Pisang Bakar Keju Susu Coklat

Mirip nama menu di Madtari atau sejenisnya ya???

Dulu waktu di bontang, gwe termasuk sering bikin bareng mama untuk cemilan makan sore. Gara-gara mama mengupload cemilan ini di salah satu grup BB, gwe jadi kangen sama rasanya dan jadi lah gwe dengan semangat super 45 berencana untuk membuatnya juga! Dari jakarta, gwe sudah memutuskan untuk langsung membuat cemilan ini sebagai teman berbuka puasa. Dengan semangat yang menggebu-gebu setelah 17an, gwe pun langsung memutuskan untuk segera membeli pisang begitu sampai di Bandung. Sampai kosan, gwe pun hanya mengambil kunci mobil dan segera pergi lagi untuk hunting pisang di daerah Cipaganti sebelum jalanan mulai macet.

Pisang yang dibutuhkan adalah pisang raja. Karena malas masuk ke pasar simpang dan entah dimana gwe akan parkir kalau belinya disana, maka gwe pun pergi ke jalan Cipaganti. Untung mama mengingatkan gwe akan banyaknya penjual pisang di jalan ini, tepatnya setelah Pom Bensin di seberangnya RM. Dahapati. Beli pisangnya pun gak perlu turun dari mobil karena benar-benar di pinggir jalan. Untung banget gwe dapat penjual yang baiiik banget! Di sana dijualnya persisir. Mau yang banyak isinya sama yang dikit harganya sama. Dan gwe pun berhasil mendapatkan pisang raja sesisir berisi 20an buah dengan harga 10.000! Bahkan si penjual tanpa ditawar menurunkan sendiri harganya menjadi hanya 8000. Ah, kasian sekali bapaknya…tetap lah gwe kasih 10.000 jadinya 😀

Sampai di kosan, gwe pun langsung membuatnya. Setelah proses bakar-membakar, oles-mengoles, parut-memarut, dan tabur-menabur, ini lah pisang bakar keju susu coklat ala gwe!!

Tadaaaa!! 😀

now, let me tell you how to make it 😉

Kamar di Seberang Kolam

Malam itu,
kamu begitu kusut.
Padahal,
sudah senyum manis yang kutawarkan
“aku ingin kembali ke kamar!”, itu saja katamu.
Dan pergi lah kau seorang diri,
ke kamar di seberang kolam

Lalu malam pun datang kembali,
dan kita dipersatukan sekali lagi,
disitu, di kamar di seberang kolam
Ah, kamu pun tersenyum di bawah temaram

dan datang lah kembali sang malam
aku senang,
ternyata senyummu manis!
dan setiap percakapan kita, manis!
seperti lampu-lampu yang berpendar dari dasar kolam,
menemani riak yang menari-nari pelan

Hingga akhirnya malam merenggutmu
Kamu pun menyusuri besi memunggungiku,
tapi aku masih ingat,
senyummu yang manis itu.
Ah, mungkin aku hanya perlu menunggu
Seperti malam-malam,
pada kamar di seberang kolam