Perenungan dari atas awan

Aku duduk di antara rangka-rangka besi
Rangka-rangka yang dapat melayang tinggi
Menari di antara awan

Hanya laju yang sama, itu yang kurasakan
Tapi tiap detiknya kulewati lembaran-lembaran awan
Bertumpuk
Melayang
Bermain petak umpet di tiap-tiap sudut
Di suatu perkarang berwarna biru jernih
Lembaran-lembaran itu sering mengantarku bermimpi
Bermimpi menggenggamnya
Bermimpi memainkannya
Lembaran demi lembaran

Hingga waktu yang jujur memberikan detaknya
Lembaran menyingkap
Menunjukkan bayangan memikat
Suatu keindahan yang daritadi mendesak untuk melesak

Hingga ia pun menyembul
Malu-malu,tapi memikat
Menantang dengan apa yang sebenarnya ia miliki

Dan ia muncul dengan cakar-cakarnya
Menancap langit,merobek lembaran awan
Perlahan namun tegas,begitu tegas
Kaki-kakinya menancap
Tidak ragu pada genangan raksasa yang mengancam
Justru ia lah yang merajah genangan itu
Penuh kharisma
Penuh wibawa
Penuh pesona hingga rangka-rangka kecil mengapung mendekat ke setiap lekukannya

Rangka besi ini terus melayang
Melewati cakar-cakar yang mengoyak dengan lembut
Kaki-kaki penu pesona merajah genangan raksasa
Ah,syukurlah kali ini aku tidak kalah oleh buaian mimpinya….

Bandung,10 januari 2010
On duty during IECOM first eliminary round as a Liaison Officer

Technicolor – Paloma Faith

Once upon a time my friends it feels like yesterday
I was living lonesome in a world of disarray
Everything was black and white,there wasn’t even gray
And every morning waking up on Groundhog Day

It was all in monochrome,without the light,
Just like a silver screen you walked into my life

You taught the stars to light up what was dark
I found the light saturated in your charm
We kiss the sky and dance across rainbows
Now it’s all in technicolor with you

I lived in the blackest house with seven pure white cats
The bleak eyed look of every day hidden deep inside my hat
The notes on the piano now remind me of my past
And now you’re here right by my side,I hope that we will last

It was all in monochrome,without the light,
Just like a silver screen you walked into my life

You taught the stars to light up what was dark
I found the light saturated in your charm
We kiss the sky and dance across rainbows
Now it’s all in technicolor with you

Yellow,orange,pink,green and blue
Let’s paint the town,darling us two
You bring your pallet and I will sing the sub bar
We’re just two birds of a feather

You taught the stars to light up what was dark
I found the light saturated in your charm
We kiss the sky and dance across rainbows
Now it’s all in technicolor with you

You taught the stars to light up what was dark
I found the light saturated in your charm
We kiss the sky and dance across rainbows
Now it’s all in technicolor with you

Now it’s all in technicolor with you

Sweet, eh? How love can change your life.  From the monochrome one to be not only colorful but also technicolor one..;)

By the way, this song is used in Samsung Corby ‘s Commercial

Here is the song…enjoy!

Mesin Waktu Bernama Blog

Baru saja blog walking ke blog gwe sendiri yang dulu pernah gwe pake tp sekarang udah gk aktif.  Satu di Friendster, yang gk mungkin aktif lagi krn accountnya aja udah gwe matiin.  Satu lagi di blogspot, sebenernya masih bisa gwe isi2, tp kayaknya gwe lagi memilih WordPress untuk gwe tumpahin kata-kata dalam otak, hati dan jiwa gwe.

Saat baca-baca itu, gwe bisa melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada gwe.  Dalam hal pola pikir tentunya. Dalam hal pemecahan masalah, dalam hal menjalankan hidup dan menghadapi segala hal yang diberikan di dalamnya.  Kesedihan, kebahagian, kebencian dan gwe sendiri yang berperan sebagai pemeran utama dalam film yang selalu bertajuk itu-itu saja, “hidup”.

Gwe lihat bagaimana waktu sma gw menulis dengan bahasa-bahasa khas anak remaja pada jamannya.  Bagaimana gwe memecahkan masalah khas anak remaja pada jamannya.  Bagaimana emosi masih meluap-luap, belum mengerti ada 2 alat utama untuk memecahkan masalah, Logic dan Hati.  Semua masalah gwe hadapi dengan satu cara, Emosi.

Perubahan cukup terlihat saat gwe menginjak usia 17 tahun.  Emosi surut, ada unsur ketenangan dalam pola pikir gwe.  Gwe sudah mulai mengenal 2 alat utama pemecahan masalah itu.  Meskipun masih salah satu yang menonjol, hati, tp paling tidak sudah tidak ada lagi emosi yang terlalu meletup-letup.  Gwe sudah bisa melihat sikap apa yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia, bisa menentukan sifat apa yang harus dimiliki untuk menghadapi segala rintangan yang akan segera gwe hadapi.  Tapi harus gwe akui, logika gwe tidak berjalan dengan semestinya.  Belum bisa gwe mengontrolnya, semua tertutup oleh segala keindahan yang hati tawarkan. Tertutup seperti kabut, hingga gwe menginjak 18 tahun dan mengenal dunia yang bernama “kuliah”

Disini lah gwe pertama kali bertemu banyak orang baru yang membawa film “hidup”nya masing-masing.  Tentu dibutuhkan keahlian lebih untuk membuat film bertajuk “hidup” secara bersama-sama dengan bekal yang berbeda.  Disinilah pola pikir gwe berubah lagi.  Kalimat-kalimat dalam blog gwe lebih dewasa, gak ada lonjakan emosi yang mendadak dan berubah-rubah cepat. Gwe sering menulis puisi, bukan umpatan-umpatan hati yang tidak memungkinkan orang lain untuk mengerti maksudnya.  Gwe sering brain storming tentang perasaan yang gwe hadapi dan kejadian dalam hidup yang sering gwe temui.  Logic dan hati bermain secara harmonis, berganti-gantian saling melengkapi.

Meskipun sering membutuhkan waktu untuk diri sendiri, tp gwe termasuk orang yang ekstrovert.  Karena itu, blog gwe, micro maupun macro, Friendster, Blogspot, WordPress ataupun Twitter akan memperlihatkan bagaimana gwe sebenarnya. Blog adalah muka gwe, otak gwe, dan representasi hati gwe.  Karena itulah, perkembangan tiap episode film “Hidup” gwe bisa dilihat dengan jelas pada tiap kata yang gwe tulis di blog.  Benar-benar seperti mesin waktu…