lah kami membandingkan dengan Disney Land. Dona dengan Disneyland paris, gwe dengan Disneyland Los Angeles. Dan merembet ke segala jenis Universal Studio. Dan, ntah apa yang Dona pikirkan, tiba-tiba dia teringat sesuatu, dan berkata, “September nanti gwe mau ke jerman, agak lamaan, 20 hari gitu. Mau ikut gak??”

What????

Gwe tanya waktunya, dia bilang tanggal 5-23 september. Untuk pertama kalinya, gwe membuka kalender pendidikan ITB jauh sebelum kuliah dimulai. Dan, libur lebaran jatuh pada tanggak 6-17 september. Dan gwe pun mulai berkalkulasi. Jika gwe pulang tanggal 23, gwe hanya bolos seminggu, dan lagi pula kuliah gwe sudah mulai jarang. Definitely, it’s the right time!!

Dan gwe pun memulai diskusi dengan mama. Mulai khawatir karena justru biasanya Exit Permit dari orang tua lebih susah keluar dari pada kedutaan mana pun. Tapi, entah angin apa, tiba-tiba nyokap gwe bilang, “ya udah, ntar mama bilang papa”. Wew!!

Mulai lah gwe panik mencari tiket, karena syarat orang tua gwe hanya boleh pergi jika dan hanya jika satu pesawat sama Dona. Sementara Dona sudah membeli tiket duluan. Dengan bijaknya, si Dona sudah membeli tiket Lufthansa. Astaga, kurang mahal apa lagi coba??? Setelah panic attack yang cukup lama, akhirnya, terbelilah tiket PP Jakarta-Berlin-Jakarta dengan Lufthansa,  $ 1630,11. uh oh. Impulsive termahal.

Jam 6 sore membicarakan Dufan, jam 11 malam sudah memiliki tiket. Wawww!!

Deutschland, kommen hierher, ich!!

Aku. Sekarang.

Aku yang sekarang,
Tidak bisa menjadi bintangmu, bulanku
Sendiri lah kau di langit malam nan gulita

Aku yang sekarang,
Tidak bisa menjadi airmu, sungaiku
Keringlah sendiri kau di sana

Aku yang sekarang,
Tidak bisa menjadi cahayamu, matahariku
Gelaplah kau bagai gerhana

Aku yang sekarang,
Ah, apalah aku ini di hatimu?
Sent from my BlackBerry® smartphone

Kamu. Di sini.

Aku ingin kamu di sini.
Bukan, bukan untuk meredakan tangis ini.
Tapi untuk melihat tangis ini.
Lihat.
Ini lah yang kau perbuat.

Aku ingin kamu di sini.
Tidak, aku tidak butuh bersandar padamu.
Aku mau kau melihat
Luka yang baru kau sayat.

Tidak kah kau dengar rintihan ku malam ini?
Tidak kah kau dengar isak tangis lemahku malam ini?
Itulah,
Aku ingin kau di sini.

Sent from my BlackBerry® smartphone

Antara aku, temanku, dan Gandhi

Suatu waktu, saya sedang kalut hingga temanku berkata seperti ini :

” Lebih baik nangis, daripada dipendam jadi dendam”

Dan saya yang antipati sama yang namanya menangis pun menjawab :

“Daripada menangis dan terlihat lemah, lbh baik aku dendam tapi terlihat kuat”

Teman saya itu hanya tertawa.
Tapi saya langsung terngiang jawaban apa yg akan seorang Gandhi berikan (oh, jangan tanya kenapa Gandhi bisa muncul) :

“An eye for an eye makes the whole world blind”

Sial.

Tapi lalu saya pun teringat, dan mencoba mendebat orang bijak itu :

“An eye for an eye makes the whole world blind, huh? But, We loved each other…oh , and you know, love IS blind. We’re already blind.”

when we lost our bestfriends

That’s what i feel now. At least, what i start to feel now.

Semenjak semester 8, semester paling kejam yang pernah ada. Bukan karena tugas-tugasnya. Atau karena mata kuliahnya. Tapi karena kami yang mulai jarang bersama.  Semua sibuk dengan mata kuliah pilihan masing-masing. Dan tentu saja sibuk dengan tugas akhir masing-masing. kurang kejam apa coba??

Saya pernah kehilangan seorang sahabat. Dia pindah untuk mengejar cita-citanya saat ia masih SMP. Persahabatan 13 tahun kami selesai sampai di situ. Ketika kami bertemu, kami seperti orang yang tidak pernah saling mengenal. Mengingat segala permainan yang sering kami lewati bersama sebelumnya, hhh, mengerikan.

Nah, persahabatan yang kami jalani baru 4 tahun ini, akan kah bisa bertahan?

Kalau dipikir-pikir lagi, apakah sekarang ada yang dinamakan sahabat hingga akhir hayat?? Saya pun bertanya pada diri sendiri, punya kah Saya sahabat yang seperti itu? apakah saya seorang sahabat yang seperti itu bagi sahabat-sahabat saya sekarang?

Karena, coba kita lihat-lihat lagi. Persahabatan bisa berubah seiring perubahan pada hidup kita. Sahabat waktu SD bisa berubah saat kita SMP. Mungkin juga sahabat sejak SD hingga SMA menjadi terlupakan karena berbeda tempat kuliah, sehingga hidup kita berubah, cerita kita berubah, kisah tak lagi sama, tawa dan sedih tak lagi bersama. Jadi asing, digantikan oleh sahabat sewaktu kuliah yang memiliki kisah yang sama, tawa dan sedih yang bersama.

Salah kah itu semua??

Kami hidup di era dimana teknologi bukan lagi makhluk asing. Bukan lagi seperti penggambaran orang-orang zaman dulu dimana teknologi hanya berada pada tempat-tempat penting.  Semua memiliki email, beberapa jaringan sosial, dan semua bisa dibawa kemana-mana dalam genggaman sebuah telepon genggam. Tapi, tetap saja semua itu terjadi. Jadi salah dimananya? manusianya kah?

Kita sendiri yang tidak sadar memilih mana yang sebagai sahabat kita mana yang sekedar teman biasa. Kita sendiri yang meninggalkan sahabat lama kita, lalu selanjutnya mulai tidak saling mengenal. Kita pun mulai berpikir bahwa sahabat lama kita sudah tidak cocok dengan kita, dan kita merasa lebih nyaman dengan sahabat yang baru. Mungkin? Mungkin saja itu terjadi.

So what will you do when you lost your bestfriends? find another bestfriend? Is that a right move?

or….keep it? no matter what happened between you two.