The Book Of Eli

Sudah lama mau nonton film ini, tapi baru kesampaian beberapa hari yang lalu.

Memang sudah seperti kewajiban rasanya untuk nonton film-film Denzel Washington. Sampai sekarang setelah menonton hampir semua filmnya, gwe masih terheran-heran dengan kemampuan aktingnya.  Meskipun film yang dimainkan memiliki cerita sederhana atau sudah ada beberapa film lainnya yang menceritakan hal yang sama, tapi karena adanya Denzel Washington film tersebut akan menjadi luar biasa

Begitu juga dengan The Book of Eli.  Awal-awal cerita gwe masih kurang mengerti apa yang terjadi di Bumi. Semua seperti hancur, gersang, dan kehidupan yang tersisa sangat mengenaskan.  Orang-orang saling merampok, membunuh, bahkan terpaksa memakan daging manusia saking susahnya makan.  Sempat diperlihatkan ada lubang besar di permukaan tanah, kendaraan-kendaraan perang yang hangus dipinggir jalan.  Apa mungkin film ini menceritakan apa yang terjadi pada bumi jika kita terus berperang? Atau ada suatu ledakan besar, karena meteor mungkin?gwe pun menonton dengan sabar. Hingga tiba seperempat film, masih tidak jelas kemana alur cerita. Gwe pun mulai bosan. Tapi, lagi-lagi harus gwe bilang karena Danzel, semakin lama film diputar,semakin banyak ia muncul pada film, semakin menarik film tersebut.

Keep Reading !

Saksi bisu zaman bernama Sumber Hidangan

Untuk orang yang telah tinggal di Bandung sejak tahun 2006 lalu, mungkin termasuk telat untuk baru secara gamblang memperhatikan dan menceritakan tentang Sumber Hidangan.

Seperti yang udah banyak orang tau, Buaaanyaaakk orang tau, Sumber Hidangan adalah sebuah toko Roti dan kue yang telah buka dari 1929. Hampir seumur sama ITB.  Terletak di Jalan Braga, zaman itu Sumber Hidangan adalah Cafe yang tersohor, tempat nongkrongnya kalangan atas, didominasi oleh kalangan Belanda. Apa yang terjadi dengan Sumber Hidangan sekarang??

Beberapa waktu yang lalu, gwe dan mama iseng jalan-jalan menyusuri jalan braga.  Dan tentu saja kami mengunjungi Toko Roti Sumber Hidangan. Adakah perubahan berarti sejak tahun 1929? dari foto yang gwe lihat terpampang di sana, jawabannya, tidak ada. Atau sangat minim sekali.
Roti-roti diletakkan di lemari-lemari kuno, bahkan furniture di sana terlihat seperti furniture tahun 70-80an.  Nih, beberapa foto yang berhasil gwe ambil

Kue-kue Sumber Hidangan
Aneka bentuk roti sumber hidangan
Berbagai jenis roti Sumber Hidangan, isi maupun kosong

Tekstur dari roti yang dihidangkan sangat berbeda dari roti kebanyakan. Warnanya kuning, seratnya besar-besar, tidak lembut sama sekali justru terkesan agak keras dan agak susah digigit.  Katanya mama, roti disini sama sekali tidak menggunakan pelembut sama sekali dan tentu saja tidak menggunakan pengeras. Rasanya juga unik.  Baunya wangi banget.  Bagi gwe, ini pengalaman pertama gwe makan roti seperti itu. Kasarnya, makan aslinya roti kalau kata mama. See what else at there, keep reading 😉

Saya dikepang!

Entah apa yang merasuki Giffa, tiba-tiba dia mau mengepang rambutnya Dwiki. FYI, rambut dwiki ini panjang dan bergelombang jadi masih termasuk rambut yang masih “wajar” untuk dikepang. Lah, tapi kalau setelah itu Giffa mengepang rambut gwe apa jadinya?? ya begini nih

Bah, saking pendeknya, ikat rambut yang putih menutupi hasil kepangan. Dan kepangan dengan karet hijau membuat gw terlihat seperti Upin. fuh…. 😐

Btw, ini hasil kepangan untuk dwiki

Bagus yaa…entah mengapa mengingatkan gwe sama kepangan nenek gwe di rambutnya 😀

Rumah kedua bernama kos-kosan

Entah kenapa, anak kosan selalu diidentikan dengan kesusahan.  Susah makan, namanya juga anak kosan. Seret duit, namanya juga anak kosan.  Jarang mandi, namanya juga anak kosan. Tidur n makan gak teratur, namanya juga anak kosan.  Lama-lama, kata-kata “anak kosan” bisa jadi semacam excuse untuk kami, para “anak kosan”, untuk hidup secara tidak teratur 😀 .  Meskipun tinggal di kosan yang harga sewanya bisa mencapai lebih dari 1,5 jt/bln, ntah mengapa, karena punya predikat “anak kosan”, sering juga dikasihani sama anggota keluarga.

Tapi coba deh, kita-kita ini sebagai si anak kosan, merasa sesengsara itu kah “numpang” di rumah orang lain, berbagi atap dengan orang yang tidak dikenal (bahkan mungkin kamar atau kamar mandi), dan hidup selama bertahun-tahun dengan orang yang benar-benar baru dikenal? Hampir 4 tahun gwe memiliki predikat “anak kosan”, gwe akan menjawab, TIDAK!
See why i said that, keep reading this

air mata untuk kalian

Biasanya, aku membenci rasa sedih.
akan berlari kencang aku menghindarinya
Tapi hari ini, justru kuhadapi ia berulang kali

Biasanya, tak sudi aku tunjukkan air mata ini
akan berlari sejauh mungkin aku menutupinya
Tapi hari ini, air mata itu tumpah di hadapan kalian

Lihat?
Seistimewa itu lah kalian