I don’t read a lot this year (17 books only and still counting), but this is the best book I’ve read so far this year!
Read this at the first time with a purpose to get a little touch of Russian history, I ended up “trapped” in every character that Towles create in this book. This book is about a gentleman names Alexander Ilyich Rostov who was sentenced to house arrest in the Metropol, a grand hotel across the street from the Kremlin. We can see how a gentleman with full of wisdom and wit who never worked before had to adjust his life by living in the hotel’s attic, worked as head of waitress, made a lifetime relationships and found a larger life and even a meaningful life as a gentleman despite being prisoned.
I love count Rostov and the Triumvirate, I hold Sofia dearly in my heart, and I despise the Bishop so much. I gasped, shrieked, laughed, sighed to each of the moments our beloved count experienced. I’m happy, sad and thrilled for him and other characters as it’s so deeply engraved in this book. I definitely invested so much emotion in this book.
Something we can learn from this book : live your life to the fullest even though you feel like you’re trapped within 4 walls (literally and figuratively). Make new friends, create new habits, learn something new, and keep your mind sharp & positive!
Thank you, Count Rostov for reminding us such thought during this pandemic situation 🙂
I read the book with my e-book. Good decision as i can’t stop reading it even it’s already late at night and the light has been turned off. I really love this book it made me want to sketch its cover! It also inspired to a new project of mine that will be launched soon!
I also love the way how Towles played with the timeline. He divided decades based on book part. Each decade has a background of a changing Russia between early 1920s to early 1950s. He could telling a story of 10 years after then go back to the present days within a paragraph, without leave us confuse with the story. My favorite character is Count Rostov, of course. And I love how Towles write all those very detail about his character; his thoughts, his manner, and his attitude toward everything around him.
So here’s my verdict : Story line : 4.5/5 Main topic : 4.5/5 Inspiring words : 4/5 Character development : 5/5 Total : 4.5/5
Saya sempat menceritakan sedikit pengalaman saya di sini saat mengunjungi Timor Leste, khususnya bagian mengenai pengalaman saya di Presidente Nicolau Lobato International Airport (DIL).
Saat itu saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi Timor Leste, salah satu negara termuda di asia tenggara dalam rangka bistrip pada tahun 2015. Rencana kepergian cukup mendadak karena tiba-tiba partner saya mengundang perwakilan dari Sony untuk melihat setting-an studio salah satu TV di sana dan bertemu dengan beberapa stasiun TV lainnya. Jadilah dengan persiapan yang minim, saya pun berangkat ke Timor Leste!
Untuk menuju ke Timor Leste saat itu saya harus transit dulu di Bali. Saya berangkat dengan Garuda Indonesia dan bermalam 1 malam di Bali untuk esoknya melanjutkan penerbangan ke Dili dengan pesawat paling pagi. Sesampainya di Dili, saya disambut dengan petugas imigrasi teramah sedunia dan conveyor belt terpendek sedunia untuk sebuah international airport.
Ketika sampai di Dili pun saya diantarkan terlebih dulu untuk mendapatkan nomor lokal di sana. Saya lupa saya menggunakan provider yang mana, tapi tampaknya waktu itu Telemor belum ada Jadi kalau tidak salah antara Telkomcel (iya, Telkomcel, bukan Telkomsel. Tapi merupakan cucu perusahaan Telkom Indonesia) atau Timor Telecom karena itu yang ada di gallery foto saya, hehehe! Setelah mendapatkan nomor lokal untuk dapat mengakses internet, saya pun diantarkan ke tempat meeting. Selama perjalanan, hanya satu yang menarik perhatian saya. Tidak ada satupun Bahasa Indonesia tertulis di petunjuk jalan maupun billboard atau pun nama toko. Hanya ada 3 bahasa yang tersaji : Portuguese, Timor & English. Well, it was kinda sad finding that out 😦
Karena di Dili, saya hanya menghabiskan 1 malam, tidak banyak yang saya kunjungi. Here are some spots i visited that time and some photos i took then. Sayang saya tampaknya tidak sempat mengambil foto di Tais Market, pasar yang menjual barang-barang kerajinan lokal di Dili.
Cristo Rei 2015
Not in Rio
Views from the top of Cristo Rei hill
Pateo Supermarket 2015
This is one of (or maybe the only one then) international supermarket that they have in Dili. It consists of imported products from Aussie and Portugal. Koleksi winenya, wooow! Port Wine 15 years was only 19 USD!! and it was one of the best Port Wine I’ve ever tasted!
Diza Beach Restaurant 2015
Went to one of the beach restaurant for the dinner. It wasn’t bad at all!
Those 2 questions are the main topic for this Dan Brown’s latest Robert Langdon’s series. Sudah cukup lama saya ingin membaca buku ini. Bahkan bukunya sendiri sudah tersedia di rak buku saya sejak beberapa tahun lalu. Akhirnya, setelah beberes buku minggu lalu, saya memutuskan untuk membaca buku ini, dengan asumsi ini akan menjadi bacaan ringan. Well, what to expect from some pop culture novel, right ?
Novel ini mengambil setting di Spanyol. Dimulai saat Langdon diundang oleh seorang tech-savvy, well-known, super rich and also atheist, bernama Edmond Kirsch. Edmond berencana untuk membeberkan penemuan dia mengenai 2 pertanyaan fundamental tersebut; “Where do we come from? where are we going?”. Namun, seperti novel-novel Dan Brown lainnya, something (really) bad happened, and our beloved symbol professor from Harvard has to race with time to finish what Edmond planned to do.
Yaa, kalau sering baca buku-bukunya Dan Brown, especially Robert Langdon series, pasti akan sangat terbiasa dengan patternnya. Langdon diundang atau ketemu dengan orang penting. Orang pentingnya mati. Ada rahasia yang harus diungkap. Ada cewek pinter dan cantik nemenin Langdon memecahkan teka-teki yang harus diungkap. Ada orang jahat mengejar yang mau bunuh mereka, dan biasanya orang jahat ini di-backup oleh orang penting lainnya. Rahasia terungkap. Everyone lives happily ever after.
Nah Origin persis seperti ini. Ditambah banyak tempat-tempat yang sangat mainstream seperti Casa Mila, (ngelewatin) Park Guell, Sagrada Familia, bahkan sedikit menyebutkan stadion FC Barcelona. Dan Brown juga memasukkan beberapa quote yang cukup mainstream dari Winston Churchill, seperti:
“Success is the ability to go from one failure to another with no loss of enthusiasm.”
“The price of greatness…is responsibility”
“History will be kind to me, for I intend to write it.”
Ceritanya memang agak dragging to long. Beberapa karakter kurang terdevelop dengan baik. Dan ada beberapa bagian yang rasanya tidak perlu diceritakan. Walaupun bagian-bagian tersebut tampaknya memang sebagai pengalihan issue/perhatian untuk twisted ending-nya. In fact, one of the good reason i like this book is the twisted fact at the end of the book. [SPOILER ALERT!] About the one who’s instructed the killer to kill Edmond Kirsch.
Another thing that made me stick to the book is the topic itself. To be honest, those 2 fundamental questions are lingering in my thought these days. So, i just wanna know other author’s thought about it. Well, the answer for the first question is quite appalling. I just heard about it when i read it. But the answer for the 2nd answer is similar with what Yuval Noah Harari try to explain in Homo Deus.
Also, there are some good words for deeper thinking in this books. Here are some of my fav :
“…human, despite being God’s sublime creation, were just being animals at the core, their behavior driven to a great by a quest for creature comforts. We comfort our physical bodies in hopes our souls will follow.”
“Nietzsche: “Whoever fights monsters should see to it that in the process he does not become a monster.”
“…it is in hearing the voice of the devil that we can better appreciate the voice of god.”
“Memento mori,” the monarch whispered. “Remember death. Even for those who wield great power, life is brief. There is only one way to triumph over death, and that is by making our lives masterpieces.”
“Love is a private thing. The world does not need to know.”
Pernah nggak iseng nanyak ke orang dari luar negeri apa yang mereka pikirkan tentang Indonesia? Ntah mungkin saat jalan-jalan mengunjungi negara mereka, atau mungkin saat berbincang dengan ekspat yang ada di Indonesia.
Kebanyakan mungkin akan menjawab : Bali. “Indonesia? I love it! Bali is very wonderful!”. Yup, pulau dewata tampaknya selalu ada di top of mind hampir setiap warga negara asing jika ditanya tentang Indonesia. Tidak sedikit yang memasukkan Bali sebagai destinasi wisata impiannya bahkan. “When I finished my college, I’d definitely visit Bali”, ucap tuan rumah AirBnB kami di Kyoto. Bali sudah menjadi tempat impian yang akan dia kunjungi saat sudah lulus kuliah. Wow.
Pernah ada yang mendengar tempat wisata lain disebut? Mungkin sebagian orang menyebutkan Komodo, Raja Ampat, atau Mentawai. Saya pribadi, justru menemui orang Sri Lanka yang serta-merta mengatakan, “Borobudur! I wanna visit there sometime”, saat mengetahui kalau kami dari Indonesia. Alasannya tentu saja karena “It’s the biggest Buddhist temple in the world.” Candi Buddha terbesar di seluruh dunia. Dan bagi dia, ke Borobodur sudah bagaikan perjalanan spiritual yang dia impi-impikan.
Tidak hanya tempat wisata, tapi orang Indonesia tidak pernah lepas dari 1 stereotype : ramah luar biasa! Tidak sedikit orang-orang asing yang pernah berkunjung ke Indonesia dibuat merasa disambut di rumah sendiri karena keramahan orang Indonesia yang luar biasa. Dan yang mereka tidak paham, “Why indonesian really loves to ask us for taking picture together with them?” Hahaha! Ya, ntah ini lucu atau justru miris. Bule-bule itu pada bingung kenapa orang Indonesia suka sekali ngajak mereka foto bareng? “I feel like a celebrity!”. Umm…..well!
Makanan Indonesia tentu tidak pernah ketinggalan tersimpan erat di kenangan orang-orang asing itu. Salah satu supir Grab kami di Penang mengakui lebih menyukai masakan Palembang dan Sunda dibanding makanan Malaysia sendiri. Ups! Hihihi…Indomie jangan ditanya. Ada satu teman saya dari Hong Kong yang selalu meminta saya untuk membawakan macam-macam rasa Indomie karena anaknya lebih suka mie instant dari Indonesia tersebut dibanding mie dari negaranya sendiri. Mantan bos Hong Kong saya pun terheran-heran dengan enaknya Indomie Goreng. “Gimana gak enak, ini ada 5 bumbu di dalam 1 bungkus Indomie!” ucapnya sambil menghitung bubuk micin, kecap, sambal, minyak, dan bawang goreng. Tidak hanya Indomie dong, Sambal ABC tidak ketinggalan! Suatu waktu saya dan abang bertemu dengan sepasang suami istri dari India saat kami berada di bus di Hiroshima. Dari obrolan basa-basi, sang suami tiba-tiba berkata, “My wife really loves Sambal ABC. She thinks it’s the best chillie sauce she ever tasted in the world”. Woow! Abang pun langsung mengeluarkan 3 sachets sambal ABC yang selalu dia bawa kemana-mana setiap traveling dan memberikan ke pasangan dari India itu. Kami tidak bisa melupakan bagaimana senangnya sang Istri menerima pemberian kecil kami itu.
Ada lagi cerita unik mengenai pendapat atau reaksi orang saat mengetahui kami adalah traveler dari Indonesia. Saat itu Abang sedang mengantri kereta di Beijing Railway Station yang akan mengantarkan kami ke Xi’An (saya duduk, sekitar 10 m dari tempat abang mengantri dan mengamati). Abang yang kebetulan memiliki sepasang mata paling belok di seluruh stasiun itu pun menarik perhatian beberapa orang. Hehe! Setelah beberapa saat, seorang bapak-bapak yang mengantri di depan abang pun terlihat berbicara dengan Abang. Mereka berdua tampak berbicara dengan bahasa Tarzan. Saya pun hanya tertawa-tawa kecil. Lalu tiba-tiba, mereka berdua memeragakan gerakan orang bermain Badminton. Loh? Loh? Saat saya tanya ke Abang, dia pun menjelaskan, “Iya, tadi dia tanya, aku dari mana. Aku jawab saja Indonesia. Terus dia bingung, apa itu Indonesia (ya karena pelafalan Indonesia di bahasa Mandarin itu bukan “Indonesia”). Terus aku tanya aja, ‘you know Taufik Hidayat ?’ sambil meragain Badminton”. Dan bapak itu tauu doong! Dia semangat, karena dia merasa Taufik Hidayat saingan terberat Lin Dan. Wah, wah, untuk kali pertama kami merasa dikenal karena prestasi olahraga yang mendunia.
The Minnions in Asian Games 2018. Arguably one of Indonesia’s Badminton Legend after Taufik Hidayat.
Well, unik-unik memang cerita pendapat atau ingatan orang mengenai Indonesia. Tahun ini, Indonesia memasuki 75 tahun kemerdekaannya. Kalau dipikir-pikir, banyak sekali makna kemerdekaan yang dirasakan dari cerita-cerita unik pemikiran orang asik tersebut.
Kemerdekaan berarti mulai terbukanya berbagai daerah di Indonesia yang siap menyambut berbagai persaingan global.
Kemerdekaan bisa berupa keramahan dan keterbukaan warganya menyambut orang asing dan membuat mereka merasa diterima di rumah sendiri, tanpa kita perlu “merendahkan” diri di hadapan mereka.
Kemerdekaan juga bisa bermakna banyaknya karya-karya anak bangsa yang mendunia. Prestasi-prestasi putra-putri Indonesia yang terukir di semua bidang, mulai dari olahraga, musik, kuliner, sains, dan sebagainya.
Mungkin pertanyaan berikutnya, bagaimana cara kita mengisi kemerdekaan ini, sehingga Indonesia akan semakin terpandang di dunia internasional, tidak hanya dengan prestasi, tapi dengan keterbukaan pemikiran dan berpartisipasi sebagai warga dunia atau global citizen.
Bukan, ini bukan macam artikel-artikel detikhealth. Dan bukan semacam click bait pastinya. Ini cuma cerita untuk berbagi pentingnya olahraga untuk yang doyan traveling. Pure berbagi karena waktu itu Saya dan abang merasakan betulnya untungnya lagi rajin olahraga sewaktu kami sedang traveling.
Emang iya? Apa hubungannya?
Jadi begini….
Saya dan Abang punya tipe traveling yang agak unik. Kami suka sekali mengunjungi temple, reruntuhan kerajaan kuno, mengelilingi museum, dan berbaur dengan warga lokal di keramaian seperti pasar, plaza (suatu pelataran luas dimana banyak warga sekitar berkumpul), dan taman. Tidak jarang kami menemukan temple dan reruntuhan yang mengharuskan kami menaiki bukit yang tinggi, atau bersepeda di tengah hari bolong, atau sekedar kesasar ketinggalan bis.
Sewaktu kami ke Sri Lanka, tepatnya sewaktu kami hendak mengunjungi Sigiriya dan Dambulla, kami merasakan betul manfaat olahraga. Untuk mengunjungi Sigiriya dan Dambula, kami menaiki bus dari Pollonaruwa. Sigiriya ini merupakan icon negara Sri Lanka, dimana terdapat reruntuhan bekas kerajaan di atas sebuah bukit batu yang “dijaga” oleh 2 kaki singa tepat di bawahnya. (Si : Lion, Giriya : Rock. Or Lion Rock). Untuk sampai ke puncak bukit, kami harus berjalan melewati bekas-bekas peninggalan kerajaan yang sekarang sudah berbentuk seperti kolam-kolam. Setelah itu, kami mulai mendaki kaki bukit. Tracknya sih gampang, karena sudah disediakan tangga. Tapi, tinggiiii banget cuy!!!! Tenaga kami mulai tinggal setengah rasanya begitu sampai di kaki singa. Yup, masih harus naik lagi setelah kami menanjak sekitar 30 menit lebih (ya, diselingi foto-foto tentunya). Setelah foto-foto istirahat sejenak, kami pun bersiap untuk menaiki tangga yang lebih terjal dan bagian yang paling susah untuk sampai ke puncak. Total anak tangga yang kami naiki hari itu : 1200 anak tangga. Ha! Waktu itu, sebelum mengunjungi Sri Lanka, kami memang giat-giatnya berlari tiap minggu. Gak kebayang gimana kami bisa kuat sampai di atas kalau fisik lagi tidak kuat-kuatnya. Mana waktu itu jam 12 siang lagi. Haha! Tidak sedikit kami melewati orang-orang yang harus duduk di tengah tangga untuk mengatur nafas.
Bersiap menaiki puncak bukit Sigiriya
Setengah perjalanan : Lion Feet Statue
Disarankan sekali untuk istirahat di sini karena perjanalan berikutnya benar-benar menghabiskan nafas.
View from above. Great ruins with great view.
Yang bikin seru, perjalanan kami hari itu tidak hanya ke sigiriya, tapi juga ke Dambulla. Di Dambulla ini kami berencana untuk mengunjungi Dambulla Cave Temple. Sebuah buddha temple yang terletak di…..atas bukit juga! Kami tidak menyadari saat itu kalau kami harus menaiki bukit yang cukup terjal sebelum kami bisa masuk ke sebuah gua yang disulap menjadi temple dan masih aktif sampai sekarang digunakan untuk beribadah. Mana kami sempat salah jalan. Tampaknya memang ada 2 pintu masuk dan komplek Dambulla Cave Temple ini lumayan besar. Kami sempat harus menaiki tangga tingiii, untuk menuruni bukit yang agak terjal, sebelum menaiki lagi bukit dengan bantuan sekitar 200 anak tangga lagi. Betis dan paha dipastikan kebas hari itu. Di tambah, 1 hari sebelumnya, kami baru saja bersepeda seharian mengitari kompleks Pollonnaruwa Ancient City di bawah sengatan suhu 40 derajat. Hahaha! Mungkin, kalau ada yang mau mengunjungi 2 kota kecil ini, jangan di hari yang sama. Kecuali memang punya fisik yang kuat!
Menaiki bukit terjal…
Untuk sampai di sini….
Untuk bisa lihat ini….fiuh!
Banyak sekali pengalaman jalan-jalan kami yang lumayan menguras fisik. Misalnya saat kami harus bolak-balik dari pintu masuk ke tempat penitipan barang balik lagi ke pintu masuk saat kami mengunjungi The National Museum of China. Kami terpaksa harus keluar lagi dan menitipkan tongsis kami di tempat penitipan karena tongsis di larang masuk National Museum. Masalahnya….jarak tempat penitipan barang dari pintu masuk itu sekitar 500 meter! Yup, saking besarnya kompleks The National Museum of China itu. Belum lagi, setelah dari museum tersebut kami menghabiskan waktu di Forbidden City, yang kalau jalan lempeng ujung ke ujung sekitar 1KM. Sesampainya di hostel, Saya ingat saya menghabiskan sekitar 10Km jalan kaki hari itu sambil membawa tas berisikan macam-macam barang. Huft, untung sehat bugar ya..heheh!
Sejak saat itu, kami sering berpikir sendiri, seandainya waktu itu kami tidak sedang rajin-rajinnya lari / olahraga, mungkin perjalanan yang kami alami waktu itu bisa jadi tidak menyenangkan dan hanya melelahkan saja. Mungkin yang ada kami kebanyakan misuh-misuh (eh, ada sih, misuh-misuh kapan segala tangga ini berakhir), tanpa benar-benar menikmati perjalanannya itu. Jadi, mungkin olahraga bukan syarat utama sebelum melakukan traveling. Tapi olahraga bisa membantu kita mendapatkan banyak kisah menarik dalam suatu perjalanan. Yuk, olahraga! 🙂