Aku, Film dan Novel

Dua hal yang mewarnai hidupku.  Ada di saat aku sedih, senang, marah, stress, bahkan biasa saja.  Dua hal yang melengkapi hobiku.  Ya, aku hobi membaca novel dan menonton film.  Keduanya kudapatkan dari orang tuaku.  Ibuku dengan hobi membacanya dan ayahku yang tidak akan bisa diganggu jika sudah menonton film.

Dari kecil aku sudah memperlihatkan hobi membaca.  Tidak pernah lupa saat pertama kali mampu membaca kerjaanku adalah membaca semua tulisan yang ada di papan reklame pinggir jalan.  Atau saat pertama kali mengenal dunia internet saat kelas 2 SD, salah satu situs yang sering aku kunjungi adalah situs yang menyajikan cerpen2 untuk anak.  Ya, aku sangat suka membaca.  Dari komik sampe novel.  Bacaan berat? hm, aku suka membaca buku2 self improvement, psikologi, dan aku juga pernah tergila-gila dengan buku sastra dan biografi Soe Hok Gie.  Tapi jujur saja yang paling kusuka adalah novel, dengan segala jenis genrenya.  Tak lebih karena aku suka berkhayal dan bermimpi.

Dengan novel, aku bebas berimajinasi, berkhayal, bermimpi.  Mengimajinasikan bagaimana wujud Voldemort dalam pikiranku, merealisasikan aksi anti-terorisme Jack Ryan, dan bertualang bersama Dr. Robert Langdon memecahkan kode-kode rahasia vatikan.  Aku suka berusaha menyelami pikiran-pikiran Dan Brown, J.K Rowling, Tom Clancy, John Grisham, bahkan Enid Blyton.  Tentu saja aku juga ingin mengenali makna-makna bahasa Marah Roesli, Sutan Takdir Alisyahbana, HAMKA, atau Djenar Maesa Ayu, Seno Gumira Ajidarma, bahkan Andrea Hirata.  Semakin susah bahasa mereka, dengan anehnya aku semakin suka mencoba menyelami dunia seperti apa yang mereka tawarkan, karakter dan tokoh seperti apa yang mereka perkenalkan.

Mungkin karena itulah aku sering kecewa dengan film yang diadaptasi dari cerita novel.  Akan sangat berbeda dari bayanganku.  Tapi ya, aku hanya bisa bersungut-sungut jengkel, karena mimpi,khayalan dan imajinasi orang tentu berbeda.  Bisa saja aku salah membayangkan apa yang dimaksudkan oleh pengarang.  Tapi bagaimana pun juga aku tetap mencintai film.

Dengan film, aku tak perlu capek2 membayangkan apa maksud sang sutradara, tidak perlu mengkhayalkan apa yang mereka ceritakan.  Aku cukup perlu menyelami perasaan, tiap tutur kata dari naskah yang diucapkan para karakter, tiap makna dari adegan-adegan yang disuguhkan.  Aku cukup terlena, membiarkan mereka membuat aku menangis, tertawa bahagia, menggeram sebal, atau mungkin merinding ketakutan.  Aku menikmati jutaan perasaan dan emosi yang mereka tawarkan.  Hanya dengan melihat, sedikit mencerna, dan aku pun akan masuk ke dunia yang sama dengan mereka.  Aku juga berada dalam ruang operasi Meredith Grey, aku juga berada dalam hutan vietnam Rescue Dawn, aku berada di tengah peperangan antar robot Transformer, atau mungkin aku pun merasa dikejar-kejar zombie Rec dan menangis di kantor NASA melihat Bruce Willis dalam Armageddon.  Ya, Aku menyukai semua jenis film.  Karena itu tadi, aku seorang pengkhayal, pemimpi, dan orang yang sangat suka berimajinasi.  Dengan  suguhan visualisasi yang sudah jelas itu, tidak mungkin akan kulewatkan begitu saja.   

Film dan Novel, mungkin tampanya aku akan mengalami hidup yang biasa-biasa saja.  Tidak ada mimpi, tidak ada khayalan.  Mereka lah sahabat-sahabatku yang membawaku menyelami segala perasaan dan emosi yang pernah ada.

The Road Not Taken by Robert Frost

This following poem is created by Robert Frost. I found it when i read Robert Kiyosaki’s Rich Dad Poor Dad.  I really love the very last line! Enjoy πŸ˜‰

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that, the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
two roads diverged in a wood, and I —
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

[Quotes] #7

Menemukan quote bagus yg dikeluarin sama didot pas kmrn lg makan bareng…

“Seorang cewek dinilai dari masa lalunya. Sedangkan cowok dinilai dari masa depannya”

I think it’s rite,isn’t it?cewe baik2 pasti dinilai dari keluarganya,sekolahnya,kemampuannya yg dia pupuk dari kecil. Sedangkan cowok?mau dia sebrengsek apapun pas dulu,tp klo dia kedepannya pny masa depan cerah?tentu dibilant baik.

Apa itu membuat cewek lebih mementingkan proses,sedangkan cowok pada hasil?hmmm…gak tau deh!

when we talk about love…

Banyak orang yang sering mempertanyakan lebih baik mana dicinta atau mencintai.

Mungkin banyak yang lebih memilih dicintai.  Tapi banyak juga yang ngerasa lebih mudah mencintai.

Gwe beberapa waktu yang lalu memikirkan mana yang baik. Karena sebenernya, gwe yakin, dalam cinta, gak mungkin ada hal buruk.  Semua pasti indah. Gak percaya?Coba deh, waktu kita lagi patah hati.  Semua emang berasa ancur kan? Tapi coba deh, apa yang kita dapat? gak semuanya buruk.  Kita mendapatkan pelajaran baru, pengalaman baru.  Dan selalu ada proses pendewasaan dari tiap kisah cinta kita.  Gwe percaya, kalo kalian berpikiran sepositif itu, saat kalian dengan ataupun tanpa sengaja mengingat kejadian itu, kalian bakal tersenyum. See?semua pasti indah jika menyangkut cinta! Jangan lupa, Tuhan menciptakan cinta sebagai unsur dari keindahan, jadi yaa..percaya aja! πŸ˜‰

nah, bermodalkan positive thinking begitu (lama2 gwe jadi berasa kaya motivator deh!), gwe sampe kepada satu kesimpulan :

Baik dicintai maupun mencintai sama bagusnya.

Dari mencintai, kita belajar ilmu ikhlas. Kita belajar mencintai seseorang apa adanya. Kita belajar menerima orang apa adanya. Dan kita belajar menerima sakit hati sebagai suatu pembelajaran

Dari dicintai, kita belajar menilai sikap orang dengan objektif. Kita belajar untuk tidak egois.  Kita belajar menerima kebaikan orang, menghargainya, dan menghormatinya.  Again, suatu pembelajaran.

So, nothing bad from love, isn’t it?

[Quotes] #6

Laugh as much as you breathe, and love as long as you live -Anonymous

“In order to be irreplaceable, one must always be different” -Coco Chanel

A smile is a curve that sets everything straight -Anonymous

“Kindness is the language which the deaf can hear and the blind can see” -Mark Twain

A hug is a handshake from the heart -Author Unknown

“You’re never fully dressed without a smile” -Martin Chamin

In this wicked world, nothing last forever, not even your problems -Charlie Chaplin

God always gives the happy ending, if it isn’t happy, so it’s not the end -Unknown