Which travel type are you?…Part 2!

Sebenarnya saya sudah pernah posting dengan judul yang serupa. Tapi semakin kesini saya semakin gatal untuk mengulik lebih dalam lagi.

Kalau diperhatikan, sekarang semakin banyak orang-orang yang suka traveling. Kayaknya traveling sudah menjadi hobi paling hits akhir-akhir ini. Orang berlomba-lomba untuk mengunjungi suatu tempat, berfoto di landmark-landmark mainstream, posting di social media, lalu mendapat komen “oleh-oleh, ya!”. Padahal, dibalik sebuah jalan-jalan, pasti ada satu hal lain yang bikin si traveler puas. Ntah itu dengan belanja, ke tempat-tempat khas, wisata kuliner, atau mungkin ke museum.

Biasanya, kalau orang Indonesia gak lepas dari shopping. Bahkan banyak dari mereka yang tujuan utama dari jalan-jalan yaa belanja! Alasannya biasanya sih gak jauh dari “Di Indonesia lebih mahal!” (padahal Cuma beda 100-200 ribu), “Di Indonesia belum ada nih!” (padahal tinggal nunggu beberapa bulan lagi juga muncul), “si itu titip anu nih!” (nah ini!!). Itu lah, di Indonesia budaya oleh-oleh memang merajalela. Sejak saya kerja di Sony dan business trip bareng dealer/customer, kami selalu memberikan satu hari khusus untuk belanja. Kasian boo, bapak-bapak itu pada pusing dititipin sama istrinya…hihihi! Nah, yang tipe-tipe suka belanja nih yang susah digabung sama tipe yang lain. Bisa seharian tuuh! Hehehe..

Atau ada juga yang sukanya ke alam, misalnya kaya naik gunung. Biasanya yang kaya gini yang suka mengaktualisasi diri dan yang ingin “sendiri” dulu, lepas dari “kewajiban” bersosialisasi. Atau mungkin, malah maunya menikmati hotel saja. Leyeh-leyeh seharian gak mau kemana-mana.

Ada juga yang hobinya jalan-jalan untuk memuaskan hobi fotografinya. Nah, kalau yang ini justru enak digabung jalan dengan orang-orang dari tipe mana pun. Soalnya, diajak kemanapun, dia pasti bisa menemukan objek menarik untuk dijepret. Jadi, yang lagi asik belanja ataupun yang lagi asik liat-liat di museum, jangan khawatir kekurangan bahan foto! Hihi…

Saya sendiri, ada 2 yang selalu saya “kejar” tiap jalan-jalan. Yang pertama, its people. I want to see, to know and to learn anything about the people who live at the place I’ve visited. Ntah itu kebiasaan mereka, pola pikir mereka, bahkan kalau bisa Bahasa lokal. Rasanya tuh banggaaa banget kalau pulang-pulang dari suatu tempat bisa Bahasa lokal sana. Well, minimal bisa mesen makan di resto/café lah yaa..hihihi! Jadi inget waktu saya di Roma saat saya dibilang “perfecto~~” oleh waitress café karena saya minta bill dalam bahasa italy..yaay!!

Yang kedua, its culture and history. Menurut saya, budaya dan sejarah lah penjawab semua kekaguman tiap kita datang ke suatu tempat. Bagaimana dan kenapa suatu tempat bisa dijaga, dan bagaimana suatu tempat bisa seindah itu. Makanya, setiap saya datang ke suatu tempat, saya selalu menyempatkan untuk datang ke museum untuk tau cerita dari tiap daerah yang saya kunjungi. Lagian, mengunjungi museum bisa sekalian istirahat looh! Kan, tempatnya adem terus jalannya sambal pelan-pelan atau kadang duduk nonton videonya..hohoho!

Saya sih tidak pernah menganggap mana yang lebih baik, antara backpacking atau yang mewah, antara yang jalan-jalan sendiri ataupun yang ikutan tur. Semuanya sih sama saja, karena intinya jalan-jalan itu escape kaan..Kan sayang, kalau sudah keluar biaya tapi kitanya sendiri gak puas..ya gak siih??

Shantaram by Gregory David Roberts

“Sometimes we love with nothing more than hope. Sometimes we cry with everything except tears. In the end that’s all there is: love and its duty, sorrow and its truth. In the end that’s all we have–to hold on tight until the dawn”

Finally done reading this. There’s only 2 choices about reading it, either you hate it very much or you love it so much.

For me, i love it! I love it that I can recall all the stories within those 1255 pages. That quote above is just one of the beautiful and smart dialog you can find in this book. All the loves, the sorrows, the laughs and cries were well explained by Gregory/Lin. We could got a clear picture about India; its people, its life, its culture and way of thinking.

As goodreads said :
“Burning slums and five-star hotels, romantic love and prison agonies, criminal wars and Bollywood films, spiritual gurus and mujaheddin guerrillas—this huge novel has the world of human experience in its reach, and a passionate love for India at its heart.”

[Short Review] Theodore Boone: The Abduction by John Grisham

Always being a big fan of John Grisham, but never read this series before. But still, it’s always around USA lawyer’s life.
(But, no Cardinals now, eh, John?)

But hey, if you guys used to love reading a light detective stories, about a crime-obsessed kid such us Nancy Drew, Jupiter Jones, and George Kirrin, Theo Boone can absolutely fulfill your nostalgic memories. It’s irresistible!

Something Magical, Something Real

Yang hobinya traveling, pasti sering mengalami tercengang-cengang melihat sesuatu. Entah itu suatu tempat, suatu gedung, ataupun kejadian tertentu. Entah itu buatan manusia ataupun ciptaan Tuhan yang disajikan melalui fenomena alam. Kalau saya sendiri, ada beberapa hal yang masih berbekas hingga sekarang, bagaimana saya terheran-herannya saat melihat suatu hal pada saat saya traveling.

That super great Great Wall, 2013.
That super great Great Wall, 2013.

Saya masih ingat komen saya dan teman-teman saya sewaktu kami mengunjungi Great Wall, China, Atau yang biasa disebut Tembok Besar China. “Ini pasti yang bikin alien. fix, gak masuk akal gimana manusia jaman dulu bisa bikin tembok setinggi dan sepanjang ini!”. Begitu lah kira-kira. Ya bener juga sih…untuk naiknya saja biar gak capek sampai disediakan kereta gantung karena letaknya di atas bukit. Bayangin, di atas perbukitan, ada bangunan setinggi sekitar 30 Kaki, dengan panjang sekitar 8000 KM. Dan pembangunan pertamanya pun dimulai dari tahun 772 SM dan dilanjutkan secara terus-menerus hingga ratusan tahun kemudian, hingga jaman Dinasti Han. Jaman dulu pun segalanya pasti manual kan?? Ratusan ribu orang pasti berkorban untuk membangun tembok ini.  Sewaktu saya mengunjungi great wall, guide saya pun menerangkan kalau di dasar tembok ini, banyak terdapat mayat-mayat rakyat jelata/tahanan perang yang dipaksa bekerja untuk membangun tembok tersebut. Pikiran yang terlintas oleh saya waktu itu..”woh, seru juga malam jumat di sini….”

360 degrees of the magnificent grand canyon
360 degrees of the magnificent grand canyon

Saya juga tidak berhenti-hentinya berdecak kagum saat mengunjungi Grand Canyon, USA. Kali ini dengan tema fenomena alam, otak saya tidak berhenti membayangkan bagaiman proses terjadinya ngarai-ngarai raksasa yang ada di hadapan saya waktu itu. Membayangkan proses tumbukan lempeng pasifik dan lempeng benua amerika utara yang membentuk pegunungan purba, lalu membayangkan air laut yang naik hingga menenggelamkan pegunungan tersebut dan membentuk ngarai yang dalamnya bisa mencapai 1600 M itu. Sepanjang mata memandang, kita hanya bisa melihat lereng-lereng berbatu dengan sungai colorado yang mengalir diantaranya. Baru kali ini saya berada di suatu tempat, pemandangan menakjubkan berada 360 derajat disekeliling saya. Berfoto menghadap kemana pun sama saja pastinya. Apalagi ketika menaiki salah satu titik tinggi di sana. Aiih, cakeeepp banget dah!

Tapi memang sih, kalau yang namanya alam selalu dengan mudah bikin orang nganga. Sesimple apapun, seperti yang saya alami ketika mampir sebentar di bukit Malimbu, lombok. Saya yang berdiri di bukit hijau penuh rerumputan dan pepohonan, terpaksa dibuat terdiam sambil mangap ngeliatin lautan biru dibawah sana. Birunya….biru bangeet!! Mata saya sampai seger berasa kena air gara-gara yang diliat dari ujung ke ujung warnanya biru laut. Saya dan teman-teman sampai minta diantarkan oleh supir untuk mampir sebentar besoknya ke Malimbu lagi sebelum mengantarkan ke airport. Lama-lama duduk di atas bukitnya, kayaknya bisa bikin segala galau hilang. Hahaha!

When blue and green being one, there's no more you can be feeling blue in here
When blue and green being one, there’s no more you can be feeling blue in here

Perjalanan religi biasanya sudah pasti mampu membuat orang berdecak kagum saat melihat langsung tempat bersejarah bagi umatnya. Kalau dalam kasus saya, sewaktu saya diajak beribadah haji oleh orang tua saya saat saya masih berumur 13 tahun. Saya masih ingat saya malas diajak manasik haji karena waktu itu saya tidak mau ikut orang tua saya untuk ke tanah suci. Tapi begitu melihat Ka’bah di hadapan saya langsung……tanpa sadar mata dan pipi saya basah oleh air mata. Too holy and too sacred, itu yang ada dalam benak saya waktu saya pertama kalinya melakukan tawaf. Dan yang selama ini saya hanya bisa terheran-heran bagaimana orang bisa bertahan berdesak-desakan bersama ribuan orang lainnya mengitari ka’bah, saat itu saya pun terheran-heran bagaimana lega dan lapang rasanya saya berada di hadapan Ka’bah bersama ribuan jemaah haji lainnya. Benar-benar Allah maha besar atas segala sesuatunya…

Tidak semua memang tempat yang bisa membuat kita berdecak kagum dan tercengang hingga menimbulkan kesan yang mendalam pada perjalanan kita. Bahkan sesuatu yang kita awalnya tidak bereskpektasi lebih, bisa sanggup membuat kita untuk datang berulang kali dan tetap duduk terdiam untuk menikmati keindahannya. Those are mine, what’s yours?

 

 

Lika-liku Business Trip

Mungkin saya termasuk dari beberapa orang yang (sangat) beruntung mendapatkan pekerjaan yang banyak membawa saya melakukan business trip ke luar negeri. Saya pernah sedikit menyinggung tentang traveling karena business trip di sini. Yah, seperti jawaban pada umumnya, “ada enak gak enaknya sih”, kalau seandainya saya ditanya enak atau tidak jalan-jalan bareng kantor. Sebenernya, lebih banyak yang memberi komentar, “Wuih, jalan-jalan terus yo!” atau “Enak banget hidup lo, Yo!”, dan sejenisnya. Seenak itu gak sih sebenernya business trip itu? Semua tergantung dari jenis business tripnya itu sendiri tentu saja!

Suasana line-up meeting. Udah cewek sendiri, yang lain bapak-bapak lagi...huhuu...
Suasana line-up meeting. Udah cewek sendiri, yang lain bapak-bapak lagi…huhuu…

Selama setahun lebih di tempat baru tempat saya bekerja sekarang, saya menyadari ada berbagai macam business trip. Ada yang meeting, ada yang datang ke pameran, ada juga yang pure jalan-jalan semata sebagai incentive ke customer/dealer. Yap, gak diragukan lagi, kalau kerja di dunia Marketing dan Sales, apalagi kita sebagai principle, sudah pasti ada incentive ke customer ataupun dealer. Nah, yang pure jalan-jalan ini lah yang super banget enaknya. Hal ini saya rasakan sewaktu mendapatkan kesempatan ke Jepang dan ke Paris bersama salah satu TV swasta sebagai customernya. Yang waktu ke Jepang, kami tetap melakukan berbagai macam visit. Sewaktu itu sih, kami visit ke kantor pusat, TBS TV japan dan NotTV japan. Yah, tapi tetep aja, namanya juga visit, ya jalan-jalan juga rasanya! Apalagi yang namanya visit itu sebenernya cuma sebagai “kedok” dari “visit” yang sebenarnya. Waktu itu, kami bersama rombongan sudah disiapkan bus lengkap dengan guide yang bisa berbahasa Indonesia, diantarkan ke tempat-tempat turis seperti Asakusa, belanja di Ginza, bahkan sempat mencicipi Shinkansen untuk perjalanan pulang dari lake Hakone ke Tokyo. Berhubung jalan sama bos-bosnya, tempat makan pun dipilih tentu yang berkualitas dan unik, seperti restoran Ninja di daerah Akasaka ataupun mencicipi 12 course menu di Jin Ya di Atsugi. Belum lagi nyobain unagi don ataupun cold soba tempura…dan semuanya tanpa mengeluarkan duit pribadi tentu saja! fufufu…

Berpose sebelum "menghilang" di BIRTV beijing dengan rombongan dari Metro TV
Berpose sebelum “menghilang” di BIRTV beijing dengan rombongan dari Metro TV

Sedangkan waktu ke Paris, sebenarnya tujuan utama adalah mengunjungi pameran IBC di Amsterdam. Nah, business trip dengan tujuan mendatangi pameran pun rasanya berbeda. Saya sudah mengunjungi tiga pameran broadcast besar selama ini, BCAsia di Singapore, BIR TV di Beijing dan IBC di Amsterda

m. Waktu di singapore, hampir tiap hari, kami harus ke pameran. Karena di BCAsia sangat dekat dengan indonesia, kemungkinan untuk bertemu customer dan kesempatan untuk menjelaskan produk ke customer jadi lebih besar

tanpa kita perlu mengundang customer tertentu. Awalnya memang harus dari pagi, standby dari jam buka pameran hingga sore menjelang tutup. Tapi makin hari akhirnya datang mendekati pukul 12 dan pulang gak sore-sore amat…antusias orang indonesia juga memang biasanya berkurang di hari-hari terakhir karena mereka lebih milih belanja. huahaha! Sedangkan waktu di BIR TV, kami hanya punya waktu 1 hari untuk berkeliling pameran. Berhubung waktu itu ada satu ibu-ibu yang ikut, dan beliau pure tidak ada PR dari bos besarnya untuk mencari sesuatu di pameran, beliau pun meminta saya untuk menemaninya…belanja titipan oleh-oleh! Yihaa..tentu saja dengan senang hati saya menyetujui! Beda halnya sewaktu saya mengunjungi IBC di Amsterdam. Ketiga bapak-bapak yang saya temani masing-masing punya PR dari bosnya untuk mencari-cari info dari pameran. Jadi deh, tiap hari saya ke pameran dan baru bisa jalan di hari terakhir (itu pun cuma punya waktu beberapa jam karena sorenya mengejar pesawat ke Paris). Tapi lumayan lah, bisa mencicipi Lucius, salah satu seafood restaurants yang lagi ngehits, bareng dengan customers.

Nah, kalau meeting lain lagi. Biasanya waktunya mepet. Meetingnya hari selasa, berarti rabu udah harus balik pulang. Nah, kalau yang kaya gini sih sering saya siasatin sendiri. Contoh kasus, meeting hari senin pagi di Hong Kong, berarti harus sampai dari hari minggunya. Berhubung perjalanan ke Hong Kong sekitar 4-5 jam, dan jadwal pesawat yang ada membuat kita sampai di Hong Kong minggu sore kalau kita berangkat paginya, kenapa tidak memilih pesawat sabtu malam sehingga bisa sampai minggu pagi? Toh, hotel juga sama-sama checkin di hari minggu. Nah, berhubung harus pulang sehari setelah meeting, pilih saja pesawat paling terakhir atau pesawat sore. Karena toh, sama-sama tidak masuk ke kantor karena pesawat paling pagi pun tidak akan ngejar untuk masuk kantor lagi. Nah, dengan kaya gitu, dapet deh waktu 1.5 hari untuk jalan-jalan sendiri! hehehe…tapi ya itu tadi, liat-liat juga jadwal pesawat lah yaa…kalau cuma bistrip ke singapur sih, agak gak enak juga ngambil pesawat sore..hehehe!

rombongan terbanyak dari seluruh business trip. 11 orang bo!
rombongan terbanyak dari seluruh business trip. 11 orang bo!

Keliatannya memang enak banget sih ya, jalan-jalan dibayarin perusahaan. Tapi tetep sih, akan beda rasanya dengan jalan-jalan sendiri. Kita gak akan sebebas kalau jalan-jalan sendiri. Walaupun ada jam bebas, harus menyesuaikan dengan keinginan si customersnya. Belum tentu kita bisa seenaknya jalan-jalan atau belanja sendiri, karena tujuan kita ke sana adalah mengantar customer. Belum tentu juga kita bisa mampir ke tempat-tempat yang authentic karena keterbatasan waktu, karena tetap akan ada disisipin jadwal kerja walaupun temanya jalan-jalan. Belum tentu juga uang pribadi akan utuh saat disana, karena mungkin saja kita ngebayarin makan untuk akhirnya baru di re-imburse di indonesia. Belum tentu juga kita bisa dapat foto-foto bagus, karena mungkin kita udah sibuk sendiri fotoin customers dan pas giliran kita, rombongan udah harus pergi. Yah, semua balik lagi bagaimana hubungan kita ke customernya. Tinggal pintar-pintar aja menjalin hubungan baik, jadi kita bisa kompakan sama customers biar apa yang diinginkan sama-sama terkabul.

Well, semuanya memang balik lagi gimana kita menyiasati agar bisa jalan-jalan pas bistrip. Kalau meeting, bisa dengan mengatur jadwal pesawat. Kalau sama rombongan, bisa juga kita kasi waktu bebas di hari terakhir, karena memang tiap orang pasti punya kebutuhan masing-masing. Kalau memang masih susah juga cari waktu jalan-jalan sendiri….hahaha! namanya juga business trip! Business always comes first then the trip itself!Nikmati saja.. 😉