Have you ever heard about the slow traveling? It’s always been my biggest dream to do the slow traveling around the world. Gimana gak enak, kalau di saat jalan-jalan kita gak perlu pusing mikirin jadwal karena banyak maunya sementara waktu yang kita punya tidak banyak. Mungkin agak susah untuk pegawai kantoran macam saya merencanakan slow traveling karena keterbatasan waktu cuti. Apalagi untuk slow traveling di luar negeri! Akhirnya, saya dan Tati akan mencoba slow traveling ke Jogja! Gimana gak selooww, orang rencana di sananya saja bias sampai 5 hari! Ngapain aja coba di Jogja 5 hari hayoo…
Category: What World Teaches Us
Some traveling stories, lessons from culture and people, some life values from journey.
Because every trip has its lesson, every journey has its value.
Angkor Wat dan Keajaiban Tersembunyi lainnya
Terkadang, yang namanya kesialan pun bisa menjadi cerita lucu. Seperti yang saya dan Tati alami pada hari kedua kami di Siam Reap. Hari itu, kami berencana untuk menyaksikan sun rise di Angkor Wat. Hari sebelumnya, kami sudah mengutarakan niat kami ke Yoyo, supir tuktuk langganan kami selama di Seam Reap. Menurut saran dia, kami harus sudah siap di jemput sebelum pukul 5 pagi.
Sesuai dugaan, saya dan Tati agak kesiangan dan baru berangkat dari hotel sekitar 5.15. Yoyo pun langsung memacu tuktuknya membelah udara pagi Siam Reap yang dingin. Dingin yang membuat saya dan Tati khawatir, karena sebenarnya dingin itu berasal dari mendung yang menaungi langit. Sebenarnya saya agak yakin kalau hujan masih lama. Tapi yang bikin tambah panik adalah saat Yoyo berteriak dari kemudinya kepada kami, “It won’t be raining soon, but I’m afraid you can’t see the sun rise because it will be blocked by clouds!” …arrgh! Sudah bangun pagi (meskipun tidak mandi :P) tapi kalau tidak dapat sunrise rasanya percuma. Dasar sableng, kami pun hanya cengir-cengir pasrah sambil menyilangkan jari berharap mujur.
Sesampainya di Angkor Wat, ternyata sudah ramai sekali dengan turis-turis yang juga ingin menonton sunrise. Yoyo pun menyuruh kami untuk buru-buru masuk kompleks Angkor wat agar tidak terlewat sunrise dan bisa mencari spot yang bagus. Di dalam, sudah banyak sekali turis-turis yang menggelar tikar, membawa kursi lipat, memanjat reruntuhan dan segala macam tingkah lain demi mendapatkan spot yang bagus untuk menonton sunrise. Saya dan Tati pun duduk di salah satu reruntuhan yang dulunya mungkin pintu masuk Angkor Wat. Dari foto-foto, mondar-mandir, sampai duduk-duduk bengong sudah kami lakukan demi menanti sunrise. Lama-kelamaan, langit semakin terang tapi sama sekali tidak ada sosok matahari yang keliatan dari balik awan. Pasrah, kami pun hanya memotret samar-samar bayangan matahari yang sepertinya lebih memilih selimutan di balik awan. Sial, tau gitu kami juga masih lanjut selimutan kalii!
Continue reading “Angkor Wat dan Keajaiban Tersembunyi lainnya”
The Drama called Applying Visa
Harus ngurus visa yah?? duuh..pasti ribet banget!
Mengurus visa memang sudah jadi momok paling malesin dan mungkin nakutin bagi tiap orang yang mau berpergian ke luar negeri. Apalagi bagi yang sebelumnya sama sekali belum pernah mengurus visa. Entah mengapa, rasanya tiap kalau mau mengurus visa persiapannya udah kaya ngalah-ngalahin persiapan SPMB (halah, bahasanya. Jadi keliatan umurnya berapa). Mulai dari cari tau syarat apa aja yang harus dibawa, segala kerepotan nyiapain persyaratan, kekhawatiran ditanya macam-macam saat interview, bahkan sampai deg-degan nungguin passport kembali ke tangan beserta cap atau stiker visa.
Sampai saat ini saya sudah pernah mengurus visa aussie, US, schengen, KSA, UAE, dan korea selatan. Masing-masing proses punya drama tersendiri, kecuali KSA karena waktu itu diurus travel agen buat haji, atau aussie dan US karena waktu itu masih kecil dan ngintil orang tua. Well, yang bener-bener gwe inget dari pengurusan visa aussie dan US adalah, tiap hari gwe selalu diwanti-wanti sama keluarga, “kalau kamu ditanya, mau ngapain disana, jawab aja ‘I’m going to holiday’. Inget yaa!”. I think that was one of my first english sentence other than “hello, my name is Yoan”. Hahaha!
Drama yang paling tidak mungkin saya lupakan adalah UAE. Dua kali saya mengurus UAE. Yang pertama sudah pasti gagal dan yang kedua lolos saat injury time. Yang pertama, hanya gara-gara saya wanita dewasa (tsaaah), belum married dan tidak berangkat dengan orang tua. Padahal saya berangkat dengan Oma. Tidak peduli dengan segala bukti kalau saya adalah cucu kandungnya, pokoknya tolak! hiiiks..:( Tapi ditolak serta-merta itu mungkin gak terlalu bikin stress dibanding di-pending tanpa kejelasan, ditarik ulur, padahal jadwal keberangkatan sudah semakin dekat. Usaha kedua saya apply visa UAE benar-benar sampai menguras emosi. Kali ini, saya merasa PD karena berangkat dengan orang tua. Eeh, ternyata dipermasalahkan dengan alasan gak masuk akal : Di saat pulang, saya dan orang tua saya tidak kembali ke tempat yang sama. Saya kembali ke Indonesia, orang tua melanjutkan perjalanan ke Belanda. Argh! kenapa juga masih dipermasalahkan coba, padahal kami sudah berniat untuk meninggalkan negaranya, kan? Lucunya, begitu visa saya keluar, justru visa orang tua saya yang belum keluar. Lah, katanya kalau masuk harus barengan?? diiih! Untungnya visa ortu saya pun keluar, H-2 menjelang keberangkatan! Jyah…
Waktu saya mengurus visa Schengen, tidak ada drama super heboh seperti UAE. Kecuali saya yang harus keluar lagi karena salah ukuran foto dan mati bosan nunggu antrian gara gak bawa bacaan dan baru inget kalau semua gadget harus dititipin. Tapi rasanya, mengurus visa Korea Selatan adalah yang paling mudah, cepet, dan gak berasa. Bayangannya, antrian bakal panjang dan di dalam bisa berjam-jam nunggu. Jadilah waktu itu saya dan gerombolan datang pagi-pagi banget. Datang jam 9 pagi…jam 9.15 sudah beres!! Tinggal bawa dan masukin syarat-syarat yang diminta, gak ditanya apa-apa, diminta bayar 30 USD (dalam rupiah. Waktu itu saya bayar 294.000 tergantung kurs hari itu), dan voila! kita pun dikasih kuitansi tanda bukti pengambilan. Cukup menunggu 4-5 hari kerja, bisa deh diambil paspor dan visa kita. And what i mean by “masukin syarat-syarat yang diminta” is the only requirments they want. Only those. Gak perlu masukin itinerary pesawat atau bookingan hostel seperti yang biasanya dengan heboh dipersiapkan atau ditanyakan kalau mau apply visa negara lain. Karena ternyata segala macam dokumen kaya gitu disingkirkan. Padahal waktu itu saya sudah sempet lari ke mobil karena dokumen-dokumen itu ketinggalan di mobil. Bisa nih, dicek ke web-nya kedutaan korea buat ngeliat syarat-syarat visa yang dibutuhin di sini
Well, intinya sih buat nyaipin Visa gak perlu terlalu panik. Jangan terlalu percaya berbagai macam takhayul seperti kedutaan yang menolak nama-nama tertentu atau pun paspor yang masih kosong. Siapin segala macam berkas-berkas yang diperlukan, siapin juga bukti-bukti yang menunjang kalau kita gak akan “ngerepotin” atau mencoba tinggal secara ilegal di negara mereka. Kalau gak mau repot, udah mulai banyak kok travel agen yang melayani pengajuan visa. Tapi tentu saja jadi mahal banget. Biaya Visa mungkin hanya 500 ribu, tapi biaya agen jadi 2 juta. Belum tentu lolos lagi..heaaah! Nikmati aja setiap prosesnya, bisa jadi pengalaman buat ngajuin visa kooo…Ayo, buktiin kalo pemegang paspor ijo Indonesia bisa mandiri dan keliling dunia 😉
Where you feel like a king in heaven…
Saat liburan, salah satu istilah yang sering keluar mungkin adalah “seperti di surga”. Tapi pernah gak merasa diperlakukan seperti raja di surga? Baru-baru ini saya mengunjungi Pulau Macan dan itulah yang saya rasakan.
Pulau Macan, atau juga terkenal dengan sebutan Tiger Island bagi orang bule (ya menurut lo??), terletak di gugusan kepulauan seribu, di utara Jakarta. Untuk kesana, tampaknya hanya bisa melalui dermaga Marina di Ancol, karena saat kita melakukan reservasi mereka langsung mengarahkan kita untuk menunggu di sana . Biaya penyeberangan ke pulau macan sudah termasuk di dalam biaya yang harus dibayar untuk menginap di pulau macan.
Smart traveler, smart before you travel!
Kebanyakan orang malas jalan-jalan karena malas cari-cari info seputar tempat yang dituju ataupun sekedar mencari tempat tujuan. Pengen ke luar negeri, udah kebayang duluan harga tiket yang mahal, gak tau hotel yang bagus yang bagaimana, gak tau arah padahal gak bisa bahasa setempat, ah, ribet! Akhirnya karena gak mau ribet, pengennya ikut tur yang sudah diurusin segalanya. Eh, batal juga karena biasanya kemahalan. Gak jadi deh jalan-jalan.
Man, come on man! it’s been 13 years since we start the new millennium and 21st century. Teknologi informasi bahkan sudah lebih mudah didapat daripada metik mangga di pohon. Tinggal internetan. Dari komputer, smartphone, tablet, ke warnet, nyolong internet kantor/sekolah/kampus semua udah bisa dilakukan dengan mudah untuk menggali informasi yang dibutuhkan. Gak ada akses internet? buku-buku tentang traveling juga sudah menjamur. Mulai dari yang khusus untuk jalan-jalan dengan budget terbatas sampai jalan-jalan luxury juga sudah ada. Nih, prinsip saya : Kalau emang sudah niat untuk jalan-jalan, pasti selalu ada jalan! 😉
Okay, niat sudah ada. Akses internet sudah siap. Toko buku juga sudah sering dikunjungi tapi masih sering bingung mau mulai darimana untuk nyiapin liburan? Silakan dicoba deh, urutan-urutan proses pembuatan itinerary yang biasa saya lakukan :