1st Day Phnom Penh : Take a nap in traveling?!

Baru pertama kali dalam sejarah per-traveling-an saya, saya benar-benar tepar dan menyerahkan diri ke kasur untuk tidur siang.

Saya dan Tati mendarat di Phnom Penh sekitar pukul setengah 10 waktu setempat. Bagian kedatangan airport Phnom Pehn sama sekali gak ada basa-basinya.  Dari turun pesawat, imigrasi, pengambilan bagasi, terus udah gitu aja keluar gedung.  Di luar kita langsung disambut segerombolan supir Tuktuk yang menawarkan pengantaran ke tempat tujuan.  Rata-rata semua supir tuktuk disitu menawarkan 7 USD untuk pengantaran ke tujuan mana pun.  FYI, tuktuk itu semacam becak yang ditarik motor dan bisa muat untuk 4 orang.  Untuk  USD ber-4 sih murah, tapi sayangnya waktu itu kami cuma ber-2.  Sudah mencoba berbagai macam cara untuk menawar, ternyata memang tarif tuktuk airport segitu.  Jadi lah kami minta diantarkan ke hotel kami di Phnom Penh : Silver River.

Kota Phnom Penh (selanjutnya saya singkat PNH saja ya) sekilas pandang meninggalkan kesan : gersang, berderetan pertokoan, dan tidak ada gedung pencakar langit sama sekali.  Layaknya kota yang baru tumbuh. Rasanya seperti ke daerah Jawa Tengah atau Timur di Indonesia.  Sebelum berangkat tadi, supir Tuktuk kami di PNH, Nora (dia lelaki loh! Namanya manis yahh), menawarkan untuk mengantarkan berkeliling-keling PNH dengan bayaran 20 USD berdua seharian dengan tujuan : Tuol Sleng Museum, Royal Palace, National Museum, dan tempat makan siang, dan hotel. Jadilah kami memutuskan untuk mampir ke Tuol Sleng Genocide museum terlebih dahulu sebelum mampir ke hotel.

Pelataran Tuol Sleng. Masih terdapat alat penyikasaan berupa tiang gantung di halaman bekas sekolah ini

Tuol Sleng Genocide Museum dulunya adalah sekolah yang digunakan sebagai penjara S-21 tempat penyiksaan oleh Pol Pot.  Disini kita bisa melihat kamar-kamar penyiksaan yang dulu digunakan untuk penyiksaan, ruangan yang diberi sekat-sekat sebagai bilik penjara, bahkan foto-foto korban penyiksaan lengkap dengan alat-alat penyiksaannya dan tumpukan tengkorak dari korban-korban pemberontakan dulu.

Bekas ruang penyiksaan yang diubah menjadi galeri untuk memperlihatkan kondisi zaman penyiksaan polpot

Jujur, selama berkeliling kompleks sekolah ini, dada saya sesak.  Bukan sedih atau bagaimana, tapi lebih ke perasaan udara disana pengap dan gak nyaman.  Apalagi tiap memasuki ruangan-ruangan yang dibiarkan seperti waktu pertama kali penjara tersebut direbut kembali oleh pemerintah.  Bahkan ada ruangan yang masih disimpan tempat tidur dimana di atasnya ditemukan mayat korban penyiksaan. Uuuhh…udaranya benar-benar bikin jengah dan sesak!

Ruang kelas yang zaman dulu digunakan sebagai penjara. Masih terdapat tempat tidur tempat ditemukannya jenazah korban penyiksaan seperti yang terlihat pada foto di dinding

Setelah dari Tuol Sleng Genocide Museum, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk bebersih. Mengingat bisa dibilang malamnya menggembel, belum mandi sejak kemarin paginya, ditambah udara PNH yang sangat panas, kami pun kembali ke hotel untuk sekedar mandi dan bebersih. Dan ternyata kami tidak salah pilih hotel! Hotel yang kami tempati bernama Silver River dan terletak di  #37, Street# 172, Sangkat Chey Chumneas, Khan Daun Penh(Phsar Kandal).  Cukup dekat dengan pusat kegiatan seperti royal palace, nasional museum, dan dikeliling oleh banyak kafe-kafe.  Sebenarnya harga yang perlu kami bayar termasuk mahal untuk perjalanan berbujet minim, yaitu $35/night. Tapi begitu kami memasuki kamarnya, wah, bersih dan sangat nyaman sekali.  Sesuatu yang nantinya benar-benar tidak kami sesali.  Kalau mau melihat-lihat bagaimana kamarnya, silakan mampir ke websitenya di http://www.silverriverhotel.com 🙂

Setelah selesai bersih-bersih, kami pun mengacuhkan godaan kasur yang terlihat nyaman dan segera melanjutkan perjalanan.  Kami memutuskan untuk makan siang sambil menunggu nasional museum dan royal palace buka.  Kami meminta Nora untuk mengantarkan kami ke restauran khas khmer yang terkenal di kalangan turis dengan harga yang sangat terjangkau.  Nora pun segera memacu tuktuknya mengarah ke sungai Mekong.  Dia pun memarkir tuktuknya tepat di sebuah kafe kecil namun terlihat nyaman bernama Khemer Saravan.  Seluruh dinding Khmer Saravan ditempeli kertas-kertas testimonial turis dari berbagai macam negara.  Kami pun memutuskan untuk mencoba makan di sana dan saya pun memesan makanan khas khmer bernama Amok.  Amok ini seperti kari dengan rasa santan yang cukup kuat dan kita bisa memilih daging campurannya, apakah ikan, sapi, ayam atau babi.  Saya memilih chicken amok, dan dari tulisan testimonial di dinding, tampaknya saya tidak salah pilih. Beginilah suasana di Khmer Saravan :

Khmer Saravan, great place for eat!

dan beginilah bentuk dari Chicken Amok yang saya pesan.

Chicken Amok, the best Khmer Food! :9

Rasanya? sedaaapp!! gurih santannya tidak membuat eneg tapi justru membuat semakin ketagihan.  Saya pun menuangkannya ke atas nasi dan ntah bagaimana perpaduan gurih bumbu amok dengan manisnya nasi membuat saya melicinkan piring di hadapan saya waktu itu…ehehehe!

Selesai mengisi perut, kami pun melanjutkan ke nasional museum karena royal palace belum buka menurut jadwalnya. Ternyata nasional museum Kamboja tidak sebagus nasional museum di Indonesia.  Isinya sama persis dengan gedung gajah di nasional museum Indonesia, penuh dengan arca2. Selain itu? tidak ada sama sekali euy! Rasanya cukup sayang juga sudah merogoh kantong $3 untuk masuk  gedung yang hanya memajang arca-arca yang diambil dari reruntuhan Angkor Wat. Apalagi untuk mengambil foto dilarang dan hanya diperbolehkan memfoto taman ditengah museum, itu pun diharuskan membayar sekitar $1,5 lagi. Wuiiihh…ogaahh! tapi untungnya, saya pun berhasil secara diam-diam mengambil gambar di taman tengah nasional museum kamboja ini..fufufuufu 😀

Taman di tengah Museum Nasional Phnom Penh

Karena tidak ada apa-apa lagi yang bisa dilihat, kami pun memutuskan ke royal palace yang letaknya bersebelahan dengan nasional museum.  Cuaca yang panas membuat kami cukup manja untuk tidak berjalan kaki dan meminta Nora mengantarkan kami ke royal palace. Ada untungnya juga, karena ternyata royal palace masih baru buka 10 menit lagi dan Nora pun mengantarkan kami jalan-jalan di sekitar royal palace. Kami diajak melihat Casino yang terdapat di Nagaworld, satu-satunya bangunan megah yang saya lihat di Phnom Penh sejak turun dari pesawat.  Jalanan yang kami lewati pun termasuk yang terbesar dari yang sudah kami telusuri. Akhirnya saya baru merasakan berada di Ibu Kota suatu negara saat melewati jalan yang dilalui  Nora tersebut.  Setelah berkeliling-keliling baru lah kami turun di gerbang Royal Palace.

Untuk masuk ke royal palace, kami harus membayar $6.5/person.  Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Royal Palace pukul 1.30 di siang hari karena panasnya ampun-ampuuunaaann! Saya dan Tati pun jalan mepet-mepet ke pinggir agar terkena bayangan pohon, yang sebenarnya tindakan yang percuma. Di Royal palace ini sebenarnya banyak terdapat bangunan-bangunan megah berarsitektur khas kamboja, tapi yang benar-benar bisa kami kunjungi hanyalah bangunan utama Royal Palace itu sendiri dan Silver Pagoda.  Royal Palace sendiri merupakan kompleks kerajaan yang sampai sekarang masih sering dipakai untuk menyambut tamu negara ataupun rapat kenegaraan.  Tapi, rasanya, harga $6.5/person itu agak terlalu berlebihan.  Apalagi kita tidak diperbolehkan foto-foto di dalam tiap bangunan yang ada di sana.

Miniatur Angkor Wat di Royal Palace

Selesai dari Royal Palace, rasanya sudah tidak ada yang wajib dikunjungi lagi.  Saya dan Tati pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan berencana untuk isitirahat sebentar.  Ya, kami merencanakan untuk tidur siang dulu membalas dendam karena perjalanan yang melelahkan malam sebelumnya.  Rencananya, malam itu, setelah beristirahat, kami akan berjalan-jalan di sekitar hotel untuk mencicipi makanan di kafe-kafe di dekat situ. Setelah mandi (lagi) kami pun berbaring-baring untuk melepas lelah.  Tempat tidur yang empuk dan dinginnya AC semakin membuat kami nyaman…sangat nyaman hingga kami tidur selama 4 jam! Bangun-bangun sudah jam 9 malam dan rasanya agak malas harus keluar-keluar lagi.  Sehingga kami pun akhirnya hanya memesan makanan Room Service dan melanjutkan leha-leha di kamar.  Gak nyesel deh, bayar kamar agak mahal, toh ternyata kami pakai dengan sangat maksimal. Hahahah!

Cambodia, here we come!

Royal Palace, Phnom Penh

Kamboja? Mengapa kamboja? mungkin itu yang banyak dipertanyakan orang begitu saya memutuskan Kamboja sebagai tujuan berlibur mengisi libur panjang di bulan Maret kemarin.  Keinginan untuk pergi ke kamboja sebenarnya bermula saat saya membaca buku Life Traveler by Windy Ariestanty yang menjelaskan bagaimana perjalanan dia keliling Indochina.  Begitu selesai membaca bukunya, saya jadi mikir, lah, kenapa pusing-pusing mikirin tempat jauh-jauh dengan biaya yang seabrek, kalau asia tenggara sendiri aja belum pernah terjamah semuanya.  Jadilah pilihan jatuh ke Vietnam atau Kamboja. Alasan utama? biar lucu aja gituh, eksotis-eksotis gimanaaa gituh…(heeaa)

Sebenarnya waktu saya dan Tati (korban impulsif traveling kali ini) sedang sibuk-sibuknya mencari tiket, pesawat menuju Vietnam banyak yang sedang promo.  Tapi saya termasuk agak picky kalau udah masalah tujuan.  Dengan waktu liburan yang terbatas (waktu itu sebisa mungkin gak boros-boros sama cuti) dan duit yang juga agak terbatas, saya gak mau merasa liburan jadi terkesan dipaksakan dengan hasil yang kurang memuaskan.  Setelah search sana-sini, buka trip advisor & lonely planet, ngitung-ngitung bujet dan keterbatasan waktu untuk buat itinerary yang pas, maka diputuskan lah Kamboja! Nah, bagi yang nanyak, ada apa aja sih di kamboja?? Bukannya disana bahaya yak kondisinya? Mungkin, akan sedikit saya ingatkan, tau Angkor Wat? Kompleks candi yang dijadikan tempat syuting Tomb Raider? Itu ya terletak di Kamboja, tepatnya di kota Siem Reap looh…Kondisi di sana aman atau nggak, bakal saya ceritain di post-post berikutnya yaahh…:)

Saya dan Tati memanfaatkan long weekend saat libur Nyepi. Kami pun memutuskan berangkat pada tanggal 21 Maret, malam harinya.  Dimana kami cuti sehari pada tanggal 22 Maret.  Jadi total kami punya 4 hari full perjalanan.  Dan dikarenakan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta – Kamboja, pilihannya adalah transit lewat Singapur atau Malaysia. Dengan mempertimbangkan waktu, akhirnya beginilah itinerary yang dipilih :

    1. Jakarta – Kuala Lumpur : 20.35 WIB, 21 Maret 2012
    2. Kuala – Lumpur – Phnom Penh : 07.00 (waktu kuala lumpur = WITA), 22 Maret 2012
    3. Phnom Penh – Siem Reap (by bus) : 07.15 (waktu Phnom Penh = WIB), 23 Maret 2012
    4. Siem Reap – Kuala Lumpur : 08.35 (waktu siem reap = WIB), 25 Maret 2012
    5. Kuala Lumpur – Jakarta : 17.30 (waktu kuala lumpur), 25 Maret 2012

Jadi total ada 4 hari 3 malam, 1 hari 1 malam di Phnom Penh dan 3 hari 2 malam di Siem Reap 🙂

Yang cukup seru adalah waktu berangkatnya. Karena berangkatnya malam jadi  lah terpaksa menginap di airport Kuala Lumpur untuk menunggu pesawat ke Phnom Penh.  Dengan sok yakinnya saya berasumsi kalau kehidupan malam di Airport Kuala Lumpur kurang lebih akan sama dengan Changi di Singapur. 24 Jam non-stop. Bayangan saya, palingan bisa lah jalan dari LCCT ke KLIA untuk mengisi waktu sambil duduk-duduk di kafe.  Dengan PDnya, berangkat lah saya dan Tati dengan bis ke KLIA jam 11 malam.  Melewati sirkuit sepang dan jalan tol yang tidak ada apa-apa, kami pun mulai merasa agak ragu.  Jalanan benar-benar sepi.  Dan benar saja, begitu sampai di KLIA, yang kami lihat hanyalah orang-orang yang mengantri dan kondisi airport KLIA begitu lengang dan mulai gelap.  Saat kami tanya, apakah bis ini akan kembali ke LCCT, supir pun berkata kalau bis ini akan ke central dan baru ada bis ke LCCT besok pagi pukul 5.30. Jiah! Nekat, kami pun tetap turun ke KLIA, dan berharap ada cara untuk bisa ke LCCT malam itu juga.

KLIA di waktu malam benar-benar kosong.  Semua kafe tutup, hanya ada satu toko semacam convenience store yang buka.  Aneh, padahal masih banyak penerbangan yang akan tiba pada malam/dini hari.  Memang sih, tampaknya tidak ada penerbangan keluar.  Terlihat bingung, kami pun didatangi petugas airport.  Penjelasan sama pun kembali dilontarkan dia, kalau bis mengarah ke LCCT sudah tidak ada lagi jam segini (waktu itu sudah setengah 12 malam).  Akhirnya dia pun menyarankan untuk naik taksi airport dan mengantarkan kami kembali ke LCCT.  Setelah membeli roti dan susu sebagai bekal cemilan, kami pun terpaksa merogoh 60 MYR (180,000 IDR) untuk biaya taksi ke LCCT. Damn! =))

Simpang siur dihadapan penumpang yang "terdampar"

Lalu, dari jam 1 sampai jam 7 di LCCT ngapain coba?? Berhubung semuuuaa toko dan bahkan airport tutup, terpaksa kami bergabung dengan ratusan penumpang terdampar di selasar-selasar dan teras airport.  Benar-benar “ngegembel” dalam artian sepenuhnya.  Jadilah kami duduk di selasar, di depan kios Body Shop berdampingan dengan pasangan bule yang juga sama-sama udah gak jelas bentuknya, si istri tidur beralaskan selendang, di suami bermain ipod sambil jaga barang.  Agak-agak shock sebenarnya, masak kita akan terus berada dalam keadaan mengenaskan begitu hingga jam 5? Kalau melihat jadwal penerbangan, harusnya pintu airport kembali dibuka pada pukul 2, karena ada penerbangan pukul 3 lebih.  Untung ada wi-fi umum, jadilah saya bisa mengisi waktu dengan bbm-an sambil menunggu pintu dibuka. Kalau seandainya tidak ada wi-fi gratisan di airport LCCT, ntah itu bagaimana kami mengisi waktu.  Paling tidak, bisa mengirit biaya untuk saling bertukar kabar dengan keluarga & pacar di Indonesia

Sesuai dugaan, pintu airport dibuka sekitar jam setengah 2.  Kami pun segera masuk dan mencoba mencari tempat yang enak untuk duduk atau tidur sekenanya. Jadilah tema “ngegembel” berubah menjadi “ngedeprok” 😛

Tati yang sudah mendeprok setelah berjam-jam menggembel

Setelah menyempatkan diri makan di restoran cepat saji Malaysia bernama Marrybrown, lalu bolak-balik ke kamar kecil dengan agak panik karena tidak bisa BAB tapi takut kalau-kalau baru berasa di pesawat, ubah2 posisi duduk, punggung & bahu pegal karena bawa-bawa tas ransel dan tas kamera yang lumayan berat, akhirnya Air Asia AK-1472 yang membawa kami ke Phnom Penh pun terbang tepat waktu, mengantarkan kami yang sudah ntah bagaimana wujudnya namun semakin excited.

Cambodia, here we come!

Notes for the one who should spend a nite in LCCT :

Meskipun LCCT ataupun KLIA (dua airport utama di Kuala Lumpur) tidak sepenunya aktif 24 jam, tapi ternyata banyak juga traveler yang sengaja menggembel nunggu jadwal penerbangan di sana.  Padahal sebenarnya banyak restoran cepat saji yang tersedia, tapi memang sayang sekali, restoran-restoran itu juga gak sepenuhnya buka 24 Jam.  Berikut tips-tips yang mungkin bisa dipakai kalau harus bermalam di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur :

  1. Segera cari tempat yang enak buat selonjoran di selasar/teras airport. Gak perlu malu, toh semua orang begitu.  Cari tempat yang ada senderannya, enak buat naro troli, atau paling nggak bisa dipakai buat tidur-tiduran
  2. Cek penerbangan terpagi yang ada. Waktu kasus saya, penerbangan terpagi ada sekitar pukul 4 kurang.  Karena biasanya tempat check-in buka 2 jam sebelum keberangkatan, kita bisa memperkirakan pukul berapa pintu utama airport dibuka untuk umum.  Terus kalau udah dibuka gimana? ya pindah tidur-tiduran di dalam! lebih dingin dan kursi yang bisa dipakai duduk/tidur juga banyak..hehehe!
  3. Restoran cepat saji seperti Marrybrown atau McD tidak buka 24 jam.  Begitu juga dengan cafe seperti Starbuck dan Coffee Bean.  Jadi untuk berjaga-jaga, beli roti atau air mineral dari toko yang buka sampai tengah malam.
  4. LCCT sangat berbeda dengan Changi! Jangan membayangkan kita bisa tidur-tiduran dengan nyaman atau mudah mencari makan.  Yeah, namanya juga Low Cost Carrier Terminal, KLIA saja gak ada apa-apa, aplg LCCT. Jadi, bagi yang gak kuat sama angin malam, mending bawa senjata jaket/kain tipis deh.
  5. LCCT punya free wi-fi yang open untuk semua pengunjung.Nama wi-finya FREE_WIFI@KLIA. Bisa dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang atau sekedar mengirimkan kabar ke keluarga di rumah.  Tapi wi-fi ini agak ribet, karena begitu tersambung, kita harus mengaktifkan via browser dahulu. Jaringannya juga sering mati-hidup mengingat pastinya ada ratusan atau bahkan ribuan pengguna wi-fi ini.
  6. Gak bisa tidur-tiduran disembarang tempat atau takut badan malah jadi drop sebelum liburan dimulai? Di sekitar LCCT kalau nggak salah ada beberapa hotel transit, salah satunya Tube Hotel.  Kemarin saya nggak sempet ngecekin tarifnya.  Tapi bisa lah, cek-cek sama mbah Google 😛

Nah, kira-kira begitu lah gambarannya. Happy ngegembel di negeri jiran! 😀

Museum Nasional Indonesia

Sewaktu mencoba aplikasi “World”, salah satu aplikasi semacam traveling advisor di Android, iseng-iseng saya mencoba download penjelasan tentang Indonesia. Di penjelasan itu lengkap berbagai macam pilihan tujuan traveling di Indonesia, mulai dari Bali, Jogja, Krakatau, sampai Jakarta.  Berhubung saya sudah sekitar 7 bulan tinggal di Jakarta tapi sama sekali belum merasa meng-eksplor Jakarta, saya pun mencari-cari bagian mana dari Jakarta yang belum pernah saya kunjungi.  Dan mata saya pun melotot begitu membaca sala satu tujuan wisata, “Museum Nasional Indonesia”.  Bukannya apa, saya kaget…..Indonesia punya museum nasional?!?! (eah!)

Mengaku sebagai penggemar museum, saya pun memutuskan untuk mengunjungin museum ini. Dan ternyata, gak cuma saya yang baru tau tentang museum ini.  Tiap saya tanya teman, mereka pasti bingung dimana letaknya.  Belum lagi ada beberapa yang mengira museum nasional ini menjadi satu dengan Monas.  Yah, mau bagaimana lagi, museum tidak pernah terkenal di Indonesia, kan?

Museum Nasional Indonesia

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Museum Nasional pada hari Sabtu.  Dan ternyataaa…ramai sekali! Kalau tidak salah hitung, ada sekitar 2 rombongan sekola yang datang. Yang bikin seneng, banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka mengunjungi museum sebagai acara akhir minggu mereka. Cukup banyak mobil pribadi yang parkir di tempat parkir museum.  Ah, seandainya antusias mengunjungi museum di Indonesia semakin membesar, jadi museum-museum yang lain pun akan semakin banyak pengunjungnya, terawat, dan berkembang.

Museum Nasional Indonesia berlokas di Jalan Merdeka Barat no.12. Untuk mencapai sana sangat lah mudah dengan menggunakan busway. Cukup turun di halte Monas dan Museum Nasional ada di seberang Monas persis.  Atau kalau menggunakan kendaraan pribadi, tinggal menyusuri jalan Thamrin, terus saja di bundaran sapta pesona, Museum Nasional berada di sebelah kiri jalan dan tepat setelah kementrian pertahanan.

Arca Gajah yang merupakan lambang khas dari Museum Nasional Indonesia

Biaya parkir Museum Nasional 4000 dan langsung dibayar di awal.  Kita akan diberikan tempat parkir di basement atau di halaman belakang untuk bus yang bisa menampung sekitar 10 bus.  Dari tempat parkir ke museum tidak ada tangga tembus sehingga kita harus jalan kaki, naik melalui jalan mobil turun ke basement. Biaya masuk Museum terbagi menjadi perorangan (dewasa Rp 5000, anak-anak Rp 2000), rombongan untuk minimum 20 orang (dewasa Rp 3000, pelajar TK-SMA Rp 1000), dan wisatawan asing dengan biaray Rp 10.000. Sangat disayangkan tidak ada brochure atau pun flyer sebagai panduan yang diberikan di pintu masuk untuk pengunjung.  Padahal area museum termasuk besar.

Coba taruhan, dari mereka mana yang bakal terus mengingat apa yang mereka catat? 😛

Gedung museum terbagi menjadi dua bagian, Gedung Gajah (old wing) dan Gedung Arca (new wing).  Agak lucu juga sistem penamaanya, karena justru di Gedung Gajah lah banyak ditemukan arca-arca.  Di Gedung gajah, koleksi-koleksi museum dibagi dan disusun berdasarkan beberapa kategori :

  • Stone culture collection. Kabarnya, Museum Nasional indonesia memiliki koleksi arca peninggalan Hindu-Buddha terlengkap di Indonesia.  Berasal dari berbagai macam daerah seperti jawa, bali, sumatera dan kalimantan, memang terlihat sekali banyaknya koleksi arca-arca yang dimiliki. Dan saat awal masuk, saya pun disambut oleh archa Ganeca yang membuat saya melonjak girang hanya gara-gara teringat almamater 😛
  • Memasuki ruangan yang ada di belakang, kita bakal disuguhi koleksi-koleksi dari Ceramic collection, Ethnography collection, dan Prehistory Collection. Dari namanya aja udah kelihatan ya, kalau dibagian ini kita bakal disugui koleksi-koleksi keramik dari zaman beheula (ada koleksi piring antik yang bikin saya teringat sama koleksi mama saya 😀 ), lalu ada juga koleksi barang-barang keseharian yang dipakai di zaman dulu dari seluruh wilayah indonesia.  Di sini, barang koleksi diatur berdasarkan wilayah, mulai dari nias & batak, badui di jawa, bali, dan dayak di kalimantan.
  • Di lantai 2, terdapat 2 ruangan yang bernama Treasure Rooms.  Ruangan ini juga terbagi menjadi dua, secara archaelogical dan ethnology.  Di ruangan ini sebenarnya dilarang mengambil gambar.  Tapi dasar bandel, teman saya iseng mengambil gambar di sini…hahaha! Banyak peninggalan emas dan harta benda dari kerjaan terdahulu seperti Mataram. Sayangnya, dibagian Ethnology, ruangan agak bau pengap.  Dan saya yang kebetulan sedang flu langsung merasa sesak dan buru-buru keluar ruangan tanpa melihat-lihat lagi.
Taman tengah Gedung Gajah yang dipenuhi berbagai macam arca

Memasuki Gedung Arca, suasana agak berubah mengingat ini merupakan gedung baru.  Gedung pun dibuat bertingkat hingga lantai 4 untuk memerkan koleksinya.  Di lantai 1, kita dapat mempelajari mengenai Man & Environment.  Mulai dari article pembentukan pulau-pulau Indonesia hingga sejarah perkembangan manusia lengkap dengan beberapa replika ataupun rangka temuan arkeolog (disini saya mendengar “nama lama”, si Mr. Eugene Dubois, si penemu rangka-rangka homo sapiens. “Nostalgia” zaman SD yang unik ya 😛 ).  Sementara di lantai 2, adalah bagian Knowledge, Technology, & Economy.  Mulai dari batu-batu bertulis tentang perkembangan bahasa, hingga alat-alat perekenomian yg dipakai sejak zaman dahulu. Ada juga koleksi berbagai macam senjata, meriam dan pistol dari zaman Belanda.  Sedangkan di lantai 3 adalah bagian Social Organization  & Settlement Patterns.  Di lantai 4 adalah tempat penyimpanan koleksi Treasures & Ceramics.

Lantai 2 Gedung Arca yang memamerkan prasasti-prasasti batu tulis

Gedung Gajah dan Gedung Arca dihubungkan oleh jembatan yang menggunakan dinding berkaca.  Melalui jembatan ini kita juga bisa melihat pemetaan bahasa dan suku bangsa di Indonesia.  Wuiihh,,canggih juga ya ada orang yang rajin memetakan ribuan bahasa di Indonesia.  Jembatan ini juga kabarnya sering dipakai untuk pameran-pameran.

Museum ini, biarpun termasuk museum terbesar di Indonesia, bisa dibilang tidak terawat dengan layak.  Bagian pameran dibiarkan gelap dan berdebu.  Gak ada satupun ruangan yang dibuat nyaman untuk benar-benar memperhatikan barang koleksi.  Padahal, biasanya yang namanya Museum Nasional itu bisa dibilang museum utama dari satu negara.  Sayang banget, padahal museum ini punya hingga 140ribuan barang koleksi.  Yaa..kalau panutannya aja begini, gimana museum-museum lainnya ya?

Hidup di jakarta itu…from mall to mall?

Mall Pacific Place. Kantor saya terletak di lantai 11 gedung ini..

Apalagi yang tempat kerjanya satu gedung dengan pusat perbelanjaan atau mall seperti saya ini.

Karena kantor saya bertempat di gedung One Pacific Place dan itu berarti satu bangunan dengan mall Pacific Place, tiap pagi saya sudah masuk ke lantai lower ground dari mall tersebut, bahkan gak jarang harus jalan di antara toko-toko yang belum buka untuk ke atm yang memang letaknya di lantai 3 mall Pacific Place.  Makan siang turun ke mall, atau paling tidak ya kantin karyawan yang terletak di parkiran mall.  Setelah makan siang mau cuci mata ya di mall.  Makan malam? karena sambil nunggu 3 in 1 atau janjian, ya makannya di mall.

Pernah suatu hari, saya dijemput orang tua saya sepulang dari kantor.  Karena waktunya sudah waktu makan malam, kami pun memikirkan untuk makan dimana.  Tiba-tiba papa menyebutkan Sushi Tei.  Kami pun memikirkan Sushi Tei mana yang dekat dari posisi kami.  Plaza Senayan, arahnya macet.  Mall Kelapa Gading biar sekalian arah pulang, keburu kelaperan.  Sampai akhirnya mama ingat kalau Sushi Tei juga ada di Plaza Indonesia.  Karena arahnya pun searah dengan pulang, kami pun memutuskan untuk makan di sana.  Setelah makan, kami pun merasa hari masih cukup sore untuk pulang ke rumah. Kebetulan mama sedang ingin mencari baju untuk suatu acara.  Berhubung di Plaza Indonesia tokonya bener-bener gak duniawi dan terlalu surgawi, kami pun memutuskan untuk menyebrang ke Grand Indonesia.  Yak, bisa dibilang hari itu saya kerja di Pacific Place, makan malam di Plaza Indonesia, dan shopping di Grand Indonesia.  Gaya gak tuh? (lucunya, waktu pindah dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia, kami pun naik mobil 😀 )

Nah, kalau pun misalnya saya memang ingin ketemuan sama temen, pasti janjiannya di Mall.  Cafe memang banyak di Jakarta, berlimpah

Mall Kelapa Gading. Mall yg sudah saya klaim sebagai "rumah kedua" 😐

bahkan.  Tapi kadang janjian ketemuan kan gak cuma makan. Kalau ketemuan di Mall kita bisa sambil liat-liat yang berujung shopping, nonton bareng, atau sekedar kongkow-kongkow sok gaul.  Pernah suatu hari, saya dan sahabat saya, Ririn, ingin mencoba naik busway.  Kami yang berdomisili di daerah Kelapa gading memutuskan untuk berjalan ke arah-arah pusat atau selatan Jakarta.  Setelah mempertimbangkan rute dan kebutuhan, kami pun memutuskan untuk naik Busway ke..Grand Indonesia. Dan coba tebak, setelah dari grand Indonesia kami kemana? Pulang.  Tapi sebelumnya mampir dulu ke Mall Kelapa Gading 😆
Sekarang rute pacaran saya pun kalau gak ke Mall Kelapa Gading, Grand Indonesia, MOI, PIM, atau Gandaria City.  From mall to mall. (Jangan salah, hampir semua atraksi turis sudah saya kunjungi, bahkan sampai naik ke atas Monas. Nah mau kemana lagi dong?)

Selain itu, kerjaan saya pun juga menuntut saya untuk melakukan market visit.  Nah, berhubung market handphone, pilihannya tinggal mall-mall elektronik seperti Roxy dan Ambassador atau ke modern channel seperti Global Teleshop, Selular Shop dan Erafone yang terletak di dalam Mall. Nah lo, kerja aja saya harus mampir mall.

Dan anehnya, sebegitu banyak Mall di Jakarta, tiap weekend semuanya penuh tuh parkiran Mall.  Di semua Mall lagi.  Tampaknya memang sudah gak ada pilihan untuk warga Jakarta mau jalan-jalan kemana.  Pantas saja tiap weekend Bandung dan Puncak penuhnya amit-amit.

Ancol sudah saya jelajahi, Kota juga, Monas juga.  Muara angke memang belum, tapi pasar ikan seperti itu, tetep aja pasti rasanya enak di Bontang.  Oke, saya memang sudah menargeti kalau akan jalan-jalan ke Pulau Seribu.  Terus mana lagi?? Ya ke Mall. Hadeeehh X_X

Singapore National Museum and Kampong Glam

Mungkin ini memang turunan dari kakek saya, tapi saya memang mempunyai ketertarikan sendiri dengan Museum.  Jika berjalan-jalan ke daerah tertentu dan bingung bagaimana menghabiskan waktu, saya akan memilih untuk mencari museum yang ada pada kota tersebut.  Hal ini terjadi sewaktu saya ke Singapore baru-baru ini.

Terus terang, saya tidak suka belanja.  Begitu tau kalau 6 jam sisa waktu di Singapore sebelum kami harus ke airport akan dihabiskan oleh rombongan untuk belanja, saya mulai mencari-cari alternativ tempat yang bisa dikunjungi.  Untung saja layanan Blackberry tidak mati, karena itu saya bisa googling untuk mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan di Singapore selain belanja.  Yang benar saja, berkali-kali ke Singapore gak mungkin hanya dihabiskan di Orchard Road.  Perhatian saya pun tertuju pada National Museum of Singapore.

National Museum of Singapore

click here to know what’s inside