When Strangers make you feel like home

Pasti semua traveler di dunia akan merasa bersyukur tiap bisa menemukan tempat yang bisa membuat dia merasa seperti di rumahnya. Apalagi kalau itu dirasakan karena bantuan dan dukungan orang lokalnya yang begitu ramah sampai kita merasa “pulang” tiap kita bertemu dengan mereka.

Saya benar-benar masih merasa bersyukur sampai saat ini bisa menginap 3 minggu lebih di wisma duta besar Indonesia untuk belanda di Berlin pada tahun 2010. Saat itu saya yang ikut dengan Dona yang akan berlebaran bersama keluarganya dan kebetulan ayah Dona adalah duta besar yang saat itu sedang menjabat. Jadilah saya menginap bersama keluarga kedutaan dan staffnya. Nah, selain keluarganya Dona yang sangat heart-warming menyambut saya, staff-staff kedutaan ini lah yang membuat saya lebih merasa di”rumah”. Setiap harinya, saya tidak pernah tidak ke dapur. Selain kalau mau keluar saya lebih suka lewat pintu belakang dan mengambil makanan terlebih dahulu (hehe), saya pun bisa bertemu dengan staff kedutaan di sana. Biasanya dari para supir dan ibu-ibu istri diplomat itu lah saya mendapatkan banyak tips dan trik untuk jalan-jalan. Bahkan banyak yang memberikan saya bekal waktu itu, hohoho! Waktu itu pun saya diantarkan ke daerah B5 oleh keluarganya Dona, untuk ke premium outlet di sana…and i’m such a lucky kid, since that place is faaaaar faaar away…(plus, habis itu makan sushi gratis! hahahay!)

Sewaktu saya ke Jeju pun, saya menginap di Hostel yang pemiliknya benar-benar ramah sehingga kita merasa di rumah. Saat itu saya menginap di Lefthander Guesthouse. Pemiliknya keluarga muda yang memiliki anak-anak lucu. Saat itu, walaupun kita datang pagi-pagi, tapi kita tetap check-in agak telat karena kita mau langsung jalan-jalan dulu. Nah, walaupun saat itu kita selesai beres-beres jam 11an malam, si pemilik tetap dengan ramahnya nemenin kita keliling guesthousenya dan ngobrol-ngobrol! Udah gitu, begitu dia tau kita akan berangkat pagi-pagi subuh untuk mengejar sunrise di Soengsan ilchulbong, dia pun sudah siap di depan rumah menyambut driver kami waktu itu. Padahal itu jam 4 subuh! Bahkan dia menyarankan untuk kembali ke hostelnya setelah menyaksikan sunrise sebelum check-out agar kami sempat berbersih dan menyantap sarapan (yang kedua kalinya). Saat kami check-out pun, satu keluarga pemilik lefthander pun mengantarkan kami sampai ke depan gerbangnya, lengkap sambil dada-dadah. Meskipun cuma semalam, sedih juga deh ninggalin mereka.

Pengalaman tak terlupakan tentang kebaikan orang yang tidak pernah Saya kenal sebelumnya banyak terjadi di Sri Lanka. Saat itu Saya dan Abang akan menaiki kereta dari Colombo ke Anuradhapura. Saat itu kami datang cukup mepet dengan jam keberangkatan. Sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat, kami sedang berusaha untuk “memecahkan” tulisan bulet-bulet Sri Lanka. Setelah beberapa menit, kami pun duduk di nomor kursi yang tertera, di gerbong paling belakang. Tidak beberapa lama, datang sepasang orang yang hendak duduk tepat di kursi yang sedang kami duduki. Jujur, waktu itu kami sudah berpikir jelek, “wah, dasar negara berkembang, jangan-jangan pengaturan kursi saja tidak benar!” Namun, tiba-tiba ada seorang bapak yang mendekati jendela kami dan meminta tiket kami untuk dibacakan dari luar. Lagi, saya su’udzon, takut tiket kami digondol dari luar. Tapi, pasrah, Abang memberikan tiket kami untuk dibacakan bapak tersebut. Ternyata, kata bapak-bapak tersebut kami salah gerbong! Setelah diajaknya kami keluar, dia ajari kami cara membaca tiket kereta, dan ternyata…gerbong kami seharusnya ada di gerbong paling depan! Waduh! Dengan kondisi kereta yang akan berangkat kurang dari 5 menit lagi, kami lari sekencang-kencangnya lewat luar kereta ke arah gerbong paling depan. Sengaja kami berlari dari luar, karena di dalam kereta gerakan lambat banget karena banyak orang berdesak-desakan. Mikirnya, kalo udah bunyi peluit, baru deh masuk ke keretanya. Tepat sebelum kereta mau jalan, kami akhirnya berhasil duduk di kursi kami seharusnya. Sedang mengatur napas, tiba-tiba dari jendela ada yang mendekati. Dan itu ternyata bapak-bapak tadi dooong! He just walked all the way from the last car to the front, just to make sure that we got the right seats! Padahal, bapak itu juga hanya pengunjung biasa. Mungkin mengantarkan keluarganya atau menunggu kereta berikutnya. Tapi, usahanya itu bener-bener bikin Saya malu dengan negative thinking yang Saya punya sebelumnya.

Tidak hanya itu, Sri Lanka ternyata penuh dengan orang-orang baik yang ramahnya gak ketulungan kaya berasa di rumah sendiri.  Pernah saya iseng bertanya ke mbak-mbak kasir minimarket, bus apa yang harus kami ambil dari Polonnaruwa ke Sigiriya dan Dambulla. Mbaknya mungkin jarang naik bus ke 2 tempat tersebut, makanya dia kurang tau awalnya. Tapi, gak berapa lama, dia langsung telepon temennya pakai hpnya sendiri, bicara lama, nanyain secara lengkap bagaimana pergi ke 2 tempat tersebut menggunakan bus, dan menuliskan dengan lengkap langkah-langkahnya. Tidak hanya itu, seorang bapak-bapak pengunjung minimarket yang sedang mengantri pun ikut membantu untuk menjelaskan bagaimana agar kami besok pagi bisa ke sigiriya-dambulla dan kembali lagi ke Polonnaruwa. Bahkan, saat besoknya kami kembali ke minimarket tersebut, si mbaknya nanyain ke Saya dan Abang, apakah berhasil ke Sigiriya-Dambulla. Ya ampun, intinya selama di Sri Lanka, kami tidak henti-hentinya terharu mendapatkan kebaikan dan keramahan orang-orang sana. 

Di saat kita berada di tempat yang asing, baik itu sedang traveling maupun business trip, rasanya susah mempercaya orang asing. Rasanya kita harus terus-terusan bergantung pada diri sendiri untuk survive. Tanpa kita sadari, kadang kita kebingungan dan capek, yang biasanya berimbas ke mood yang jadi drop. Makanya, saat kita jauh dari rumah, sedang capek-capeknya atau bingung, mendapatkan bantuan dari orang lokal yang tidak kita kenal itu rasanya seperti diterima dengan tangan terbuka sambil berkata, “Hi, welcome to our home. Don’t worry, we’ll take care of you till you feel like you’re home” . It is indeed a good feeling. So, why don’t we start to do the same ?

Leave a comment