[Recipe] Fried Meatballs with Worchester Sauce

Atau kalau yang sering Saya dulu minta ke mama saya “daging bulet-bulet dong ma!”.

Kalau diingat-ingat, banyak sekali nama menu yang seenaknya saja Saya buat untuk menamakan masakan mama. Ada “kue busa”, “kue gong”, sampai si “daging bulet-bulet ini”. Kue busa itu sebutan untuk sponge cupcake yang biasa mama bikin dengan isian coklat atau rogut ayam. Kuenya sangat lembuuut, saking lembutnya jika kita penyet, kuenya bisa kembali ke bentuk semula! Bener-bener seperti busa kan? haha! Sementara “Kue Gong” itu basically kue bolu coklat yang biasa digunakan untuk blackforrest, tapi sama mama dari dulu gak dihias karena Saya dan papa tidak sabar untuk memakannya. Kuenya wangi, tidak terlalu manis karena menggunakan dark coklat batangan. Saya dan papa menamakannya sebagai kue gong karena terinspirasi dari permainan gamelan dimana Gong biasa dibunyikan paling akhir sebagai pamungkas dari permainan gamelan. Nah, saking kegandrungannya kami dengan kue bolu tersebut, kami namakan saja “Kue Gong”! Kue pamungkas! Kue andalan! atau jaman sekarang sebutannya kue when-in-doubt hahaha!

Kue Busa

Kue Gong

Penamaan daging bulet-bulet memang tidak ada yang spesial. Pure karena ya bentuknya bulet-bulet. Orang bule nyebutnya “meatballs”. Pas udah gede dan bisa masak sendiri Saya baru sadar kalau ini yang biasa disebut dengan meatballs dan biasa dipakai tambahan spaghetti Bolognese . Si daging bulet-bulet ini sejak saya kecil sudah menjadi comfort food. Saya tipe yang tidak suka makanan basah, bahkan anti sekali nasi terkena kuah. Tapi kalau sudah makan ini, saya malah rela mengguyur nasi hangat dengan kuah yang masih panas. Rasanya hangat sampe ke dada. Bahkan, saat memakannya sekarang, Saya langsung terbawa ke kenangan waktu saya masih kecil lalu. Duduk di kursi kecil, di hadapan TV. Kursi yang sangat kecil untuk balita, tapi hebatnya masih bisa Saya pakai sampai Saya lulus SMA. Hehe. Jadilah si daging bulet-bulet ini salah satu makanan pertama yang bisa saya masak. Karena seperti pesan mama dulu, “mulai lah belajar masak masakan yang kamu suka, karena pasti akan masaknya sepenuh hati. Hasilnya pasti memuaskan, dan membuat kamu makin suka masak”.

Si daging bulet-bulet siap disantap

So, here is the recipe for my kind of Fried Meatballs with Worchester Sauce atau “Daging bulet-bulet”. Mohon maaf sebelumnya, saya terbiasa untuk memasak tanpa takaran karena memang diajarinnya “ya kira-kira aja!” hahaha, seru-seru tegang sih emang jadinya. Tapi selama bukan kue atau pudding, tampaknya semakin sering memasak memang semakin jago mengira-ngira ya…

Serve : 3-4 portions
Resep Meatballs (si daging bulet-buletnya) 
Bahan : 
Daging giling 250 gram
Bawang bombay dicincang 
(untuk daging giling 250gram, saya biasa menggunakan 3/4-1 bawang bombay 
tergantung ukuran)
Roti Tawar 1 lembar, disobek-sobek hingga halus
Telur 1 butir
Merica secukupnya 
Pala bubuk secukupnya 
(atau Saya sering menggunakan 1/2-1 biji pala yang saya tumbuk halus, 
tergantung tingkat ketajaman rasa yang diinginkan)
Garam secukupnya 
Cara membuat : 
1. Tumis bawang bombay cincang dengan menggunakan butter/margarine 
2. Campurkan tumisan bawang bombay yang telah wangi dengan daging giling
3. Campurkan roti tawar, telur, merica, pala bubuk, dan garam ke dalam daging giling. Uleni hingga rata
4. Bulat-bulatkan menggunakan tangan
5. Goreng dengan minyak sedikit hingga kecoklatan

Resep Worchester Sauce
Bahan : 
Bawang putih 3 siung
Saos tomat secukupnya 
(mungkin...sekitar...5tbsp?)
Kecap manis secukupnya 
(umm....sekitar....3tbsp?)
Kecap inggris (worchester sauce) secukupnya 
(uugh....sekitar....3tbsp juga kali ya?) 
(dirasai-rasaiin ajaah kira-kira kurang apaa yaah...)
Merica secukupnya
Pala utuh 1 biji
Cengkeh 3 biji 
(4 juga gak papa deh...)
Kayumanis 1 biji
Gula secukupnya 
Maizena 2-3tbsp, cairkan
Daun bawang 1 tangkat, potong halus 
Daun seledri secukupnya, ikat
 (nggak Saya potong, tapi ya diiket gitu kaya simpul)
Air secukupnya 
(serius, kira-kira aja mau kuah sebanyak apa)

Cara membuat : 
1. Masukkan semua bahan kecuali tepung maizena, daun bawang dan seledri
2. Setelah mendidih, masukkan cairan tepung maizena, aduk hingga agak mengental
3. Sesaat mau makan, masukkan daun bawang dan seledri agar segar!

Jadi deh! Tinggal campurkan daging bulet-bulet yang sudah digoreng ke dalam sausnya. Sangat disarankan makan saat lagi hangat/panas-panasnya. Mungkin karena bawang, pala, cengkeh dan kayumanis, makanan ini somewhat bikin anget dan (sediki) membantu meringankan masuk angin! (oke, Saya mulai sotoy)

Selamat mencoba masakan masa kecil saya! Apa masakan masa kecilmu?

When Strangers make you feel like home

Pasti semua traveler di dunia akan merasa bersyukur tiap bisa menemukan tempat yang bisa membuat dia merasa seperti di rumahnya. Apalagi kalau itu dirasakan karena bantuan dan dukungan orang lokalnya yang begitu ramah sampai kita merasa “pulang” tiap kita bertemu dengan mereka.

Saya benar-benar masih merasa bersyukur sampai saat ini bisa menginap 3 minggu lebih di wisma duta besar Indonesia untuk belanda di Berlin pada tahun 2010. Saat itu saya yang ikut dengan Dona yang akan berlebaran bersama keluarganya dan kebetulan ayah Dona adalah duta besar yang saat itu sedang menjabat. Jadilah saya menginap bersama keluarga kedutaan dan staffnya. Nah, selain keluarganya Dona yang sangat heart-warming menyambut saya, staff-staff kedutaan ini lah yang membuat saya lebih merasa di”rumah”. Setiap harinya, saya tidak pernah tidak ke dapur. Selain kalau mau keluar saya lebih suka lewat pintu belakang dan mengambil makanan terlebih dahulu (hehe), saya pun bisa bertemu dengan staff kedutaan di sana. Biasanya dari para supir dan ibu-ibu istri diplomat itu lah saya mendapatkan banyak tips dan trik untuk jalan-jalan. Bahkan banyak yang memberikan saya bekal waktu itu, hohoho! Waktu itu pun saya diantarkan ke daerah B5 oleh keluarganya Dona, untuk ke premium outlet di sana…and i’m such a lucky kid, since that place is faaaaar faaar away…(plus, habis itu makan sushi gratis! hahahay!)

Sewaktu saya ke Jeju pun, saya menginap di Hostel yang pemiliknya benar-benar ramah sehingga kita merasa di rumah. Saat itu saya menginap di Lefthander Guesthouse. Pemiliknya keluarga muda yang memiliki anak-anak lucu. Saat itu, walaupun kita datang pagi-pagi, tapi kita tetap check-in agak telat karena kita mau langsung jalan-jalan dulu. Nah, walaupun saat itu kita selesai beres-beres jam 11an malam, si pemilik tetap dengan ramahnya nemenin kita keliling guesthousenya dan ngobrol-ngobrol! Udah gitu, begitu dia tau kita akan berangkat pagi-pagi subuh untuk mengejar sunrise di Soengsan ilchulbong, dia pun sudah siap di depan rumah menyambut driver kami waktu itu. Padahal itu jam 4 subuh! Bahkan dia menyarankan untuk kembali ke hostelnya setelah menyaksikan sunrise sebelum check-out agar kami sempat berbersih dan menyantap sarapan (yang kedua kalinya). Saat kami check-out pun, satu keluarga pemilik lefthander pun mengantarkan kami sampai ke depan gerbangnya, lengkap sambil dada-dadah. Meskipun cuma semalam, sedih juga deh ninggalin mereka.

Pengalaman tak terlupakan tentang kebaikan orang yang tidak pernah Saya kenal sebelumnya banyak terjadi di Sri Lanka. Saat itu Saya dan Abang akan menaiki kereta dari Colombo ke Anuradhapura. Saat itu kami datang cukup mepet dengan jam keberangkatan. Sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat, kami sedang berusaha untuk “memecahkan” tulisan bulet-bulet Sri Lanka. Setelah beberapa menit, kami pun duduk di nomor kursi yang tertera, di gerbong paling belakang. Tidak beberapa lama, datang sepasang orang yang hendak duduk tepat di kursi yang sedang kami duduki. Jujur, waktu itu kami sudah berpikir jelek, “wah, dasar negara berkembang, jangan-jangan pengaturan kursi saja tidak benar!” Namun, tiba-tiba ada seorang bapak yang mendekati jendela kami dan meminta tiket kami untuk dibacakan dari luar. Lagi, saya su’udzon, takut tiket kami digondol dari luar. Tapi, pasrah, Abang memberikan tiket kami untuk dibacakan bapak tersebut. Ternyata, kata bapak-bapak tersebut kami salah gerbong! Setelah diajaknya kami keluar, dia ajari kami cara membaca tiket kereta, dan ternyata…gerbong kami seharusnya ada di gerbong paling depan! Waduh! Dengan kondisi kereta yang akan berangkat kurang dari 5 menit lagi, kami lari sekencang-kencangnya lewat luar kereta ke arah gerbong paling depan. Sengaja kami berlari dari luar, karena di dalam kereta gerakan lambat banget karena banyak orang berdesak-desakan. Mikirnya, kalo udah bunyi peluit, baru deh masuk ke keretanya. Tepat sebelum kereta mau jalan, kami akhirnya berhasil duduk di kursi kami seharusnya. Sedang mengatur napas, tiba-tiba dari jendela ada yang mendekati. Dan itu ternyata bapak-bapak tadi dooong! He just walked all the way from the last car to the front, just to make sure that we got the right seats! Padahal, bapak itu juga hanya pengunjung biasa. Mungkin mengantarkan keluarganya atau menunggu kereta berikutnya. Tapi, usahanya itu bener-bener bikin Saya malu dengan negative thinking yang Saya punya sebelumnya.

Tidak hanya itu, Sri Lanka ternyata penuh dengan orang-orang baik yang ramahnya gak ketulungan kaya berasa di rumah sendiri.  Pernah saya iseng bertanya ke mbak-mbak kasir minimarket, bus apa yang harus kami ambil dari Polonnaruwa ke Sigiriya dan Dambulla. Mbaknya mungkin jarang naik bus ke 2 tempat tersebut, makanya dia kurang tau awalnya. Tapi, gak berapa lama, dia langsung telepon temennya pakai hpnya sendiri, bicara lama, nanyain secara lengkap bagaimana pergi ke 2 tempat tersebut menggunakan bus, dan menuliskan dengan lengkap langkah-langkahnya. Tidak hanya itu, seorang bapak-bapak pengunjung minimarket yang sedang mengantri pun ikut membantu untuk menjelaskan bagaimana agar kami besok pagi bisa ke sigiriya-dambulla dan kembali lagi ke Polonnaruwa. Bahkan, saat besoknya kami kembali ke minimarket tersebut, si mbaknya nanyain ke Saya dan Abang, apakah berhasil ke Sigiriya-Dambulla. Ya ampun, intinya selama di Sri Lanka, kami tidak henti-hentinya terharu mendapatkan kebaikan dan keramahan orang-orang sana. 

Di saat kita berada di tempat yang asing, baik itu sedang traveling maupun business trip, rasanya susah mempercaya orang asing. Rasanya kita harus terus-terusan bergantung pada diri sendiri untuk survive. Tanpa kita sadari, kadang kita kebingungan dan capek, yang biasanya berimbas ke mood yang jadi drop. Makanya, saat kita jauh dari rumah, sedang capek-capeknya atau bingung, mendapatkan bantuan dari orang lokal yang tidak kita kenal itu rasanya seperti diterima dengan tangan terbuka sambil berkata, “Hi, welcome to our home. Don’t worry, we’ll take care of you till you feel like you’re home” . It is indeed a good feeling. So, why don’t we start to do the same ?

[Short review] Reading: Harry Potter and the Cursed Child – Parts One and Two (Special Rehearsal Edition) by J.K. Rowling

As a fanboy of Jo, at the time i started this book after reading (very) bad reviews about it, i kept telling my self; open your mind, it’s a script book which is different from the others, and nothing can make Jo failed you.

Well, She failed me.

I’m really sure she just took a super tiny lil part writing this book, because everything just don’t make sense.

1. It’s only -literally only- about Albus and Scorpius. If you’re looking for other 2nd gen characters, not a chance. Not even Teddy Lupin!

2. The dialogue -all of it- is rubbish. Feels like reading a middle school play scripts made by lamest fans ever who maybe got a lil bit excitement in LGBT. I mean, boys friendship should be like Ron-Harry….not like, well…

3. The twist. Puhleaaaseeee reallly?!?! Voldemort the dark lord did that???? Seriously Jo, you just made one of the best villain ever as low as a drug dealer gangsta!

4. If one of your reason to love Jo is because how she creates some unique names….let’s rethink about it.

See??all the reasons why i hate this book…i don’t think Jo even touch 10% of it.

I finally found my worst Harry Potter series.

[Short Review] Reading: Career of Evil by Robert Galbraith

I know, I know that i promised myself to finish that book lists on my “where-have-you-been” reading challenge…but when it comes to JKR (or Galbraith), I surely will be distracted.

What I can say about this book is….WOA,WHAT A ROLLER COSTER FEELINGS! As usual, JKR serves us deeper thoughts and feeling about the characters she develop, and in this 3rd series of Cormoran Strike I keep changing my mood from intense and thrilling moments to giggling enthusiastically following the up and downs of Strike-Robin’s relationship.

If Agatha Christie a sensible wingbacked chair, then Robert Galbraith is a vast, overstuffed sofa, complete with dog hair and something unmentionable behind the cushions.

Ps: if you’re a fans of Strike-Robin, you better get ready at the end of the stories.