Frozen

Salah satu thriller kelas B yang gwe tunggu sejak awal tahun. Mungkin karena Trailernya cukup menarik dan cukup bikin penasaran 😀

Frozen bercerita tentang 3 orang yang ingin bermain ski dan memaksa untuk naik ke puncak gunung meskipun petugas kereta gantung sudah melarang karena sudah mau ditutup.  Karena suatu dan lain hal, terjadi kesalahpahaman sehingga petugas tanpa maksud tertentu mematikan kereta gantung sehingga 3 orang tersebut terjebak di atas.  Adegan tegang pun dimulai dan cerita memang berkisah tentang bagaimana 3 orang itu mencoba menyelamatkan diri.

hampir 30 menit pertama film ini sangat teramat garing.  Naskahnya sangat dangkal. Cuman dibuat senatural mungkin dengan obrolan2 biasa ttg kehidupan si pemain yang gk penting juga dipeduliin.  Film baru tegang sekitar 15-20 menit setelah itu.  Adegan salah satu tokoh lompat dan kakinya patah sampai tulangnya keluar n posisi kakinya aneh bener2 bikin ngiluuuuuu!! belum lagi waktu gerombolan serigala menerkam. Auuuuu!! 😯 .Dan selebihnya, film pun sudah tidak terlalu menarik lagi. 😐

Ok, intinya, ini thriller psikologis.  tentang gmana 3 orang manusia yang menyelamatkan diri dari berbagai macam ancaman :

  1. Cuaca dingin yang dipastikan pasti beberapa digit dibawah 0 derajat Celcius
  2. Karena mereka terjebak  di kereta gantung yang tinggi, mereka juga harus bisa melawan angin dingin yang berhembus
  3. Salah satu dari mereka yang nekat turun dengan melompat harus menderita patah kaki dan menerima ancaman serigala
  4. Si serigala ini muncul dimana-mana dah! Baik malam maupun siang.  Musuh utamanya kale yaaa?? 😮

dan begitu lah, cerita berputar sekitar itu. 🙄

Seperti halnya thriller kelas B, banyak juga hal gk masuk akalnya. Misal :

  1. Si tokoh yang terlalu panik dan sering berbuat bodoh atau berpikir lamban sampai2 kita sendiri geram
  2. Si serigala muncul baik malam dan siang.  Lah, kalo misalnya siang2 lagi rame orang main ski ko gk ada keliatan sama sekali ya?apa takut?atau ada pawang? 😕
  3. Adegan si cewek yang udah tatap2an sama serigala padahal keadaan cewek sama sekali gk berdaya.  Tapi dengan mukjizatnya si cewek bisa kabur dari serigala karena si serigala melengos

yaaahh…tp lumayan lah untuk sedikit menyentil adrenalin.  Apalagi adegan kaki patah itu bener2 membekas dah.  Belum lagi suara serigala makan dicampur teriakan si korban. auuch!!   Tapi gwe sarankan, kalo lagi mau cari hiburan, dibanding nonton te[rekam] ([.rec] versi indonesia) atau tiran (mati di ranjang) atau berbagai film horor berjudul aneh masih mending nonton ini siiihh….

pesan moral :

pertimbangkan, mending mati beku atau mati dimakan serigala?? tapi coba lain kali bawa jimat, siapa tau bisa beruntung diplengosin serigal 😛

PS : Salah satu pemainnya si Kevin Zegers yang main Air Bud itu tuuuuhh…inget gak?? coba liat thrillernya dan tebak dia yang mana 😀

My Name is Khan

Film India terakhir yang gwe nonton adalah Kabhi Kushi Kabhi Gham (sorry, for the wrong spell) dan Mohabbatein. Kayaknya sepanjang sejarah emang cuma 3 film India yang gwe tonton, 2 film tadi ditambah film yang waktu keluar termasuk film menghebohkan, yang gwe rasa bagaikan titanicnya Bollywood, yang sama dengan my heart will go on-nya Celine Dion, OST.nya pun sampai sekarang masih sangat sering diputar. Yap, i’m talking about Kuch Kuch Hota Hai (sorry again if the spell is wrong).

Nah, sedasawarsa setelah kehebohan film india Kuch Kuch Hota Hai, muncul satu film India yang cukup menghebohkan dunia perfilman, berjudul My Name is Khan.  Film ini diperankan oleh pasangan berchemistry paling kuat, Sharukh Khan dan Kajool (bener kan, kaya titanic? ada leo n kate winsletnya..hehe).

Sharukh Khan berperan sebagai seorang muslim penderita asperger’s syndrome yang bertualang untuk bertemu langsung dengan presiden Amerika Serikat, untuk menyatakan kalimat, “My Name is Khan and i’m not a terrorist”

Perjalanan Khan ini sendiri dimulai dari kisah2 kehidupan sebelumnya dan kisah2 selama dia melakukan perjalanan.  Alur cerita dibuat berseling-seling, mulai dari perjalanan, lalu diperlihatkan kisah2 sebelumnya, hingga akhirnya 2 kisah tersebut bertemu dan berjalan berbarengan.  Seperti khasnya film Sharukh Khan yang pernah gwe tonton, film ini benar2 menawarkan ratusan emosi di dalamnya.  Lucu, melihat akting Sharukh sebagai orang yang menderita autis.  Sweet, melihat chemistry antara Sharukh Khan dan Kajool.  Geram, sebagai seorang muslim.  Film ini sarat akan pesan ttg perdamaian, meskipun terkadang cara penyampaiannya terkesan sedikit berlebihan.  Tapi ketulusan hati Khan benar-benar menunjukkan apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk membuat dunia ini sedikit lebih damai dan mulai bersatu.

Film ini tidak menonjolkan efek.  Hanya kuat di pesan dan akting dari tokoh2 utamanya.  Tapi 2 aspek itu sudah sangat berhasil menyeret emosi penonton untuk gak bosen ntn film ini.  Oya, beda dari film india kebanyakan, disini sharukh dan kajool tidak memperlihatkan kebolehan menari dan lipsing mereka.  dari awal sampe akhir film yang ada hanyalah lagu2 sebagai latar.  Awalnya gwe pikir bakal seperti slumdog, mereka akan menyanyi2 di akhir film, tp ternyata sampe akhir pun mereka gk nyanyi2…hmm, ada yg aneh ya rasanya…hehehe!

From Paris With Love and The Lightning Thief

Jangan tertipu dengan judulnya, karena meski keluar dekat2 valentine, film ini bukanlah film romantis.  Ya, meskipun punya unsur “Paris” dan “I love you”, film ini bertemakan action-comedy.  Ada sedikit deh romance, dikiiit banget!

Film ini dimainkan oleh John Travolta dan Jonathan Rhys Myers. Intinya, mereka berdua jadi agen yang harus menyelematkan delegasi USA untuk KTT dari serangan para teroris.  John Travolta berperan sebagai Charlie Wax, agen senior yang mempunya gaya slengean dan semena-mena (khas bad boy will smith dsb).  Sementara Rhys Myers berperan sebagai seorang asisten kedutaan besar yang baru ditugaskan sebagai agen operasional untuk membantu Charile Wax.

Secara keseluruhan, singkat kata, film ini sangat typical action movie ala holywood pada tahun 90an.  Bisa dibilang adegan tembak2an ato kelahi john travolta mengingatkan kita aksinya di Face/off bersama nicolas cage.  Aksi2 yang disugukan pun sejenis film2 seperti die hard, con air, face/off dan lainnya.  Mulai dari ledakan, tembak2an sambil loncat sana loncat sini, Kebut2an di jalan tol ataupun jalan raya tengah kota, perkelahian tak sebanding seperti 2 lawan buanyak orang dmana sang jagoan harus bertindak cepat dan tepat untuk ngalahin musuh2nya.  Yak, kira2 seperti itu.  Tapi, bukan berarti jelek.  Walaupun klasik, klise, ataupun tipikal, film ini cukup menghibur.  Joke2 segar dan adegan2 lucu banyak menghiasi film ini.  Kalau anda benar2 kangen sama film2 action berjenis film2 yang saya sebutkan di atas, ditanggung pasti sangat suka dengan film ini.  Well,at least, you will be entertained and satisfied.

***

Satu lagi film yang diangkat dari novel fantasy, Percy Jackson and the olympians : The Lightning Thief.  Film ini diangkat dari novel berjudul sama karangan Rick Riordan.  Film ini sering dibanding-bandingkan dengan Harry Potter.  Mungkin karena sama2 disutradarai oleh Chris Columbus untuk tayangan perdana di layar lebar.  Mungkin karena tokoh utama sama2 berjumlah 3 dengan komposisi 1 cowok berbakat, 1 cowok konyol, dan 1 cewek pintar.  Mungkin karena tokoh utama awalnya sama2 tidak tau kekuatan yang dia miliki.  Mungkin karena tokoh utama sama2 belajar di suatu tempat khusus yang sesuai dengan “kaum”nya.  Atau mungkin karena sama2 berunsur fantasy dan banyak sentuhan2 magis lengkap dengan makhluk2 dongen.

Ya, kalian bisa menemukan semua hal tersebut di film ini.  Tapi kalian tentu tidak mungkin menemukan iPod atau PlayStation di film Harry Potter atau lagu2 bertemakan pop seperti Lady Gaga’s Poker Face atau Kesha’s Tik Tok sebagai soundtrack di film Lord Of The Rings atau Narnia.  Yap, yap, film ini melakukan pendekatan modern dan sangat memperlihatkan kehidupan sehari-hari.  Kan lucu juga kalo seorang demigod (setengah dewa setengah manusia) bisa mengalahkan Medusa dengan bantuan iPod. Hehehe…

Film ini cukup unik n menarik.  Anak-anak lebih cocok menonton Percy Jackson daripada Harry Potter sebenernya.  Karena sentuhan fantasy yang dipadukan dengan kehidupan sehari-hari memang terasa aneh di awal (apalagi logat pemeran disini tidak menggunakan logat inggris, dmana film sejenis biasanya menggunakan logat tersebut).  Tapi, pendekatan unik seperti ini justru lama2 lucu juga. Misalnya nih, mencari permata gaib salah satunya di kota Las Vegas, lengkap dengan lampu2 yang gemerlap dan casino.  Jalan masuk neraka adalah di bukit Hollywood, LA, tepat di bawah salah satu huruf2 tersebut.  Atau, peperangan terakhir dengan si pencuri tongkat petir dilakukan di Empire state Building, NYC.  Atau, sepatu yang bisa terbang yang muncul di film sebenarnya bermerekan Converse (ada lambang bintangnya). dan gak lupa iPod andalan tentu saja! hehehehe..lucu kan??Tapi, tetap saya acungkan jempol untuk Chris columbus yang selalu berhasil merealisasikan makhluk2 dan dunia2 fantasy sejak debutnya di Harry Potter 1 & 2.  Sangat gak salah memilih Chris Columbus sebagai sutradara yang membuka pintu masuk ke dunia fantasi yang belum kita kenal.Well,after all, menghibur lah.  Jauh lebih menghibur dibanding Twilight Saga menurut gwe *no offense for you, girls and gays! 😉 *

Laskar Pelangi – Sang Pemimpi (Novel)

Baru sempat baca novelnya liburan natal n tahun baru ini, karena entah mengapa hobi membaca novel gwe seakan tenggelam oleh aliran-aliran motion picture.

Gwe akan memulai dengan laskar pelangi.  Gwe melakukan kesalahan yang besar saat membaca novel pertama dari Andrea Hirata ini.  Gwe membiarkan imajinasi gwe terikat dengan film yang sebelumnya sudah gwe tonton duluan sehingga saat membaca novel ini, yang gwe rasakan adalah perasaan terbelengu. Tidak bebas berkelana ke tanah Belitong sana, tidak bebas bermainan dengan anak-anak Melayu Pedalaman yang menamakan mereka Laskar Pelangi.

Laskar Pelangi, seperti yang sudah kita ketahui, menceritakan bagaimana Ikal (Andrea Hirata) sewaktu SD-SMP.  Bagaimana ia menjalankan kehidupan anak-anaknya meraih cita-cita, penuh petualangan, penuh kenakalan dan canda tawa meskipun ia hanyalah seorang anak dari buruh dari pabrik timah yang miskin.

Dalam buku ini diceritakan bagaimana Ikal (panggilan Andrea Hirata sendiri semasa kecilnya) dan teman-temannya belajar di SD Muhamaddiyah.  Tempat pertama mereka menggantungkan cita-cita dan mempelajari ilmu untuk meraih cita-cita tersebut.  Diceritakan bagaimana jeniusnya seorang Lintang.  Ilmu-ilmu yang seharusnya dipelajari saat tingkat perguruan tinggi sudah dikuasainya sejak SMP.  Siswa terpandai dikelasnya meskipun termasuk siswa yang paling tak mampu secara materil dikelasnya.  Ia lah yang membuat dan mendorong teman-temannya untuk memiliki cita-cita dan belajar giat untuk meraihnya. Lintang selalu berhasil mendapatkan nilai 10-9 untuk hampir keseluruhan mata pelajaran, akan tetapi ada satu pelajaran untuk lintang yang bernilai 8 yaitu pelajaran kesenian.  Angka 9 hanya untuk seorang Mahar.  Ia sangat berbakat dalam seni.  Ia yang mengangkat martabat sekolahnya dalam lomba karnaval antar sekolah.  Dalam buku ini benar-benar dilukiskan kehidupan yang indah untuk anak-anak melayu pedalaman di daerah Belitong yang menamakan dirinya Laskar Pelangi tersebut.

Andrea Hirata menggunakan paduan kata yang cerdik untuk tiap kalimat yang ia tuliskan pada tiap kalimatnya di novel ini.  Dari istilah-istilah dasar/bahasa daerah seperti Dul Muluk, Nipah, Atap Sirap hingga istilah-istilah rumit seperti Pittosporum, Cassiopeia, Galena dan sebagainya dirangkai oleh Andrea Hirata menjadi satu rangkaian cerita yang menghanyutkan.  Kita bisa dibuatnya merasakan berada di dalam ruang kelas SD Muhammadiyah, di tengah-tengah pasar, atau ikut bermain bersama para laskar pelangi menikmati euforia musim hujan.  Semua diceritakan begitu detil dan gamplang sehingga keindahan akan terlihat, harum akan tercium, dan sejuk akan terasa.

Sedangkan Sang Pemimpi menceritakan saat Ikal bersama sepupu jauhnya yang bernama Arai menempuh pendidikan SMA di sebuah daerah bernama Magai.  Di sini diceritakan bagaimana Arai dan Ikal menentukan cita-citanya yaitu menjejakkan kaki ke benua Eropa dan keliling Eropa hingga Afrika, dan belajar di altar suci almamater terhebat Sorbonne, Perancis.

Untuk meraih cita-citanya itu, Ikal, Arai dan Jimbron (Sahabat Ikal) harus bekerja sambil sekolah.  Mereka harus bekerja sebagai kuli ngambat dan bangun pukul 2 tiap paginya sebelum ke sekolah.  Semua pekerjaan yang halal dikerjakan agar mereka dapat menabung untuk melanjutkan sekolah ke Jakarta hingga ke Perancis.  Meski mereka sering berbuat onar disekolah tapi Ikal dan Arai termasuk siswa terpandai di sekolahnya.  Demi mengejar mimpi-mimpinya, mereka rela bekerja keras dan belajar yang giat.

Di novelnya yang kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata menuturkan banyak kejadian-kejadian yang lucu yang dialami oleh dirinya, Arai dan Jimbron sewaktu SMA.  Bagaimana kenakalan-kenakalan mereka atau usaha Arai dan Jimbron untuk mendapatkan cintanya.  Seperti di buku pertama, Laskar Pelangi, tiap adegan diceritakan dengan detil dan menggunakan kata-kata cerdik sehingga membuat kita terpikat kedalamnya.  Beda dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi berhasil menarik belengu imajinasi yang disebabkan telah menonton filmnya terlebih dahulu.  Novel ini berhasil membiarkan gwe merasakan apa yang diceritakan oleh Andrea.

Ada percakapan lucu yang ingin gwe kutip dari novel ini.  Kutipan ini diambil dari bab When I Fall in Love yang menceritakan Arai yang mengejar wanita pujaannya, Zakiah Nurmala.

“Nurmala adalah tembok yang kukuh, Kal…,” kilah Arai diplomatis.

“Dan usahaku ibarat melemparkan lumpu ke tembok itu,” sambungnya optimis.

“Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?” tanyanya retoris.

“Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apa pun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya,” kesimpulannya filosofis.

Akan tetapi, ada yang aneh dari rangkaian tetralogi, khususnya 2 novel pertama ini.  Di Sang Pemimpi diceritakan ayah Ikal mengangkat Arai sebagai anak sejak Ikal kelas 3 SD.  Dengan umur yang sama dengan Ikal, seharusnya Arai juga bersekolah di SD Muhammadiyah.  Tetapi, mengapa Arai sama sekali tidak disebut dalam Laskar Pelangi (yang rentangnya adalah saat SD-SMP)? Mengapa Arai sama sekali tidak termasuk dalam Laskar Pelangi?  Jika Arai masuk kedalam Laskar Pelangi, pasti kehidupan Laskar Pelangi akan lebih seru dengan adanya Arai yang (tampaknya) memiliki sifat Sanguinis-Koleris seperti Arai.  Tentu Ikal dapat lebih cepat bertemu dengan A Ling seandainya Arai ada disampingnya, karena Arai selalu ingin membantu teman-temannya. 

Gwe lebih suka dengan alur yang ditawarkan di filmnya.  Karena alurnya lebih masuk akal dan dapat langsung diterima oleh orang-orang yang belum membaca novelnya.  Bahkan gwe yang membaca novelnya setelah menonton pun masih terngiang-ngiang oleh gambaran yang ditawarkan oleh filmnya.

Well, masalah mana yang lebih baik apakah filmnya atau novelnya, semua itu terserah bagi penikmatnya.  Yang jelas, baik novel maupun filmnya tidak boleh dilewatkan begitu saja jika kalian mengaku sebagai “anak daerah” Indonesia.

The Fourth Kind

Gwe udah lama banget nungguin film ini main di blitz PVJ.  Berhubung waktu inafff gk diputer di Bandung, terpaksa harus nungguin deh…

Karena itu, begitu tau udah diputer, gwe n beberapa anak kosan gwe memutuskan untuk ntn walopun masih midnite.  Ditengah orang2 ngantri Avatar dan Sang Pemimpi,gwe ke blitz tengah malam (bener2 sampe jam12 di PVJ) untuk ntn The Fourth Kind.

Film ini menceritakan suatu case study yang pernah dilakukan (katanya).  Dmana suatu kota di Alaska mengalami kejadian misterius dimana banyak orang yang dilaporkan menghilang secara misterius.  Orang2 tersebut hilang dengan pola yang sama, sama2 mengalami hal aneh yang menyebabkan mereka gk bisa tidur.  Karena itu lah mereka menceritakan masalah mereka ke Dr. Abbey yang menyelidiki masalah ini…untuk selebihnya mungkin bisa dilihati di trailer ini kali ya..

Gwe suka sama ni film, mungkin karena didasari real case studies, bisa dibilang, fact-based. well, percaya gk percaya, toh Mila Jovovich yang memerankan tokoh Dr. Abigail Tyler udah bilang dari awal, ” What you decide is up to you”.  Gwe sih slesai ntn juga masih antara percaya gk percaya apa bener hilangnya orang2 di Nome, Alaska itu benar atau tidak, karena begitu gwe googling, g ada situs resmi yang membahas tentang fenomena tersebut.  Yang ada situs2 yang membahas sedikit ttg fenomena itu karena adanya film ini.  Tapi, gmana kalo kita bahas filmnya aja?

Mila Jovovich emang gk terlalu bisa akting kayaknya.  Bisa, tp gk hebat.  Karena memang aktingnya biasa2 aja.  Malah bagusan orang2 yang memerankan pasien2 Dr. Abbey saat mereka di bawah alam sadar pegaruh hipnotis Dr. Abbey.

Film ini memasukkan courtesy dan archive berupa rekaman suara dan gambar yang (katanya) asli dari apa yang pernah dilakukan Dr.Abbey dan temannya.  Jadi ada orang2 yang berakting, lalu layar dibagi 2 untuk memperlihatkan rekaman2 gambar yang sesuai dengan adegan yang difilmkan.  Adegan dan dialog bener2 disesuaikan dengan archive itu tadi.  Bagian yang memperlihatkan archive itu lah yang menurut gwe daya tarik film ini.  Tapi sayang, secara sinematografi, gwe sangat terganggu dengan cara pengambilan gambar. Gwe gk ngerti mksdnya apa, knapa juga harus digoyang-goyangin di adegan apapun?mksdnya dokumenter?gk juga, itu adegan sehari2 biasa orang lagi ngebahas pekerjaan.  toh, di film ini, dokumentasi dilakukan dengan kamera yang menggunakan tripod, jadi gk akan goyang2…terlalu lebay kayaknya.

Yang menarik adalah bagian credit di akhir cerita. yang biasanya diisi dengan score untuk mengiri credit nama2 crew, tp di film ini score diganti dengan rekaman orang2 yang menelepon melaporkan kalo mereka melihat UFO, alien dan sebangsanya.  Hal ini menyebabkan (anjir bahasa gwe udah kaya bikin TA aje) para penonton di bioskop bner2 tidak beranjak untuk ntn  credit sampe habis.  Hal yang jarang terjadi di film apapun.  Gwe juga bingung knapa ni orang gk sadar ya?hahaha…

yaaa…ditunjang archive yang menarik perhatian dan intens, akting kurang bagus, sinematografi kurang oke, credit yang kreatif…i give this movie 6.5/10