Pusat Peraga Iptek – Kota Baru Parahyangan

Lama tidak berbagi-bagi pengalaman tentang jalan-jalan. Gara-gara TA, baik jalan-jalan ataupun aktifitas Blogging pun jadi terhambat. Nah, ntah mengapa, selagi duduk sendirian di Ruang Asisten LPSKE mood untuk menulis pun muncul. Dan gwe teringat akan perjalanan iseng-iseng gwe dengan teman kosan gwe si Ayu ke Puspa IPTEK yang terletak di Kota Baru Parahyangan.

Pusat Peraga IPTEK ini terletak di kota Padalarang, tepatnya di dalam kompleks perumahan Kota Baru Parahyangan. Menuju ke sana pun sangat mudah. Keluar di tol Padalarang, lalu saat bertemu pertigaan besar, belok kanan ke arah Cianjur. Setelah berjalan beberapa meter, Kota Baru Parahyangan ada di sebalah kiri (atau sebelah kanan jika anda dari Cianjur). Dan Puspa IPTEK adalah bangunan paling pertama dan merupakan yang bentuknya paling unik di dalam kompleks tersebut. Awalnya gwe n Ayu gak tau yang mana kah Puspa Iptek itu, setelah berkeliling-keliling, ternyata justru bangunan yang terletak di depan lah puspa iptek tersebut. Itu pun kami tau karena banyak mobil-mobil yang diparkir di sekitarnya. Oh iya, bangunan ini terletak di jalan melingkar seperti putaran (makanya kami anggap itu hanya hiasan/trademark kota baru parahyangan 😛 ) dan tidak tersedia tempat parkir di dekatnya.  Karena itu mobil-mobil yang berkunjung parkir di pinggir jalan. Untung waktu itu sepi, jadi dapat tempat parkir yang dekat dengan pintu masuknya.

Ayu di Pelataran Puspa IPTEK - Kota Baru Parahyangan

Yang sebenarnya menarik gwe untuk mendatangi puspa iptek ini adalah adanya jam matahari raksasa. Coba deh lihat foto si Ayu di atas.  Ayu berdiri di pelataran berwarna biru, dimana disitu ada tertera angka-angka yang menunjukkan waktu. Sementara bentuk bangunan yang ada bagian menjoroknya itu lah yang berperan sebagai jarum jam.  Sayang waktu itu sedang mendung, jadi kami tidak bisa melihat bayangan jarum jam yang mengenai pelataran jam matahari raksasa tersebut.

Angka yang menunjukkan waktu pada pelataran jam matahari

Karena kami datang pada hari biasa, bukan hari libur, puspa iptek terlihat sangat sepi pengunjung. Tepatnya, hanya ada gwe dan Ayu serta satu keluarga yang justru pulang tepat setelah gwe dan Ayu datang.  Jadilah kami puas bermain-main (sambil belajar?) dengan alat peraga yang ada di sana 😀

Pintu masuk Puspa Iptek Kota Baru Parahyangan

Dari baskom ini, dengan menggosokkan tangan kita dipinggirnya, kita bisa membuat air mancur
Hyaaaa....badan Ayu hilaang!
Salah satu alat peraga yang paling favourite! Mau mencoba naik sepeda di atas tali atau sepeda gantung? 😀
Gak cuman Limbad yang bisa duduk di atas paku 😀
Ayu kesenengan bisa main...ehm, apa ya nama alat ini. aeh, lupa! 😀
Jarak antar parabola ini berjauhan, tapi cukup berbisik teman kita bisa mendengar suara kita. Seperti telepon benang! 😉
Ini lah dalamnya puspa iptek dilihat dari pintu masuk

Kecil ya? mungkin jauh lebih kecil dibanding dengan puspa iptek yang terletak di Taman Mini. Harga tiket masuknya termasuk murah, sekitar 10.000 rupiah dan terdapat 25 alat peraga yang tersedia dan bebas diutak-atik.  Memang paling cocok kalau kesini membawa anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Dasar, karena mereka langsung bisa memraktekan apa yang diajarkan di sekolah.  Lah, kalau seumuran saya dan Ayu sih yang ada sudah lupa sama pelajaran SD dan seneng-seneng aja main-mainin alat peraganya 😀

Last few days : Garten dem Welt / Taman Dunia

Sepulangnya dari Brussels, gwe gak terlalu banyak jalan-jalan. Hanya dihabiskan dengan membeli oleh-oleh dan mendatangi salah satu target jalan-jalan gwe, Garten dem Welt.

Garten dem Welt atau Taman Dunia adalah salah satu taman di kota Berlin yang menyuguhkan kita berbagai macam jenis taman di dunia. Garten dem Welt ini terletak di daerah Marzahn yang bisa dibilang sangat jauuuh dari Wisma. Tapi berkat berdiskusi dengan Mas Jaya di dapur di hadapan hamparan peta S+U bahn, gwe cukup menggunakan 2x S-Bahn dan 1x bus. Naik S1 sampai Friedrichstrasse, melanjutkan dengan S7 langsung ke Marzahn. Lalu tinggal naik Bus yang mengarah ke Garten dem Welt.Lumayan juga, menghabiskan hampir 1 jam perjalanan.

Masuk ke Garten dem Welt hanya perlu membayar 3 euro. Begitu masuk yang kita lihat hanyalah hamparan padang rumput yang sangat luas, pohon-pohon yang berjajar rapi, jalan-jalan kecil yang menghubungkan taman satu dengan taman lainnya, dan peta yang menunjukkan letak-letak taman yang ada.

Taman terdekat dengan pintu masuk adalah Orientalischer Garten. Kupikir, karena mengandung unsur oriental, akan terlihat seperti asia timur. Tapi, ko lebih ke arah timur tengah gitu ya??

This is what it looks like! 😉

Taman-taman disini dilengkapi dengan bangunan yang melambangkan negara atau daerah asal taman tersebut.

Nah, kaya di persia gitu yak?

Keluar dari Orientalischer Garten, gwe pun memutuskan untuk menyusuri jalur terjauh untuk menuju taman berikutnya. Niatnya sih untuk melihat-lihat tamannya sendiri bagaimana. Tapi ternyata yang ada hanyalah bentangan rumput dan bunga-bungaan yang kurang terurus, kursi-kursi, dan beberapa cafe.

Gerten dem Welt itself. Pemandangan seperti ini lah yang mengantarkan kita dari satu jenis taman ke jenis taman lainnya

Setelah menyusuri taman sambil meraba-raba letak jenis taman lainnya (sengaja gak mau liat peta meski udah moto petanya 😀 ), gwe pun berhasil menemukan Chinesischer Garten atau Taman Cina. Taman ini termasuk besar dan dilengkapi dengan danau buatan! keren!

Entah kenapa ko gwe matching disitu. hahahah!

Dari Cina, gwe pun jalan kaki ke kawasan Jepang dan Korea. (haha, seandainya bisa beneran jalan kaki ke 3 negara itu! 😛 )

Japanischer Garten.

Dipinggir taman ini diberikan tempat duduk dan bunyi gemericik air dari sungai buatan…menenangkan yah!Sayang taman jepang termasuk kecil dan tidak ada bangunan yang benar-benar khas Jepang seperti di Cina sebelumnya. Nah, kalau ini taman Korea atau Koreanischer Garten

Justru gak ada bunganya! ahahaha...benar-benar cuma bangunan istana Korea saja! 😐

Nah, alasan utama yang membuat gwe ngotot untuk pergi ke Garten dem Welt adalaaahh..Balinischer Garten! Yaap, taman Bali! Karena memiliki tanaman-tanaman yang hanya bisa tumbuh di daerah tropis, taman ini pun terletak dalam ruangan khusus yang diatur kelembaban dan suhunya sehingga seperti daerah tropis!Apalagi setelah gwe tau kalau arsitek yang merancang bangunan di taman ini adalah istrinya mas Jaya! waaahh..!

Lengkap dengan Pura, Anggrek, dan pohon Pisang hias. Mendadak berasa pulang kampung 😀

Tapi perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak cukup bikin gwe sesak nafas juga. Rasanya mendadak lembab dan gak enak untuk berlama-lama didalam. Lensa kamera pun segera mengembun. Sayang, karena kelembaban yang sangat berbeda, tidak ada satu pun bule-bule yang mau duduk-duduk di dalam untuk menikmati taman ini 😦

Keluar dari Balinischer Garten, gwe baru nyadar kalau ada satu jenis taman yang belum gwe kunjungi. Tapi karena letaknya benar-benar jauuh dan ntah kenapa gwe sudah sangat-sangat ngantuk, jadilah gwe memutuskan untuk pulang.

Ada yang lucu juga dari perjalanan gwe ini. Dasar yang namanya taman, yang gwe temui selama gwe jalan-jalan sendiri adalah pasangan-pasangan…..tapi sudah tua! ehehehe..banyak sekali manula yang menghabiskan waktu disini. Sekedar duduk-duduk, jalan-jalan, ditemani anak dan cucunya, dan sebagainya. Kupikir, yah, mungkin karena taman disini memang luas, disediakan tempat bersantai-santai, dan banyak jenis taman sehingga gak bosan. Tapi, setelah gwe perhatikan lagi, ternyata yang namanya daerah Marzahn tempat Garten dem Welt berada banyak berisi dengan manula! sejak di bis, stasiun S+bahn, hingga satu-satunya pertokoan yang ada disitu, isinya orang tua semua…:D

Nah, begitulah….saking capek dan ngantuknya dan perjalanan pulang yang sangat panjang, begitu sampai di wisma pun gwe langsung terkapar! 😀

…..to be continued.

Brussels, Day 3 : Car Free Day and Toilet’s Hunting

The last day we’re in Brussels.

Karena Dior memutuskan untuk mulai menyicil belajar ujian Biologi dan Dona sebagai kakak yang baik ingin menemani adeknya, jadilah gwe memutuskan untuk ikut Mas Kamal berjalan-jalan menyusuri Brussels di hari terakhir ini.

Waktu itu hari minggu, gwe dengar akan ada Car Free Day waktu itu. Teorinya, tidak ada bis yang akan mengantar kami masuk ke kota Brussels. Tapi kami dengan PDnya, berpendapat paling tidak ada satu bis yang mengantarkan ke pinggiran kota Brussels. Jadilah gwe dan mas Kamal nunggu bis yang katanya akan mengantar kami ke stasiun dalam kota. Ditunggu-tunggu, ko tidak muncul2. Ada satu bis yang waktu itu berhenti tapi bukan bis yang kami maksud. Tapi gwe mulai merasa curiga, karena selain semua calon penumpang yang ada pada Halte naik semua, para penumpang lain dan supir tersebut seakan bingung karena ada dua orang yang tidak mau masuk bis. Hmmm……..dan kecurigaanku benar! Itu lah bis satu-satunya yang akan mengantarkan kami ke stasiun di LUAR kota, dan selanjutnya kami bisa naik Metro untuk masuk kota. Karena kebodohan kami itu, kami harus menunggu 1 jam lagi untuk dijemput bis yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Ok, dengan berbekal ketidaktahuan apa-apa kami berdua, saat itu juga gwe putuskan, perjalanan hari itu akan sangat lucu! 😀 Tapi, selalu ada keberuntungan untuk orang dengan pengetahuan minim, kami mendapat tiket “all day” seharga 4 euro untuk berdua, jadi 1 orang hanya 2 euro untuk keliling-keliling kota brussels seharian! yihaa…!

Tujuan utama sebenarnya adalah mencari Islamic Centre karena mas Kamal ingin membeli Al-Quran dalam bahasa sana, entah lah, harusnya sih dalam bahasa perancis mungkin, sebagai pelengkap koleksinya. Untuk meraba-raba pergi ke daerah situ (petunjuk yang diberitahukan pusat informasi agak-agak mengawang, dia hanya membuat tanda lingkaran di suatu area. alah!), kami pun memutuskan untuk menikmati saja kota brussels yang sedang Car Free Day dengan santai.

Ternyata, kalau di Jakarta atau Bandung Car Free Day hanya dilakukan di salah satu jalan, di Brussels seluruh kota dijadikan area Car Free Day! Dimana-mana banyak orang yang berjalan-jalan, entah dengan sepeda, skateboard, scooter, dan macam-macam.

Sepeda berseliweran dimana-mana!

Dan beberapa jalan pun sangaaat lenggang

Gak akan takut guling-gulingan di tengah jalan, kaya di Bontang! :))

Bahkan pelataran di depan Istana pun dipasang semacam karpet rumput, yang dipakai masyarakat untuk sekedar duduk-duduk, atau piknik!

Bahkan dikasi tumpkan jerami untuk duduk-duduk, menarik!

Setelah jalan-jalan, kami pun kembali lagi ke Centrum dan daerah Grand Place. Niatnya sekedar melepas lelah, ngafe, dan membeli titipan Dona sambil mengisi waktu hingga sore sebelum kami kembali ke Wisma. Lagi enak-enaknya duduk sambil memperhatikan suasana sekitar yang sangat-sangat ramai dan padat, tiba-tiba..kami mendengar alunan lagu Kopi Dangdut! dicari-cari sumbernya, ternyata ada seseorang yang memainkan lagu tersebut untuk ngamen…

alunaan kopi...dangdut!

Nah, bagaimanakah misi utama kami, mencari Islamic Centre??? Kamii….gagal! hahaha..yang ada, karena cuaca dingin, misi pun secara tidak sadar berubah menjadi, Toilet’s hunting! Kasian juga melihat mas Kamal yang tiap setengah jam sekali kebelet 😛 Kami sampai menebalkan muka untuk numpang buang air kecil di toilet rumah sakit. Ehm, tepatnya gwe yang menebalkan muka. Masang muka memelas ke petugas rumah sakit, sok2 nanyak dimana kamar mandi terdekat di DAERAH sana (biar terlihat sopan, bukannya nanyak kamar mandi di RS itu 😛 ), dan dengan ibanya si petugas rumah sakit mempersilakan gwe masuk ke kamar mandi rumah sakit. Tapi yang ngacir duluan malah mas kamal, eerrrgh! 😆
Bahkan, kami sampai mampir ke toilet yang sama di Centraal Station 3x! habis 1,2 euro sendiri dalam menuntaskan misi hunting ini 😛

Special Thanks to....Central Station's Toilet! 😀

Menjelang pukul 5 sore, kami pun memutuskan untuk pulang ke wisma karena harus ke airport jam setengah7 malam. Daaan..kebodohan di awal pun terjadi lagi, kami membiarkan bis yang bisa mengangkut kita pulang lewat begitu saja karena hanya tau satu bis (yg juga gk beroprasi hari itu). Dan…setengah jam lebih pun terbuang percuma sementara kami terdampar di stasiun pinggiran kota. hayah!!

….The End of Brussels’ stories.

Brussels, Day 2 : Hop on, Hop off

Hari kedua di Brussels. Kali ini Dior dan Mas Kamal sudah bergabung untuk menikmati kota Brussels.

Atas saran gw dan dona, kami pun kembali sightseeing. Tiket gwe dan dona masih berlaku, sementara dior dan mas kamal harus membeli dengan harga normal, 18 euro. Kali ini, kami pun memutuskan untuk turun di beberapa tempat, foto-foto, lalu naik lagi ke bus dari perusahaan sightseeing yang sama. Sesuai dengan judul programnya, sightseeing Hop on – hop Off!

Pertama-tama kami turun (hop off) di Brussels monument to Belgian infantry. Disini kami bisa melihat pemandangan kota Brussels dari atas karena letaknya yang memang agak tinggi.

First Hop Off!

Hanya foto-foto sebentar, kami pun naik lagi (hop on) untuk menuju tempat berikutnya, Cinquantenaire Park yang terletak di dekat Jubelpark.

Nah lo, ko mirip Brandenburger Tor di Berlin?!

Karena waktu agak mendesak, kami pun memutuskan untuk turun  lagi baru di Atomium. Atomium adalah salah satu monument yang berbentuk seperti Atom dan merupakan simbol dari World’s Fair dan juga merupakan simbol modern architecture Brussels. Awalnya, atomium ini dibangun untuk membentuk Menara Eiffel secara terbalik.

with Dior (Dona's brother) and Dona...and Atomium!

Di dekat Atomium, ada Brupark, sejenis amusement park.  Yah, permainannya sih kebanyakan untuk anak-anak dan terdiri dari restoran-restoran keluarga. Tapi yang membuat Brupark cukup ramai dikunjungin orang adalah Mini Europe! Gwe gak sempat masuk ke Mini Europe karena keterbatasan waktu….tapi intinya, di mini Europe ini kita bisa melihat icon-icon pariwisata Eropa dalam ukuran kecil.  Cukup mahal juga tiket masuknya, sekitar 13 euro. Tapi sebenarnya dengan memiliki tiket Hop On Hop Off  Sightseeing kita bisa mendapat potongan sebesar 4 euro. Yah, lumayan sih..sayang masuk ke Brupark memang sudah sore, jadi takut gak ngejar karena masih mau ke Grote Markt/Grand Place.

Karena Dior dan Mas Kamal belum sempat ngunjungin Grand Place, jadi lah kami mampir ke sana sebelum pulang. Sebenarnya, tujuan kesini adalah belanja! Dior dan Mas Kamal tertarik dengan toko-toko yang kemarin gwe dan Dona kunjungi. Jadilah gwe dan Dona meraba-raba toko yang kemarin kami masuki, padahal jelas-jelas kemarin kami sengaja menyasarkan diri. Dengan beberapa patokan dan mengingat-ingat rentetan kejadian, dapat juga toko yang kami cari. Weleeh…

Setelah puas belanja, kami pun ingin mencoba salah satu makanan khas kota brussels, Kerang Rebus! Gwe juga bingung, kenapa kerang hijau yang direbus sekenanya dengan bumbu dasar sup ini digandrungi banyak orang. Setiap restoran yang kami lewati di Grand Place semuanya menyediakan masakan ini. Harganya pun termasuk murah, hanya dengan 8-10 euro, kita sudah dapat makan sepanci besar kerang hijau rebus, sepiring kentang goreng, dan segelas minuman (yang biasa ditawarkan adalah wine, tapi kita juga bisa meminta air putih sebagai gantinya). Karena banyak, dengan harga segitu kita bisa makan berdua! 😀

Mas Kamal siap menyantap sepanci besar kerang hijau! 😀

Karena waktu itu hari Sabtu, Grand Place sangat ramai! Berbeda sekali dengan kemarin gwe dan Dona kunjungi. Stand-stand yang menjual berbagai macam barang didirikan. Dan di tengah-tengah dipasang panggung yang ntah buat apa, yg jelas bukan dangdutan! kita lihat saja besok 😀

….to be continued!

Brussels, Day 1 : Sleeping while Sightseeing

Here we go, Brussels!

Setelah pusing dengan urusan harga tiket ke kota-kota eropa lainnya, secara random gwe dan dona pun memutuskan untuk ke Brussels! Benar-benar pilihan yang sama sekali di luar rencana! 😛

Rencananya, pagi-pagi gwe dan dona pergi duluan. Lalu malamnya Dior dan Mas Kamal akan menyusul. Berangkat dari rumah jam 5, karena menurut jadwal pesawat berangkat sekitar pukul 7. Eerrgh, bahkan di luar masih sangat gelap saat gwe dan dona diantar mas kamal ke airport.

Sesampainya di Brussels, kami pun langsung diantar ke wisma kedutaan di Brussels. Rencananya kami memang akan diberikan apartemen yang connected dengan wisma tersebut. Daaan…itu yang namanya wisma kedutaan, besaaar bangeet!! Rumahnya aja kayaknya cuma ditempati setengahnya saking besarnya. Belum lagi ternyata tanah lapangnya masih sangat luas. Kami dijamu sarapan oleh ibu dubes RI-belgia di bagian rumah yang seperti rumah kaca, sehingga sinar matahari langsung menembus dari langit-langitnya. Dan ternyata, yang namanya apartemennya benar-benar seperti apartemen. Lengkap dengan dapur kecil, meja makan, ruang tamu, 2 kamar tidur, dan kamar mandi. Lucunya, di kamar mandinya tidak tersedia WC. Nah loo?? Ternyata, WCnya terpisah di ruangan yang terpisah dimana memang dikhususkan untuk WC. Hahaha, unik!

Setelah sarapan dan ngobrol-ngobrol sebentar, gwe dan dona pun diantarkan jalan-jalan. Kami didrop di daerah yang bernama Centrum yang rupanya pusat pariwisata brussesls.

Dari Centrum, kami bisa ke Grote Markt / Grand Place, sebuah pelataran luas yang dikelilingi bangunan-bangunan tipe gothic

Suasana di Grote Markt / Grand Place

Dari Grote Markt (Grand place, dalam bahasa Perancis. Tapi karena gwe lebih bisa bahasa Jerman yang agak mirip Bahasa Belanda, gwe pun lebih suka menggunakan istilah Belandanya), kami bisa langsung ke Patung elus (gak tau namanya) dimana katanya kalau mengelus patung tersebut, kita akan kembali lagi ke Brussels

Kita lihat apakah Dona akan kembali ke sini setelah mengelus si patung 😀

Menyusuri jalan secara lurus saja dari patung elus, gwe dan dona pun sampai ke icon kota Brussels, Mannekin Pis. Patung anak kecil pipis yang entah bagaimana bisa terkenal dan dijadikan tujuan utama pariwisata kota Brussels.

Padahal kecil banget, gak pentiiing..

Yang menarik dari daerah situ adalah jalan-jalan kecil yang meliuk-liuk mengantarkan kita entah kemana. Meskipun gwe dan dona sudah membeli peta, kami pun dengan sengaja jalan-jalan semau hati tanpa melihat peta terlebih dahulu. Setelah bingung mau kemana lagi, baru lah kami melihat peta dan melihat dimana letak kami lalu menentukan kemana selanjutnya.

Begini nih bentuk jalan di sekitar Grote Markt

Sampai akhirnya membawa kami kembali ke centrum. Karena awalnya gwe ada rencana mau ke Amsterdam, gwe dan dona pun mengecek jadwal keberangkatan kereta ke Central Station yang memang ada di centrum. Secara tidak sengaja, kami pun melihat bus yang bertuliskan Sightseeing. Secara random (lagi) kami pun memutuskan untuk mengikuti tour sightseeing Brussels. Untungnya, kami ditawari tiket seharga 15 euro, dimana harga tiket sebenarnya adalah 18 euro. Selain itu, tiket tersebut juga berlaku selama 24 jam. Jadi kami pikir, daripada hari ini gak kemana-mana krn tidak tahu apa saja yang harus kami lihat, mending kami ikut tour itu. Toh tiket yang kami beli akan masih berlaku sampai besok saat Mas Kamal dan Dior sudah datang.

Karena kami berpikir kalau besok dior dan mas kamal juga akan ikut tur, gwe dan dona pun memutuskan untuk benar-benar hanya sightseeing tanpa turun sama sekali di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Jadi ya….kami benar-benar hanya duduk di atas bis, menikmati pemandangan, dan menyusuri kota Brussels yang ternyata sangat kecil. Kami duduk di tingkat dua dimana angin sepoy-sepoy berhembus……sehingga akhirnya kami tertidur! Sightseeing pun hanya bertahan selama setengah perjalanan karena sisa perjalanan kami pakai buat tidur. Tampaknya hanya kami berdua penumpang bus sightseeing yang tertidur selama tur. Ahahaha!

Menikmati Sightseeing…..atau menahan kantuk? 😛

….to be continued.