Brussels, Day 2 : Hop on, Hop off

Hari kedua di Brussels. Kali ini Dior dan Mas Kamal sudah bergabung untuk menikmati kota Brussels.

Atas saran gw dan dona, kami pun kembali sightseeing. Tiket gwe dan dona masih berlaku, sementara dior dan mas kamal harus membeli dengan harga normal, 18 euro. Kali ini, kami pun memutuskan untuk turun di beberapa tempat, foto-foto, lalu naik lagi ke bus dari perusahaan sightseeing yang sama. Sesuai dengan judul programnya, sightseeing Hop on – hop Off!

Pertama-tama kami turun (hop off) di Brussels monument to Belgian infantry. Disini kami bisa melihat pemandangan kota Brussels dari atas karena letaknya yang memang agak tinggi.

First Hop Off!

Hanya foto-foto sebentar, kami pun naik lagi (hop on) untuk menuju tempat berikutnya, Cinquantenaire Park yang terletak di dekat Jubelpark.

Nah lo, ko mirip Brandenburger Tor di Berlin?!

Karena waktu agak mendesak, kami pun memutuskan untuk turun  lagi baru di Atomium. Atomium adalah salah satu monument yang berbentuk seperti Atom dan merupakan simbol dari World’s Fair dan juga merupakan simbol modern architecture Brussels. Awalnya, atomium ini dibangun untuk membentuk Menara Eiffel secara terbalik.

with Dior (Dona's brother) and Dona...and Atomium!

Di dekat Atomium, ada Brupark, sejenis amusement park.  Yah, permainannya sih kebanyakan untuk anak-anak dan terdiri dari restoran-restoran keluarga. Tapi yang membuat Brupark cukup ramai dikunjungin orang adalah Mini Europe! Gwe gak sempat masuk ke Mini Europe karena keterbatasan waktu….tapi intinya, di mini Europe ini kita bisa melihat icon-icon pariwisata Eropa dalam ukuran kecil.  Cukup mahal juga tiket masuknya, sekitar 13 euro. Tapi sebenarnya dengan memiliki tiket Hop On Hop Off  Sightseeing kita bisa mendapat potongan sebesar 4 euro. Yah, lumayan sih..sayang masuk ke Brupark memang sudah sore, jadi takut gak ngejar karena masih mau ke Grote Markt/Grand Place.

Karena Dior dan Mas Kamal belum sempat ngunjungin Grand Place, jadi lah kami mampir ke sana sebelum pulang. Sebenarnya, tujuan kesini adalah belanja! Dior dan Mas Kamal tertarik dengan toko-toko yang kemarin gwe dan Dona kunjungi. Jadilah gwe dan Dona meraba-raba toko yang kemarin kami masuki, padahal jelas-jelas kemarin kami sengaja menyasarkan diri. Dengan beberapa patokan dan mengingat-ingat rentetan kejadian, dapat juga toko yang kami cari. Weleeh…

Setelah puas belanja, kami pun ingin mencoba salah satu makanan khas kota brussels, Kerang Rebus! Gwe juga bingung, kenapa kerang hijau yang direbus sekenanya dengan bumbu dasar sup ini digandrungi banyak orang. Setiap restoran yang kami lewati di Grand Place semuanya menyediakan masakan ini. Harganya pun termasuk murah, hanya dengan 8-10 euro, kita sudah dapat makan sepanci besar kerang hijau rebus, sepiring kentang goreng, dan segelas minuman (yang biasa ditawarkan adalah wine, tapi kita juga bisa meminta air putih sebagai gantinya). Karena banyak, dengan harga segitu kita bisa makan berdua! 😀

Mas Kamal siap menyantap sepanci besar kerang hijau! 😀

Karena waktu itu hari Sabtu, Grand Place sangat ramai! Berbeda sekali dengan kemarin gwe dan Dona kunjungi. Stand-stand yang menjual berbagai macam barang didirikan. Dan di tengah-tengah dipasang panggung yang ntah buat apa, yg jelas bukan dangdutan! kita lihat saja besok 😀

….to be continued!

Brussels, Day 1 : Sleeping while Sightseeing

Here we go, Brussels!

Setelah pusing dengan urusan harga tiket ke kota-kota eropa lainnya, secara random gwe dan dona pun memutuskan untuk ke Brussels! Benar-benar pilihan yang sama sekali di luar rencana! 😛

Rencananya, pagi-pagi gwe dan dona pergi duluan. Lalu malamnya Dior dan Mas Kamal akan menyusul. Berangkat dari rumah jam 5, karena menurut jadwal pesawat berangkat sekitar pukul 7. Eerrgh, bahkan di luar masih sangat gelap saat gwe dan dona diantar mas kamal ke airport.

Sesampainya di Brussels, kami pun langsung diantar ke wisma kedutaan di Brussels. Rencananya kami memang akan diberikan apartemen yang connected dengan wisma tersebut. Daaan…itu yang namanya wisma kedutaan, besaaar bangeet!! Rumahnya aja kayaknya cuma ditempati setengahnya saking besarnya. Belum lagi ternyata tanah lapangnya masih sangat luas. Kami dijamu sarapan oleh ibu dubes RI-belgia di bagian rumah yang seperti rumah kaca, sehingga sinar matahari langsung menembus dari langit-langitnya. Dan ternyata, yang namanya apartemennya benar-benar seperti apartemen. Lengkap dengan dapur kecil, meja makan, ruang tamu, 2 kamar tidur, dan kamar mandi. Lucunya, di kamar mandinya tidak tersedia WC. Nah loo?? Ternyata, WCnya terpisah di ruangan yang terpisah dimana memang dikhususkan untuk WC. Hahaha, unik!

Setelah sarapan dan ngobrol-ngobrol sebentar, gwe dan dona pun diantarkan jalan-jalan. Kami didrop di daerah yang bernama Centrum yang rupanya pusat pariwisata brussesls.

Dari Centrum, kami bisa ke Grote Markt / Grand Place, sebuah pelataran luas yang dikelilingi bangunan-bangunan tipe gothic

Suasana di Grote Markt / Grand Place

Dari Grote Markt (Grand place, dalam bahasa Perancis. Tapi karena gwe lebih bisa bahasa Jerman yang agak mirip Bahasa Belanda, gwe pun lebih suka menggunakan istilah Belandanya), kami bisa langsung ke Patung elus (gak tau namanya) dimana katanya kalau mengelus patung tersebut, kita akan kembali lagi ke Brussels

Kita lihat apakah Dona akan kembali ke sini setelah mengelus si patung 😀

Menyusuri jalan secara lurus saja dari patung elus, gwe dan dona pun sampai ke icon kota Brussels, Mannekin Pis. Patung anak kecil pipis yang entah bagaimana bisa terkenal dan dijadikan tujuan utama pariwisata kota Brussels.

Padahal kecil banget, gak pentiiing..

Yang menarik dari daerah situ adalah jalan-jalan kecil yang meliuk-liuk mengantarkan kita entah kemana. Meskipun gwe dan dona sudah membeli peta, kami pun dengan sengaja jalan-jalan semau hati tanpa melihat peta terlebih dahulu. Setelah bingung mau kemana lagi, baru lah kami melihat peta dan melihat dimana letak kami lalu menentukan kemana selanjutnya.

Begini nih bentuk jalan di sekitar Grote Markt

Sampai akhirnya membawa kami kembali ke centrum. Karena awalnya gwe ada rencana mau ke Amsterdam, gwe dan dona pun mengecek jadwal keberangkatan kereta ke Central Station yang memang ada di centrum. Secara tidak sengaja, kami pun melihat bus yang bertuliskan Sightseeing. Secara random (lagi) kami pun memutuskan untuk mengikuti tour sightseeing Brussels. Untungnya, kami ditawari tiket seharga 15 euro, dimana harga tiket sebenarnya adalah 18 euro. Selain itu, tiket tersebut juga berlaku selama 24 jam. Jadi kami pikir, daripada hari ini gak kemana-mana krn tidak tahu apa saja yang harus kami lihat, mending kami ikut tour itu. Toh tiket yang kami beli akan masih berlaku sampai besok saat Mas Kamal dan Dior sudah datang.

Karena kami berpikir kalau besok dior dan mas kamal juga akan ikut tur, gwe dan dona pun memutuskan untuk benar-benar hanya sightseeing tanpa turun sama sekali di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Jadi ya….kami benar-benar hanya duduk di atas bis, menikmati pemandangan, dan menyusuri kota Brussels yang ternyata sangat kecil. Kami duduk di tingkat dua dimana angin sepoy-sepoy berhembus……sehingga akhirnya kami tertidur! Sightseeing pun hanya bertahan selama setengah perjalanan karena sisa perjalanan kami pakai buat tidur. Tampaknya hanya kami berdua penumpang bus sightseeing yang tertidur selama tur. Ahahaha!

Menikmati Sightseeing…..atau menahan kantuk? 😛

….to be continued.

Day 11 : another Palace, Germany’s Windmill, and September’s October Fest

Jalan-jalan sendiri tahap kedua. Tujuan hari ini adalah : Park Sanssouci – Wannsee – October Fest at Alexander Platz

Karena Park Sanssouci sangat luas dan pastinya menghabiskan banyak waktu di sana, gwe pun memutuskan untuk ke sana terlebih dahulu sebelum ke wannsee. Dua tempat itu memang searah, sehingga memang mudah untuk dijadikan satu tujuan.

Menuju Park Sanssouci sebenarnya cukup mudah jika dari wisma. Tinggal naik S1 arah ke Wannsee / Zehlendorf dan melanjutkan dengan S7 di wannsee (di antara itu ada tempat dimana kita harus mengganti kereta S1 kita, tapi gwe lupa tepatnya dimana, waktu itu aja untung dengar dari pengeras suara ). Dan S7 ini lah yang akan mengantar kita ke Potsdam Hbf. You know what?? I just realized that I went to different city when I just arrieved at Potsdam Hbf. Ahahaha! Turun dari kereta, dengan PDnya lagi, gwe pun melangkah keluar dari stasiun dan menunggu di Halte. Setelah menunggu sekitar 10 menit, gwe baru nyadar kalau Halte itu terlalu sepi untuk tujuan ke Park Sanssouci. Stelah gwe cek lagi, benar saja, halte tersebut tidak dilewati oleh bis yang mengarah ke tujuan gwe! Hahahay….Setelah gwe tanya dengan petugas informasi turis (yg harusnya gwe lakukan sejak awal), ternyata harusnya tadi gwe belok kiri, bukannya belok kanan untuk mengarah ke halte yang benar. Gak nyasar koo..cuma salah arah! 😛

Just a peek to know how Potsdam city looks like

Menuju Park Sanssouci, gwe pun melewati kota Potsdam terlebih dulu. Untunglah tempat duduk di bis gwe pas di samping jendela, jadi gwe pun bisa menikmati pemandangan yang….ehm, tidak ada apa-apanya! Ck! Ternyata kota Potsdam sama sekali minim tempat lihat-lihat. Bangunannya memang seperti bangunan kuno, banyak café-café dipinggir jalan, dan beberapa gedung (yang tampaknya) bersejarah. Selebihnya? Ya tinggal Park sanssouci itu saja.

Sesampainya di sanssouci, gwe pun disambut dengan…windmill!

Gak perlu jauh-jauh ke amsterdam rupanya 😀

Dan Schloss Sanssouci tentunya…

Another Schloss 😀

Dengan pemandangan dari istana yang seperti ini…ini lah Park Sanssouci

Sebagian super kecil dari Park Sanssouci

Istana pun terlihat sangat megah dilihat dari Park Sanssouci

Awesome, isn't it?

Ternyata Parknya sangat-sangat luas! Sebenarnya terlihat seperti hutan jika dilihat dari atas, tapi saat menyusurinya, kita pun seperti masuk ke dalam maze raksasa. Bedanya, kalau di maze kita berusaha mencari jalan keluar, di sini kita berasa semakin ingin masuk ke dalamnya. Karena tiap jalan yang kita ambil bisa mengantar kita ke tempat-tempat yang menarik! Sebenarnya, butuh sepeda atau waktu yang sangat panjang untuk mengeksplor semua yang ada di Park Sanssouci, karena selain windmill dan istana, ada juga bangunan-bangunan bersejarah lainnya. Tapi karena keterbatasan waktu, gwe pun memutuskan untuk naik ke dalam Windmill!

Puas dari Sanssouci, gwe pun melanjutkan perjalanan ke Wannsee. Tentunya perjalanan lebih mudah karena tinggal naik kereta yang sama dengan perginya tapi balik arah. Turun di stasiun Wannsee, dan tinggal melanjutkan naik bis yang memang jalurnya berputar dan balik lagi ke stasiun awal, jadi tidak kan nyasar salah arah! 😀

Gwe memutuskan untuk ke Grosse Wannsee dengan pemikiran, sekalian saja ngeliat yang besar! Tapi begitu sampai, ehm…..ko tidak menarik ya?? Kaya di Marina Bontang aja deh. Sebenarnya, cara menikmati Wannsee adalah dengan berpesiar dengan kapal dan menyebrang ke pulau merak. Bah, no time for that…Padahal penasaran juga gwe dengan pulau merak.

Tapi memang termasuk tempat yang menarik untuk merenung 🙂

Di wannsee gwe tidak terlalu menghabiskan banyak waktu karena memang berniat melanjutkan perjalanan ke Alexander Platz untuk melihat October’s Fest yang katanya sedang diadakan di sana. Lah, masih bulan September kenapa bisa ada October’s Fest coba?? Karena October’s fest termasuk ciri khas jerman, gwe pun rela menempuh perjalanan yang bisa dibilang dari ujung ke ujung dengan bus menuju Alexander Platz. Gwe memang sengaja memilih menggunakan bus karena selain bisa melihat-lihat kota, cukup 1 bus saja yang perlu gwe naiki 😀

Ternyata October’s festnya diadakan di dalam tenda yang dibangun di tengah-tengah Alexander platz. Tampaknya yang diadakan waktu itu hanya lah pre-eventnya, karena berbeda dengan yang selama ini gwe tau. Gak ada cewek-cewek dengan pakaian tradisional jerman. Adanya cowok-cowok dengan pakaian tradisional jerman…halah! Tapi memang benar, ternyata ini adalah pre eventnya..tapi apa bedanya coba??orang gelas birnya sama-sama besar!

October Fest 's Pre Event

….to be continued

Day 10 – “Gak nyasar ko, Cuma salah arah!”

Berhubung si Dona hari itu gak mau ikutan jalan, dan gwe merasa rugi kalau tidak menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sementara waktu pulang makin mendekat, jadilah gwe memutuskan untuk jalan-jalan…sendiri! Dengan hanya bermodal peta S+U bahn dan nekat, gwe pun melangkah dengan PDnya keluar rumah tanpa tahu apa yang bakal gwe hadapi kedepannya.

Tujuan gwe hari itu adalah : Schloss Charlottenburg – DDR Museum – Alexander Platz

Pertama, Schloss Charlottenburg. Ehm…..gak nyasar ko, Cuma salah arah aja. Haha! Jadi, tampaknya saya turun di stasiun yang salah dan dengan bodohnya baru sadar kalau gwe membutuhkan peta. Lucunya, sebelum membeli peta kota, gw tetep aja dengan PDnya melangkah semau gwe. Hingga akhirnya gwe menemukan toko yang menjual peta kota Berlin. Dan ternyata gwe salah arah…justru dengan suka relanya gwe menjauhi Schloss Charlottenburg. Setelah muter-muter selama 1 jam, dan setelah menyusuri jalan yang benar selama 30 menit, akhirnya sampai juga gwe di Schloss Charlottenburg.

Schloss Charlottenburg

Schloss Charlottenburg dulunya adalah tempat tinggal raja pada abad 17 dan merupakan istana terbesar di Berlin.  Pada saat PD II, istana ini sempat runtuh dan akhirnya dipugar sehingga sekarang dapat berdiri tegak seperti layaknya dulu dan bisa kita masuki. Biaya masuk ke istana ini adalah 7 euro dan jika mau foto-foto di dalam dikenai biaya tambahan 3 euro.  Sebenarnya memang mahal, tapi daripada setelah jalan 1,5 jam gwe tidak mendapatkan bukti apa-apa kalau pernah ke Schloss Charlottenburg, jadi lah gwe dengan rela merogoh kocek dan menghabiskan sebesar 10 euro.

Setelah dari Charlottenburg, gwe pun mengarah ke pusat kota untuk mencoba melihat bagaimana DDR museum. Sempat berhenti sebentar di zoo untuk makan (baru sadar kalau belum makan dari pagi, pdhl itu sudah jam 4 lebih) dan ganti bis. Untuk ke DDR museum, gwe sengaja turun di depan Berliner Dom untuk menikmati pemandangan melewati jembatan.  DDR museum ternyata terletak di bawah jalan tepat dipinggir sungai.  Awalnya gwe ragu apa lebih baik masuk atau tidak, karena tampaknya biasa saja. Tapi karena keburu sudah penasaran, jadilah gwe merogoh kocek sebesar 3 euro….dan ternyata tidak ada apa-apanya! Ck! Isinya cuma tentang kehidupan jerman di tahun 70an…deh, rugi dah!

That 70's car!

Setelah dari DDR, gwe pun sengaja jalan kaki menyusuri Nikolaiviertel,tempat dimana Berlin pertama kali berkembang..

Pelataran Fernsehturm,

dan keluar di Alexander Platz.

Ternyata lagi ada acara pembukaan October Fest!

Bingung juga sebenarnya mau ngapain di Alexander Platz. Tadinya mau nyari club jazz, tapi lupa tepatnya letaknya dimana. Setelah duduk-duduk sambil memperhatikan sekitar selama kurang lebih 1 jam, gwe pun pulang.  Ternyata, bis menuju rumah lebih gampang! Karena ternyata bis yang dipakai cuma 1 bis dan langsung mengantar gwe ke halte di dekat rumah. Nah, gak nyasar kan??? 😀

… to be continued.

Day 9 : Ancient Rome & Greek, Pharaoh, and Mummys

Hari ke-9!!

Altes Museum, one of the museum at the Museuminsel

Gwe kali ini ngotot pengen masuk ke museuminsel. Sebuah kawasan museum yang terdiri dari gabungan-gabungan salah satu museum besar di dunia. Museum yang paling terkenal dari kawasan museum ini adalah Altes Museum (old museum) dan Neues Museum (Old Museum). Hari itu gwe dan dona pun berencana masuk ke 2 museum tersebut. dan sayang sekali mas kamal yang sebenernya juga pengen banget masuk gk bisa ikutan karena punya tugas dari pak dubes. Wie schade, mas! :))

Kami cukup membayar 7 euro untuk masing-masing orang dan mendapatkan tiket terusan untuk seluruh museum yang ada disitu. Sayang, kami berangkatnya udah siang, sehingga memang gak cukup waktunya untuk memasuki semua museum. Untung 2 museum utama tersebut berhasil kita masuki.

Inside the Altes Museum

Memasuki altes museum, kita akan disambut dengan ruangan oval dimana terletak patung-patung dewa yunani yang seolah-olah sedang berkumpul untuk membahas sesuatu.  Di Altes Museum sini, kita bisa melihat peradaban romawi dan yunani kuno. Mulai dari kehidupan sehari-harinya, sampai ke para raja-rajanya.  Mulai dari benda sehari-hari yang digunakan sampai sarkofagus berukir sangat indah sebagai peti mati. Gak habis pikir, hanya untuk orang mati saja peti matinya benar-benar terukir indah dan memiliki cerita.  Bagian terkocak, ada satu ruangan yang disebut dengan ruangan cinta. Dan isinya adalah benda-benda seni yang menampilkan adegan bersetubuh dengan aneka gaya 😀 Uniknya, banyak gwe jumpai gambar-gambar adegan seks sesama jenis, khususnya pria sama pria. Halah!

Setelah puas di Altes museum, kami pun menyusuri gerimis ke Neues Museum. Untuk masuk ke Neues museum ini pengunjung yang sudah memiliki tiket untuk semua museum, diharuskan meminta tiket khusus untuk masuk ke neues museum. Di museum yang satu ini, pengunjung dibatasi hanya boleh berada di dalam selama 1,5 jam.  Mungkin karena termasuk museum baru di kawasan sini dan pengunjung pun masih sangat ramai.  Sebagai tambahan, Neues Museum memberikan fasilitas headphone yang bisa kita pakai untuk mendengarkan penjelasan mengenai barang-barang yang ada.

Di Neues Museum kita bisa melihat peradaban mesir kuno. Disini lebih diperlihatkan patung raja-raja mesir,

Listening to the explanation of the King’s statue

batu-batu besar yang digunakan sebagai dinding dulunya dan diukir tulisan-tulisan mesir kuno (gambar-gambar seperti yang biasa ditunjukkan di film),

Bisa baca tulisan yang ada di belakang dona??kaya di film Mummy Return deh 😛

dan tentu saja yang paling ramai dikunjungi orang, peti mummy!

Hmm..muminya sebesar apa ya??

Gwe bingung, kenapa sih peti mati zaman dulu harus seukuran raksasa? Apa mungkin memang manusia zaman dulu seukuran segitu? Mungkin, untuk ukuran tinggi sudah pas, tapi peti mati yang gwe liat benar-benar besar dan dalam. Kaya bak mandi gitu…Dan gwe pun melihat mumi bayi…hii!

Setelah puas dari neues museum, sambil menunggu waktu, kami pun memasuki National Gallery. Seperti halnya national gallery pada umumnya, di sini kita dapat melihat lukisan-lukisan. Tapi tampaknya yang dipajang disini adalah lukisan karya-karya pelukis terkenal Jerman. Sebenarnya gwe kurang suka dengan lukisan-lukisan, tapi karena disini juga dikasi headphone untuk mendengarkan penjelasan beberapa lukisan, gwe pun cukup menikmati memandangi lukisan sambil mendengarkan maksud dari lukisan tersebut.

National Galery, dalam kawasan Museuminsel

Sekitar pukul 5, gwe dan dona pun dijemput mas kamal (sayang sekali mas kamal gk bisa ikut masuk ke museum, padahal dia juga pengen 😛 ), dan melanjutkan perjalanan ke kaarstadt, ku’damm karena dona n mas kamal mau nyari parfum…weleh!

…..to be continued