Obrigado, Timor Leste!

Saya sempat menceritakan sedikit pengalaman saya di sini saat mengunjungi Timor Leste, khususnya bagian mengenai pengalaman saya di Presidente Nicolau Lobato International Airport (DIL).

Saat itu saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi Timor Leste, salah satu negara termuda di asia tenggara dalam rangka bistrip pada tahun 2015. Rencana kepergian cukup mendadak karena tiba-tiba partner saya mengundang perwakilan dari Sony untuk melihat setting-an studio salah satu TV di sana dan bertemu dengan beberapa stasiun TV lainnya. Jadilah dengan persiapan yang minim, saya pun berangkat ke Timor Leste!

Untuk menuju ke Timor Leste saat itu saya harus transit dulu di Bali. Saya berangkat dengan Garuda Indonesia dan bermalam 1 malam di Bali untuk esoknya melanjutkan penerbangan ke Dili dengan pesawat paling pagi. Sesampainya di Dili, saya disambut dengan petugas imigrasi teramah sedunia dan conveyor belt terpendek sedunia untuk sebuah international airport.

Ketika sampai di Dili pun saya diantarkan terlebih dulu untuk mendapatkan nomor lokal di sana. Saya lupa saya menggunakan provider yang mana, tapi tampaknya waktu itu Telemor belum ada Jadi kalau tidak salah antara Telkomcel (iya, Telkomcel, bukan Telkomsel. Tapi merupakan cucu perusahaan Telkom Indonesia) atau Timor Telecom karena itu yang ada di gallery foto saya, hehehe! Setelah mendapatkan nomor lokal untuk dapat mengakses internet, saya pun diantarkan ke tempat meeting. Selama perjalanan, hanya satu yang menarik perhatian saya. Tidak ada satupun Bahasa Indonesia tertulis di petunjuk jalan maupun billboard atau pun nama toko. Hanya ada 3 bahasa yang tersaji : Portuguese, Timor & English. Well, it was kinda sad finding that out 😦

Karena di Dili, saya hanya menghabiskan 1 malam, tidak banyak yang saya kunjungi. Here are some spots i visited that time and some photos i took then. Sayang saya tampaknya tidak sempat mengambil foto di Tais Market, pasar yang menjual barang-barang kerajinan lokal di Dili.

Cristo Rei
2015

Not in Rio

Views from the top of Cristo Rei hill


Pateo Supermarket
2015

This is one of (or maybe the only one then) international supermarket that they have in Dili. It consists of imported products from Aussie and Portugal. Koleksi winenya, wooow! Port Wine 15 years was only 19 USD!! and it was one of the best Port Wine I’ve ever tasted!


Diza Beach Restaurant
2015

Went to one of the beach restaurant for the dinner. It wasn’t bad at all!

Olahraga sebelum traveling? Penting gitu?

Bukan, ini bukan macam artikel-artikel detikhealth. Dan bukan semacam click bait pastinya. Ini cuma cerita untuk berbagi pentingnya olahraga untuk yang doyan traveling. Pure berbagi karena waktu itu Saya dan abang merasakan betulnya untungnya lagi rajin olahraga sewaktu kami sedang traveling.

Emang iya? Apa hubungannya?

Jadi begini….

Saya dan Abang punya tipe traveling yang agak unik. Kami suka sekali mengunjungi temple, reruntuhan kerajaan kuno, mengelilingi museum, dan berbaur dengan warga lokal di keramaian seperti pasar, plaza (suatu pelataran luas dimana banyak warga sekitar berkumpul), dan taman. Tidak jarang kami menemukan temple dan reruntuhan yang mengharuskan kami menaiki bukit yang tinggi, atau bersepeda di tengah hari bolong, atau sekedar kesasar ketinggalan bis.

Sewaktu kami ke Sri Lanka, tepatnya sewaktu kami hendak mengunjungi Sigiriya dan Dambulla, kami merasakan betul manfaat olahraga. Untuk mengunjungi Sigiriya dan Dambula, kami menaiki bus dari Pollonaruwa. Sigiriya ini merupakan icon negara Sri Lanka, dimana terdapat reruntuhan bekas kerajaan di atas sebuah bukit batu yang “dijaga” oleh 2 kaki singa tepat di bawahnya. (Si : Lion, Giriya : Rock. Or Lion Rock). Untuk sampai ke puncak bukit, kami harus berjalan melewati bekas-bekas peninggalan kerajaan yang sekarang sudah berbentuk seperti kolam-kolam. Setelah itu, kami mulai mendaki kaki bukit. Tracknya sih gampang, karena sudah disediakan tangga. Tapi, tinggiiii banget cuy!!!! Tenaga kami mulai tinggal setengah rasanya begitu sampai di kaki singa. Yup, masih harus naik lagi setelah kami menanjak sekitar 30 menit lebih (ya, diselingi foto-foto tentunya). Setelah foto-foto istirahat sejenak, kami pun bersiap untuk menaiki tangga yang lebih terjal dan bagian yang paling susah untuk sampai ke puncak. Total anak tangga yang kami naiki hari itu : 1200 anak tangga. Ha! Waktu itu, sebelum mengunjungi Sri Lanka, kami memang giat-giatnya berlari tiap minggu. Gak kebayang gimana kami bisa kuat sampai di atas kalau fisik lagi tidak kuat-kuatnya. Mana waktu itu jam 12 siang lagi. Haha! Tidak sedikit kami melewati orang-orang yang harus duduk di tengah tangga untuk mengatur nafas.

Bersiap menaiki puncak bukit Sigiriya
Setengah perjalanan : Lion Feet Statue

Disarankan sekali untuk istirahat di sini karena perjanalan berikutnya benar-benar menghabiskan nafas.

View from above. Great ruins with great view.

Yang bikin seru, perjalanan kami hari itu tidak hanya ke sigiriya, tapi juga ke Dambulla. Di Dambulla ini kami berencana untuk mengunjungi Dambulla Cave Temple. Sebuah buddha temple yang terletak di…..atas bukit juga! Kami tidak menyadari saat itu kalau kami harus menaiki bukit yang cukup terjal sebelum kami bisa masuk ke sebuah gua yang disulap menjadi temple dan masih aktif sampai sekarang digunakan untuk beribadah. Mana kami sempat salah jalan. Tampaknya memang ada 2 pintu masuk dan komplek Dambulla Cave Temple ini lumayan besar. Kami sempat harus menaiki tangga tingiii, untuk menuruni bukit yang agak terjal, sebelum menaiki lagi bukit dengan bantuan sekitar 200 anak tangga lagi. Betis dan paha dipastikan kebas hari itu. Di tambah, 1 hari sebelumnya, kami baru saja bersepeda seharian mengitari kompleks Pollonnaruwa Ancient City di bawah sengatan suhu 40 derajat. Hahaha! Mungkin, kalau ada yang mau mengunjungi 2 kota kecil ini, jangan di hari yang sama. Kecuali memang punya fisik yang kuat!

Menaiki bukit terjal…

Untuk sampai di sini….
Untuk bisa lihat ini….fiuh!

Banyak sekali pengalaman jalan-jalan kami yang lumayan menguras fisik. Misalnya saat kami harus bolak-balik dari pintu masuk ke tempat penitipan barang balik lagi ke pintu masuk saat kami mengunjungi The National Museum of China. Kami terpaksa harus keluar lagi dan menitipkan tongsis kami di tempat penitipan karena tongsis di larang masuk National Museum. Masalahnya….jarak tempat penitipan barang dari pintu masuk itu sekitar 500 meter! Yup, saking besarnya kompleks The National Museum of China itu. Belum lagi, setelah dari museum tersebut kami menghabiskan waktu di Forbidden City, yang kalau jalan lempeng ujung ke ujung sekitar 1KM. Sesampainya di hostel, Saya ingat saya menghabiskan sekitar 10Km jalan kaki hari itu sambil membawa tas berisikan macam-macam barang. Huft, untung sehat bugar ya..heheh!

Sejak saat itu, kami sering berpikir sendiri, seandainya waktu itu kami tidak sedang rajin-rajinnya lari / olahraga, mungkin perjalanan yang kami alami waktu itu bisa jadi tidak menyenangkan dan hanya melelahkan saja. Mungkin yang ada kami kebanyakan misuh-misuh (eh, ada sih, misuh-misuh kapan segala tangga ini berakhir), tanpa benar-benar menikmati perjalanannya itu. Jadi, mungkin olahraga bukan syarat utama sebelum melakukan traveling. Tapi olahraga bisa membantu kita mendapatkan banyak kisah menarik dalam suatu perjalanan. Yuk, olahraga! 🙂

When Strangers make you feel like home

Pasti semua traveler di dunia akan merasa bersyukur tiap bisa menemukan tempat yang bisa membuat dia merasa seperti di rumahnya. Apalagi kalau itu dirasakan karena bantuan dan dukungan orang lokalnya yang begitu ramah sampai kita merasa “pulang” tiap kita bertemu dengan mereka.

Saya benar-benar masih merasa bersyukur sampai saat ini bisa menginap 3 minggu lebih di wisma duta besar Indonesia untuk belanda di Berlin pada tahun 2010. Saat itu saya yang ikut dengan Dona yang akan berlebaran bersama keluarganya dan kebetulan ayah Dona adalah duta besar yang saat itu sedang menjabat. Jadilah saya menginap bersama keluarga kedutaan dan staffnya. Nah, selain keluarganya Dona yang sangat heart-warming menyambut saya, staff-staff kedutaan ini lah yang membuat saya lebih merasa di”rumah”. Setiap harinya, saya tidak pernah tidak ke dapur. Selain kalau mau keluar saya lebih suka lewat pintu belakang dan mengambil makanan terlebih dahulu (hehe), saya pun bisa bertemu dengan staff kedutaan di sana. Biasanya dari para supir dan ibu-ibu istri diplomat itu lah saya mendapatkan banyak tips dan trik untuk jalan-jalan. Bahkan banyak yang memberikan saya bekal waktu itu, hohoho! Waktu itu pun saya diantarkan ke daerah B5 oleh keluarganya Dona, untuk ke premium outlet di sana…and i’m such a lucky kid, since that place is faaaaar faaar away…(plus, habis itu makan sushi gratis! hahahay!)

Sewaktu saya ke Jeju pun, saya menginap di Hostel yang pemiliknya benar-benar ramah sehingga kita merasa di rumah. Saat itu saya menginap di Lefthander Guesthouse. Pemiliknya keluarga muda yang memiliki anak-anak lucu. Saat itu, walaupun kita datang pagi-pagi, tapi kita tetap check-in agak telat karena kita mau langsung jalan-jalan dulu. Nah, walaupun saat itu kita selesai beres-beres jam 11an malam, si pemilik tetap dengan ramahnya nemenin kita keliling guesthousenya dan ngobrol-ngobrol! Udah gitu, begitu dia tau kita akan berangkat pagi-pagi subuh untuk mengejar sunrise di Soengsan ilchulbong, dia pun sudah siap di depan rumah menyambut driver kami waktu itu. Padahal itu jam 4 subuh! Bahkan dia menyarankan untuk kembali ke hostelnya setelah menyaksikan sunrise sebelum check-out agar kami sempat berbersih dan menyantap sarapan (yang kedua kalinya). Saat kami check-out pun, satu keluarga pemilik lefthander pun mengantarkan kami sampai ke depan gerbangnya, lengkap sambil dada-dadah. Meskipun cuma semalam, sedih juga deh ninggalin mereka.

Pengalaman tak terlupakan tentang kebaikan orang yang tidak pernah Saya kenal sebelumnya banyak terjadi di Sri Lanka. Saat itu Saya dan Abang akan menaiki kereta dari Colombo ke Anuradhapura. Saat itu kami datang cukup mepet dengan jam keberangkatan. Sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat, kami sedang berusaha untuk “memecahkan” tulisan bulet-bulet Sri Lanka. Setelah beberapa menit, kami pun duduk di nomor kursi yang tertera, di gerbong paling belakang. Tidak beberapa lama, datang sepasang orang yang hendak duduk tepat di kursi yang sedang kami duduki. Jujur, waktu itu kami sudah berpikir jelek, “wah, dasar negara berkembang, jangan-jangan pengaturan kursi saja tidak benar!” Namun, tiba-tiba ada seorang bapak yang mendekati jendela kami dan meminta tiket kami untuk dibacakan dari luar. Lagi, saya su’udzon, takut tiket kami digondol dari luar. Tapi, pasrah, Abang memberikan tiket kami untuk dibacakan bapak tersebut. Ternyata, kata bapak-bapak tersebut kami salah gerbong! Setelah diajaknya kami keluar, dia ajari kami cara membaca tiket kereta, dan ternyata…gerbong kami seharusnya ada di gerbong paling depan! Waduh! Dengan kondisi kereta yang akan berangkat kurang dari 5 menit lagi, kami lari sekencang-kencangnya lewat luar kereta ke arah gerbong paling depan. Sengaja kami berlari dari luar, karena di dalam kereta gerakan lambat banget karena banyak orang berdesak-desakan. Mikirnya, kalo udah bunyi peluit, baru deh masuk ke keretanya. Tepat sebelum kereta mau jalan, kami akhirnya berhasil duduk di kursi kami seharusnya. Sedang mengatur napas, tiba-tiba dari jendela ada yang mendekati. Dan itu ternyata bapak-bapak tadi dooong! He just walked all the way from the last car to the front, just to make sure that we got the right seats! Padahal, bapak itu juga hanya pengunjung biasa. Mungkin mengantarkan keluarganya atau menunggu kereta berikutnya. Tapi, usahanya itu bener-bener bikin Saya malu dengan negative thinking yang Saya punya sebelumnya.

Tidak hanya itu, Sri Lanka ternyata penuh dengan orang-orang baik yang ramahnya gak ketulungan kaya berasa di rumah sendiri.  Pernah saya iseng bertanya ke mbak-mbak kasir minimarket, bus apa yang harus kami ambil dari Polonnaruwa ke Sigiriya dan Dambulla. Mbaknya mungkin jarang naik bus ke 2 tempat tersebut, makanya dia kurang tau awalnya. Tapi, gak berapa lama, dia langsung telepon temennya pakai hpnya sendiri, bicara lama, nanyain secara lengkap bagaimana pergi ke 2 tempat tersebut menggunakan bus, dan menuliskan dengan lengkap langkah-langkahnya. Tidak hanya itu, seorang bapak-bapak pengunjung minimarket yang sedang mengantri pun ikut membantu untuk menjelaskan bagaimana agar kami besok pagi bisa ke sigiriya-dambulla dan kembali lagi ke Polonnaruwa. Bahkan, saat besoknya kami kembali ke minimarket tersebut, si mbaknya nanyain ke Saya dan Abang, apakah berhasil ke Sigiriya-Dambulla. Ya ampun, intinya selama di Sri Lanka, kami tidak henti-hentinya terharu mendapatkan kebaikan dan keramahan orang-orang sana. 

Di saat kita berada di tempat yang asing, baik itu sedang traveling maupun business trip, rasanya susah mempercaya orang asing. Rasanya kita harus terus-terusan bergantung pada diri sendiri untuk survive. Tanpa kita sadari, kadang kita kebingungan dan capek, yang biasanya berimbas ke mood yang jadi drop. Makanya, saat kita jauh dari rumah, sedang capek-capeknya atau bingung, mendapatkan bantuan dari orang lokal yang tidak kita kenal itu rasanya seperti diterima dengan tangan terbuka sambil berkata, “Hi, welcome to our home. Don’t worry, we’ll take care of you till you feel like you’re home” . It is indeed a good feeling. So, why don’t we start to do the same ?

Normal Things You Can Find When You’re raveling in China

Mungkin kebanyakan orang kalau ditanya apa yang dibayangkan jika jalan-jalan ke daratan Tiongkok akan menjawab, “Wah, susah bahasanya” atau “Katanya jorok ya?”. Yup, itu juga yang saya alami ketika sedang mempersiapkan perjalanan ke Tiongkok dengan suami bulan April 2015 lalu. Sebelumya saya memang sudah sempat mengunjungi Beijing dalam rangka business trip. Waktu itu aman-aman aja sih, tapi kan segala sesuatu yang sudah diatur dengan travel agent akan berasa aman-aman saja. Hahaha. Jadi lah saya dan suami mempersiapkan segala sesuatu mulai dari belajar sedikit-sedikit kosa kata Mandarin, berbagai makanan kaleng (biar makanan tetap bersih, halal, dan gak ribet mesen-mesen karena kendala Bahasa), segala macam alat sanitasi mulai dari tissue kering, tissue basah, hand sanitizer, tissue basah berbentuk sarung tangan yg bisa dipakai untuk mandi, dll, dsb. Ternyata, sudah dengan persiapan segitunya tetep aja saya dan suami menemukan hal-hal lucu yang tampaknya memang khas kita temukan saat traveling ke negeri Tiongkok.

Continue reading “Normal Things You Can Find When You’re raveling in China”

[A Very Short Story] Yuyuan bazaar & garden

Tourisity kind of day : 24-hours series of Shanghai.
Saya dan suami cuma punya waktu tidak sampe 36 jam di kota besar, padat, dan modern ini. Jadilah Yuyuan bazaar & garden jadi pilihan utama selain the bund.
Kesimpulan:

1. Ramenya ampun-ampunan padahal bkn weekend

2. Bangunannya emang bangunan lama, tapi entah kenapa berasa bohongan lamanya. Mungkin krn keramean itu tadi.

3. Belajar minum and hirup teh di salah satu tea house tertua di shanghai. Sblm diminum teh harus dihirup lbh dulu dgn memegang teh dan tatakannya dgn kedua tangan. Setelah itu baru diminum dgn posisi tgn yg berbeda antara cewek n cowok. Yg cewek hrs ngetril, yg cowok anti ngetril.