What Foreigner Think About Indonesia ?

Pernah nggak iseng nanyak ke orang dari luar negeri apa yang mereka pikirkan tentang Indonesia? Ntah mungkin saat jalan-jalan mengunjungi negara mereka, atau mungkin saat berbincang dengan ekspat yang ada di Indonesia.

Kebanyakan mungkin akan menjawab : Bali. “Indonesia? I love it! Bali is very wonderful!”. Yup, pulau dewata tampaknya selalu ada di top of mind hampir setiap warga negara asing jika ditanya tentang Indonesia. Tidak sedikit yang memasukkan Bali sebagai destinasi wisata impiannya bahkan. “When I finished my college, I’d definitely visit Bali”, ucap tuan rumah AirBnB kami di Kyoto. Bali sudah menjadi tempat impian yang akan dia kunjungi saat sudah lulus kuliah. Wow.

Pernah ada yang mendengar tempat wisata lain disebut? Mungkin sebagian orang menyebutkan Komodo, Raja Ampat, atau Mentawai. Saya pribadi, justru menemui orang Sri Lanka yang serta-merta mengatakan, “Borobudur! I wanna visit there sometime”, saat mengetahui kalau kami dari Indonesia. Alasannya tentu saja karena “It’s the biggest Buddhist temple in the world.” Candi Buddha terbesar di seluruh dunia. Dan bagi dia, ke Borobodur sudah bagaikan perjalanan spiritual yang dia impi-impikan.

Tidak hanya tempat wisata, tapi orang Indonesia tidak pernah lepas dari 1 stereotype : ramah luar biasa! Tidak sedikit orang-orang asing yang pernah berkunjung ke Indonesia dibuat merasa disambut di rumah sendiri karena keramahan orang Indonesia yang luar biasa. Dan yang mereka tidak paham, “Why indonesian really loves to ask us for taking picture together with them?” Hahaha! Ya, ntah ini lucu atau justru miris. Bule-bule itu pada bingung kenapa orang Indonesia suka sekali ngajak mereka foto bareng? “I feel like a celebrity!”. Umm…..well!

Makanan Indonesia tentu tidak pernah ketinggalan tersimpan erat di kenangan orang-orang asing itu. Salah satu supir Grab kami di Penang mengakui lebih menyukai masakan Palembang dan Sunda dibanding makanan Malaysia sendiri. Ups! Hihihi…Indomie jangan ditanya. Ada satu teman saya dari Hong Kong yang selalu meminta saya untuk membawakan macam-macam rasa Indomie karena anaknya lebih suka mie instant dari Indonesia tersebut dibanding mie dari negaranya sendiri. Mantan bos Hong Kong saya pun terheran-heran dengan enaknya Indomie Goreng. “Gimana gak enak, ini ada 5 bumbu di dalam 1 bungkus Indomie!” ucapnya sambil menghitung bubuk micin, kecap, sambal, minyak, dan bawang goreng. Tidak hanya Indomie dong, Sambal ABC tidak ketinggalan! Suatu waktu saya dan abang bertemu dengan sepasang suami istri dari India saat kami berada di bus di Hiroshima. Dari obrolan basa-basi, sang suami tiba-tiba berkata, “My wife really loves Sambal ABC. She thinks it’s the best chillie sauce she ever tasted in the world”. Woow! Abang pun langsung mengeluarkan 3 sachets sambal ABC yang selalu dia bawa kemana-mana setiap traveling dan memberikan ke pasangan dari India itu. Kami tidak bisa melupakan bagaimana senangnya sang Istri menerima pemberian kecil kami itu.

Ada lagi cerita unik mengenai pendapat atau reaksi orang saat mengetahui kami adalah traveler dari Indonesia. Saat itu Abang sedang mengantri kereta di Beijing Railway Station yang akan mengantarkan kami ke Xi’An (saya duduk, sekitar 10 m dari tempat abang mengantri dan mengamati). Abang yang kebetulan memiliki sepasang mata paling belok di seluruh stasiun itu pun menarik perhatian beberapa orang. Hehe! Setelah beberapa saat, seorang bapak-bapak yang mengantri di depan abang pun terlihat berbicara dengan Abang. Mereka berdua tampak berbicara dengan bahasa Tarzan. Saya pun hanya tertawa-tawa kecil. Lalu tiba-tiba, mereka berdua memeragakan gerakan orang bermain Badminton. Loh? Loh? Saat saya tanya ke Abang, dia pun menjelaskan, “Iya, tadi dia tanya, aku dari mana. Aku jawab saja Indonesia. Terus dia bingung, apa itu Indonesia (ya karena pelafalan Indonesia di bahasa Mandarin itu bukan “Indonesia”). Terus aku tanya aja, ‘you know Taufik Hidayat ?’ sambil meragain Badminton”. Dan bapak itu tauu doong! Dia semangat, karena dia merasa Taufik Hidayat saingan terberat Lin Dan. Wah, wah, untuk kali pertama kami merasa dikenal karena prestasi olahraga yang mendunia.

The Minnions in Asian Games 2018. Arguably one of Indonesia’s Badminton Legend after Taufik Hidayat.

Well, unik-unik memang cerita pendapat atau ingatan orang mengenai Indonesia. Tahun ini, Indonesia memasuki 75 tahun kemerdekaannya. Kalau dipikir-pikir, banyak sekali makna kemerdekaan yang dirasakan dari cerita-cerita unik pemikiran orang asik tersebut.

Kemerdekaan berarti mulai terbukanya berbagai daerah di Indonesia yang siap menyambut berbagai persaingan global.

Kemerdekaan bisa berupa keramahan dan keterbukaan warganya menyambut orang asing dan membuat mereka merasa diterima di rumah sendiri, tanpa kita perlu ā€œmerendahkanā€ diri di hadapan mereka.

Kemerdekaan juga bisa bermakna banyaknya karya-karya anak bangsa yang mendunia. Prestasi-prestasi putra-putri Indonesia yang terukir di semua bidang, mulai dari olahraga, musik, kuliner, sains, dan sebagainya.

Mungkin pertanyaan berikutnya, bagaimana cara kita mengisi kemerdekaan ini, sehingga Indonesia akan semakin terpandang di dunia internasional, tidak hanya dengan prestasi, tapi dengan keterbukaan pemikiran dan berpartisipasi sebagai warga dunia atau global citizen.

[Lessons Learned] Belajar dari Jendral Soedirman

After watching : Mata Najwa Belajar dari Jendral Sudirman.

1. Patung jendral Sudirman dibuat dengan sikap hormat bukan karena beliau ingin dihormati, tapi beli ingin selalu menghormati rakyatnya.

2. Pak dirman tidak pernah menggunakan jampi-jampi ataupun klenik yang selalu terdengar di beberapa cerita, tapi beliau mengakui, “jimat” yang selalu beliau bawa adalah selalu berperang dalam keadaan berwudhu

3. Terus berjuang bergerilya meskipun paru-paru tinggal 1, meskipun presiden Soekarno dan wakil presiden Hatta sudah ditawan, itulah yang membangkitkan puluhan ribu pahlawan Indonesia terus berjuang di agresi militer Belanda II

….dan pasti masih banyak lagi fakta-fakta yang membuat saya makin terharu dan mengidolakan pak Dirman ā¤ #dirgahayu #RI70

View on P

“Eh, mau kemana? Oleh-oleh ya!”

Belum juga dijawab pertanyaan pertama, biasanya kalimat kedua sudah meluncur begitu saja dari mulut kebanyakan kerabat indonesia. Yeap, salah satu budaya kita kayaknya memang budaya oleh-oleh. Dimana tiap ada kerabat dekat yang berpergian, kemanapun dia, bagaimana pun dia pergi, dalam rangka apa dia pergi, pokoknya nitip oleh-oleh dulu deh! Giliran yang dititipin biasanya cuma nyengir-nyengir pasrah setengah berharap si penitip lupa nagih šŸ˜›

Tapi memang yang namanya oleh-oleh itu bikin serba salah. Mau beli, duit sering gak cukup atau bisa-bisa bikin space di luggage mengecil bahkan bikin overweight. Mau gak beliin, gak enak. Apalagi kita pun secara tidak sengaja juga sering minta oleh-oleh ke kerabat yang berpergian. Nah, coba deh intip beberapa saran oleh-oleh yang bisa (atau biasa) dijadiin oleh-oleh disaat darurat atau mungkin bisa jadi ide untuk koleksi bukti traveling kita :

Continue reading ““Eh, mau kemana? Oleh-oleh ya!””

4 Stages of Boss from My Boss

Hey! long time no see, eh? (talking to my blog interface)
and you, readers, long time no see, eh? (what exactly will they see, yoan, since you never update your blog regularly!)

Well, just want to share something i learned from my boss today with you..

Siang tadi, bos saya (let’s call him Mr. C) mengajak saya dan temen saya (let’s call her Dinda) untuk market visit.   Gak jauh-jauh dari kantor tapi cuma di LMSSC, Oke Shop, dan Electronic City.

Well, anyway, selama perjalanan dari kantor-electronic city dan electronic city-coffee shop, bisa dibilang kami tidak membicarakan pekerjaan sama sekali.  Hanya share2 pemikiran, pendapat, dan cerita-cerita ttg kehidupan sehari-hari.  Begitu kami duduk dan memesan minuman, bercerita lah dia tentang pengalaman kerjanya.

Dari yang dia ceritakan, ternyata Mr.C sudah merasakan bagaimana dunia marketing dari dasar-dasarnya.  Dari saat dia masih kroco (seperti saya sekarang ini), sampai akhirnya dia masuk LG untuk mendapatkan posisi marketing manager asia.  Dari obrolan-obrolan tadi, ada beberapa hal menarik yang bisa gwe petik :

There are 4 stages of bosses.  The best one is boss who is lazy but intelligent.  The second one, is the one who is both diligent and intelligent.  the third one is the boss who is both lazy and stupid, and the worst one is the one who is stupid but intelligent… Why is it the worst? because the keep intelligent in the stupid way.  That’s the worst thing that company will have

Nice eh? Mungkin target sekarang, jadi anak rajin biar pintar biar bisa malas-malasan.  Hahaha!

Ada sesuatu yang membuat saya agak merasa senang.  Jujur, saya termasuk mengagumi sosok Mr.C ini sejak awal saya bergabung di kantor. Bahkan ada pemikiran ekstrim kalau saya akan bertahan di perusahaan saya yang sekarang selama dia juga masih ditempatkan di Indonesia.  Dan mendengar segala macam cerita tentang pengalamannya, visinya untuk LG mobile indonesia, membuat saya semakin kagum dengan sosok Mr. C.  Dan tadi, dia menyebutkan alasan mengapa dia memilih saya dan Dinda sebagai tim yang bakal dia bentuk :

Reason why i picked you, guys, because you remind me about my self when i was at your age. Eager to learn something new in order to develop your own self.  Your my first step to reach our vision. Please, work hard together with me.

Ihiieey! mendadak semangat saya…:D